MERUBAH DUNIA DENGAN MENULIS


  1. Merubah Dunia Salah Satunya Harus dengan Menulis

    PUISI seperti dikutip di atas ditorehkan di makam Ali Archam – teman sejawat Semaoen, H Misbach dan Tan Malaka - di tempat pembuangannya di Digul, Tanah Papua. Menjadi “tak hilang tanpa bekas”, ketika jejak langkah tulisnya dibaca dan terbaca kembali, yang tidak saja ditemukan sejarahnya, tetapi juga membongkar historiografi yang telah bertahan lama, sebagaimana telah dilakukan Takashi Shiraisi dalam membongkar historiografi ortodox setelah menelusuri kembali naskah-naskah yang ditulis para aktivis SI (Sarekat Islam) Merah yang utamanya berbasis di kota Semarang (SI Locaal Semarang/SI Afdeling Semarang).

    Takashi Shiraishi menjelaskan, Misbachlah – dan juga Mas Marco Kartodikromo, Semaoenn, serta Tan Malaka - yang mengingatkan kita akan kesalahan klasifikasi Nasionalisme, Islam, Komunisme itu dan memperingatkan kita akan pandangan nasionalis yang serampangan itu. Jika kita membuang klasifikasi dan pengamatan serampangan itu serta menghinda`f11rkan diri dari pandangan teleologis, maka pergerakan di perempat abad ke-19 akan muncul kembali dalam bentuknya sendiri yang khas. Di zaman pergerakan, pemimpin pergerakan berpikir, menulis, dan berkata serta bertindak sebagai orang pertama. Dicerahkan oleh kata-kata dan perbuatan mereka, rakyat melihat dunia dan bergerak. Akhirnya kita pun sekarang masih dapat melihat dunia mereka dengan mengikuti kata dan perbuatan mereka yang tergores dalam tulisan-tulisan yang mereka tinggalkan.

    Ketika banyak orang menganggap setiap komunis itu atheis dan menghalalkan segala cara, novel “Hikajat Kadiroen”, yang ditulis Semaoenn di penjara justru berkisah tentang Toehan Alloh, tempat meminta bantuan, memberikan rasa syukur, dan sumber dari yang halal dan haram maupun masalah dari kondrat yang tak terhindarkan.

    Atau tulisan dari H. Misbach di koran Medan Moeslimin: “Kami sebagai orang Islam wadjiblah dari djaoeh memboeka topi boeat tanda memberi trimakasih kepada Karl Marx jang menjadi penoenjoek djalan, karenanja kami bisa mengetahoei rintangan agama yang terbesar”….. "Ketahoilah, saja saorang jang mengakoe setia pada Igama dan djoega masoek dalam lapang pergerakan komunist, dan saja mengakoe bahoea tambah terbukanja fikiran saja di lapang kebenaran atas perintah Agama Islam itoe, tidak lain jalah dari sesoedah saja mempeladjari ilmoe kommunisme, hingga sekarang saja berani mengatakan djoega, bahoea kaloetnja kasalamatan doenia ini, tidak lain hanja dari djahanam kapitalisme dan imperialisme jang berboedi boeas itoe sadja, boekanja kasalamatan dan kemerdekaan kita hidoep dalam doenia in sadja, hingga kepertjajaan kita hal Igama poen beroesak djoega olhnja.

    Dalam teks laporan kongres Komintern yang ke-4 pada tahun 1922, Tan Malaka yang mewakili Indonesia, dalam pidatonya menyebutkan bahwa ia bersikeras bahwa Pan-Islamisme berarti "perjuangan nasional untuk memperoleh kebebasan.

    Bung Karno pernah berujar: “Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.” Mengapa kita membaca dan belajar pada sejarah, karena kalau tiada makna buat apa menghabiskan waktu untuknya. Paling tidak, dalam pengertian yang minimal, kita sedang tidak ingin mengulang kegagalan dan belajar pada keberhasilan untuk sebuah kemajuan, maka untuk itu kita belajar pada sejarah. Dengan sejarahlah pula, para pemikir, seperti Marx, Gramsci, Semaoenn, H. Misbach, Tan Malaka, hingga Manifesto kaum pergerakan selalu menampilkan kenyataan sejarah. Tuhanpun dalam kitab suci coba mengajari manusia dengan sejarah.

    Berbicara atas sejarah, bukannya kita sedang menghapalkan nama dan tanggal peristiwa dan itu selalu yang dianggap penting, oleh siapa, dan mengapa semua menganggapnya penting adalah kenyataan tentang pertanyaan pada pelajaran sejarah. Ketika History adalah His Story para penguasa untuk mengkukuhkan status dominan mereka via manipulasi sejarah dan praktek pembodohan. Tugas revolusioner kita adalah MEREBUT ALAT PRODUKSI PENGETAHUAN .

    Perebutan alat produksi pengetahuan dalam rangka membangun kritisisme dan emansipasi massa adalah dengan cara menciptakan intelektual dan ilmu pengetahuan yang berpihak kepada rakyat serta kemampuan membuka media propaganda bagi rakyat.

    Dalam diskusi sejarah, menarik sekali ucapan dari Dom Helder Camara: “Ketika Aku Memberi Makan Orang Lapar, Aku Disebut Orang Suci. Namun, Ketika Aku Bertanya Mengapa Orang Itu Lapar, Aku Disebut Komunis.” Ini menunjukan bagaimana kritisisme massa digebuk dengan stigmatisasi yang legitimasinya bersandar pada pdmalsuan sejarah. Maka merebut alat produksi pengetahuan juga berarti pembongkaran sejarah yang dijadikan legitimasi bagi penolakan atas kritisime massa dan penolakan atas kebijakan-kebijakan populis.

    Sejarah pergerakan, adalah di mana kita memperhatikan perkembangan masyarakat secara dialektis, sehingga kita dapat melihat ruh dan aliran darah dari pergerakan. Dalam konteks Hindia Timur, Pemerintahan Kolonial telah menyediakan Buitenzorg (Bogor) untuk mengamati dan mencari rumusan penghancuran bagi kaum pergerakan. Rumah Kaca, yang dimaksudkan Pramoedya Ananta Toer adalah maksud dari itu. Produk rumah kaca adalah sejarah pergerakan yang dilihat dari permukaan yang kemudian banyak dijadik`n referensi yang melahirkan apa yang oleh Takashi Shiraishi disebut sebagai historiografi ortodoks atau historiografi cangkokan yang melihat pergerakan dalam aliran Nasionalisme, Komunisme dan Islamisme.

    Ulasan tentang ideologi-ideologi kemudian menjadi sebuah “rumah-kaca” yang gagal memahami tentang bahwa para pelaku ideologi adalah orang yang sedang merespon dunia yang menurutnya bergerak dan diapun bergerak mempraktekan pergerakan dan dalam kenang-kenangan kita sekarang menjadi sebuah memori tentang sejarah pikiran yang bdrtindak. Kegagalan atas pemahaman tersebut lahir dari historiografi ortodox yang merupakan historiografi cangkokan. Yang boleh kita sebut sebagai ilmu sejarah dari kinerja intelijen pemerintah kolonial Hindia Belanda.



Pengertian Ayat Sajdah

Ayat sajdah terdiri dari dua kata, yaitu ayat dan sajdah (sujud). Secara etimologis ayat mempunyai beberapa arti, diantaranya adalah mukjizat, tanda, pengambilan pelajaran, urusan yang mengagumkan, dan bukti/dalil. Kata ayat juga terkait dengan bahasa Ibrani ‘oth dab kata Syiria ‘ath. Secara terminologis dalam kamus istila sufi, ayat diartikan sebagai tanda kebesaran Allah yang berada dalam diri dan di alam sekitar. Ayat juga berarti ayat yang merupakan bagian dari surat dalam teks al-Qur’an yang merupakan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, sehingga dengan membaca dan merenungkan tanda-tanda kebesaran ini, seseorang dapat kembali pada sumber wujudnya sendiri, yaitu Allah Yang Maha Kuasa.
Adapun pengertian ayat kaitannya dengan pembahasan penelitian ini seperti pemaknaan ayat menurut al-Zarqani adalah kelompok yang mempunyai permulaan dan penutup yang masuk dalam al-Qur’an. Sejalan dengan pengertian yang diberikan al-Zarqani, Ibrahim al-Abyari memberikan pengertian bahwa ayat adalah kelompok dari al-Qur’an yang terputus dari apa yang sebelumnya dan apa yang sesudahnya, dan ayat merupakan masalah tauqifi diambil dari Rasul SAW.
Kata sajdah merupakan masdar dari يسجد - س[سجدyang secara etimologis mempunyai arti “membungkuk dengan khidmat” (نحن خضعا ) . Adapun makna sujud secara epistimologis menurut al-Ragib al-Asfahani adalah tunduk dan menyembah kepada Allah, dan bermakna umum baik dilakukan oleh manusia, hewan ataupun benda-benda mati. Menurutnya sujud mempunyai dua makna yaitu, sujud dengan sukarela yang dilakukan manusia dan karenanya ia mendapat pahala dan sujud dengan terpaksa yang dilakukan oleh manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Al-Alusi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sujud secara umum adalah tunduk kepada kehendak dan keputusan Allah dan patuh atau taat kepada apa yang diperintahkannya. Pendapat lain mengatakan makna sujud yang sebenarnya adalah (وضع جبهة علي الأرض) “meletakkan dahi di atas tanah/bumi”. Makna sujud dalam istilah sufi adalah simbol lahiriyah dari peniadaan sang hamba (‘abd) di dalam Tuhan (Rabb). Simbol lahiriyah ini dilakukan dengan cara sujud yang merupakan posisi puncak dalam shalat. Hal ini merupakan sumber agung kerendahan hati, ketundukan dan kecintaan tanpa syarat kepada Allah SWT.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dikatakan, yang artinya Hendaknya engkau membantuku (demi tercapainya keinginanmu)terhadap dirimu dengan memperbanyak sujud. Jika demikian halnya yang dikatakan dalam hadis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sujud mampu menolong manusia untuk melatih jiwa agar menjadi suci. Sujud yang dimaksud oleh Rasul SAW dalam hadis ini bukan sekedar gerakan yang telah dikenal seperti yang biasa dilakukan dalam shalat, tetapi mempunyai makna yang dalam pada jiwa, sehingga terwujud didalamnya keagungan rahmat dan kasih sayang-Nya, dan rasa tunduk keagamaan, serta penyerahan diri yang mutlak bagi rahmat Allah yang terwujud pada perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya.
Dari pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa secara garis besar yang dimaksud dengan ayat sajdah adalah ayat-ayat al-Qur’an yang didalamnya menuturkan tentang sujud dan mempunyai makna ketundukan kepada yang Maha Pencipta sehingga dianjurkan untuk melakukan sujud pada saat membaca ataupun mendengar ayat-ayat yang termasuk sajdah tersebut.

Metode Membaca


Metode Membaca


  1. Pengertian Metode Membaca
    Metode diajukan sebagai cara-cara yang dapat digunakan pendidik untuk menyampaikan pesan (materi pelajaran) dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang dikehendaki. Jika dengan metode tertentu suatu tujuan tidak tercapai maka harus mencari atau menggunakan metode lain yang dapat mencapai suatu tujuan pendidikan. Metode hanya merupakan alat bukan tujuan.
    Pengertian metode menurut Tony Anthony dalam Akhlan Husen bahwa metode adalah tingkat penerapan teori-teori yang didasarkan pada satu jenis pendekatan, sehingga merupakan rancangan yang menyeluruh dari jenis ketrampilan apa yang dikuasai yang belajar, materi-materi apa yang harus digunakan, serta bagaimana penyusunan urutan materi penyajiannya (Supriatna, 1998: 87).
    Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa metode pengajaran adalah cara-cara guru mencapai tujuan pengajaran dari awal sampai akhir yang terdiri dari lima kegiatan pokok. Kegiatan tersebut adalah:
    1) Pemilihan bahan
    2) Penyusunan bahan
    3) Penyajian
    4) Pemantapan dan
    5) Penilaian formatif
    Membaca pada hakikatnya suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktifitas visual, berfikir, psikolingistik dan metakognitif. Sebagai proses visual membaca merupakan proses menerjemahkan symbol tulis (huruf) ke dalam kata-kata lisan. Sebagai suatu proses berfikir, membaca mencakup aktifitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis dan pemahaman kreatif. Pengajaran kata bisa berupa aktifitas membaca kata-kata dengan menggunakan kamus (Crawley dan mountain, 1995).
    Menurut Klein, dkk. (1996) mengemukakan bahwa definisi membaca mencakup (1) membaca merupakan suatu proses, (2) membaca adalah strategi, dan (3) membaca merupakan interaktif. Membaca merupakan suatu proses dimaksudkan informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna.

    Membaca adalah interaktif. Keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang bermanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang ingin dicapainya. Teks yang dibaca seseorang harus mudah difahami (readible) sehingga terjadi interaksi antara pembaca dengan teks (Rohim, 2007: 2-3).


    Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode praktis membaca adalah suatu pendekatan yang dilakukan dengan menggunakan buku “Praktis Membaca” yang disajikan untuk tahap pemula dalam belajar membaca.
    Sebagai orang tua dan sekaligus sebagai pendidik harus memperhatikan metode dan teknik sesuai dengan tingkat penguasaan anak.

    2) Jenis-jenis Pelaksanaan Metode Praktis Membaca
    Pelaksanaan metode praktis membaca dibagi menjadi dua tahap, yaitu membaca permulaan tanpa buku dan membaca permulaan dengan buku. Membaca tanpa buku diberikan dengan pertimbangan agar siswa hanya dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan. Misalnya menyimak cerita guru, Tanya jawab dengan guru, memperhatikan gambar yang diperlihatkan guru, membicarakan gambar dan sebagainya (Supriatna, 1998: 62).

    Dengan demikian secara pokok anak diharapkan telah mampu membaca kaliamt sederhana yang jumlah katanya paling banyak empat kata.
    3) Langkah-langkah pelaksanaan metode praktis membaca
    Pelaksanaan metode praktis membaca dibagi menjadi dua tahap yaitu:
    a. Membaca permulaan tanpa buku dan
    b. Membaca permulaan dengan buku.

    a. Membaca permulaan tanpa buku
    Pelajaran membaca permulaan tanpa buku dilaksanakan dengan pertimbangan agar anak yang baru masuk sekolah tidak langsung dibebani dengan masalah-masalah baru. Hal ini menjaga kemungkinan akan memberatkan diri anak serta mungkin pula menjadi penyebab anak enggan pergi sekolah.
    1) Cara Mengajarkan Membaca Tanpa Buku
    Bertitik tolak pada perkembangan kemampuan anak, maka terlebih dahulu kita lakukan pengamatan terhadap kemampuan berbahasa anak. Kegiatan ini kita lakukan untuk menjajaki kalimat-kalimat jenis apa, kata-kata dan istilah mana yang sering digunakan oleh anak-anak. Caranya ialah memperhatikan pembicaraan pembicaraan spontan dari anak-anak pada waktu mereka bermain-main sebelum pelajaran dimulai atau waktu luang dll.
    b. Membaca permulaan dengan buku
    Pelaksanaan pembelajaran membaca di TK Dharma Wanita Persatuan sukorejo terutama membaca permulaan dengan buku tidak dpat dipisahkan dengan pelajaran menulis permulaan, walupun membaca dan menulis merupakan dua kemampuan yang berbeda membaca bersifat reseptif sedangkan menulis bersifat produktif.
    Melalui membaca dapat mengembangkan berbagai nilai moral, kemampuan bernalar, serta kreatifitas. Untuk kemampuan menulis tidak diperoleh secara alamiah, tetapi melalui proses belajar mengajar. Untuk dapat menuliskan huruf sebagai lambing bunyi, siswa harus berlatih dari cara memegang alat tulis serta mengerakkan tanganya dengan memperhatikan apa yang harus dituliskan (di gambarkan).
    B. PENERAPAN METODE MEMBACA
    Pada pembahasan sebelumnya telah dikemukakan beberapa hal yang berkaitan dengan metode praktis membaca serta perkembangan bahasa. Maka dalam sub bab ini, secara khusus penulis akan mengkaji penerapan metode membaca pada di RA Mamba'us Sholihin Suci Manyar Gresik
    Kurikulum yang dikembangkan di Taman kanak-kanak menekankan pada pengenalan dalam kegiatan berbahasa anak, misalnya mengenalkan nama-nama anggota badan (kepala, tangan, kaki dan lain-lain) nama-nama benda yang ada disekitar sekolah sebagai menambah perbendaharaan kosa kata anak. Pada ketrampilan berbahsa dalam kegiatan menyimak dapat dibacakan cerita atau dongeng yang akrab dengan telinga anak. Pada kegiatan berbicara, anak ditunjukkan untuk memperkenalkan nam diri, nama orang tua, maupun cita-cita anak (Supriatna, 1998: 6).
    Mendeteksi atau melacak kemampuan berbahasa anak merupakan langkah awal dalam memahami perkembangan bahasa anak secara individual,
    Beberapa tingkah laku berikut dapat mendeteksi atau melacak untuk melihat kemampuan membaca anak:
    Anak sudah mulai senang atau gemar pada buku, Anak suka bertanya, Anak gemaar membuka buku-buku, Anak sudah minta dibacakan cerita atau buku, Anak senang bercerita, Anak bercerita atau berbicara dengan menggunakan gaya bahasanya sendiri, Anak dapat menceritakan gambar yang dibuatnya, Anak dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang sederhana, Anak ikut serta dengan orang t ua ketika sedang membaca Koran, majalah, atau buku lainnya, Anak membaca hal-hal yang dilihat dalam perjalanan, Anak mulai bertanya tenatang arti dan maksud suatu gambar (Depdiknas, 2000: 18-19).
    Jika anak mulai bisa mengucapkan kata-kata bahkan sudah mulai bisa berkomunikasi, dia akan selalu mempelajari apa yang sudah ditangkap melalui indranya. Jika sudah mulai bersekolah, kemampuan berbahsa anak sudah mulai luas. Apalagi kalau anak sudah mulai gemar membaca buku, kemampuan berbahasanya semakin mantap karena bertambahnya pengetahuan (Supriatna, 1998: 19).
    Pada usia TK (4-6 tahun) perkembangan kemampuan berbahasa anak ditandai oleh berbagai kemampuan sebagai berikut:
    1. Mampu menggunakan kata ganti saya dalam berkomunikasi.
    2. Memiliki berbagai perbendaharaan kata kerja, kata sifat, kata keadaan, kata Tanya dan kata sambung.
    3. Memajukan pengertian dan pemahaman tentang sesuatu.
    4. Mampu mengungkapkan pikiran, perasaan, dan tindakan dengan menggunakan kalimat sederhana.
    5. Mampu membaca dan mengungkapkan sesuatu melalui gambar .
    Perkembangan potensi tersebut muncul ditandai oleh berbagai gejala seperti senang bertanya dan memberikan informasi tentang berbagi hal, berbicara sendiri dengan atau tanpa menggunakan alat (seperti boneka, mobil mainan dan sebagainya), mencoret-coret buku tau dinding dan menceritakan sesuatu yang fantastik, gejala-gejala ini merupakan pertanda munculnya kepermukaan berbagai jenis potensi tersembunyi (hidden potency) menjadi potensi nampak (actual potency). Kondisi tersebut menujukkan berfungsi dan berkembangnya sel-sel saraf pada otak.
    Dengan demikian dapat penulis simpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan motode membaca, sedikit banyak mempunyai pengaruh yang dalam terhadap perkembangan berbahasa anak.

MOTIVASI BERPRESTASI

MOTIVASI BERPRESTASI
1.A. TIGA MOTIF SOSIAL MC. CLELLAND :
1.a.i. Motif beraffiliasi (affiliation motive) atau n-Aff
Yaitu motif yang akan mengarahkan tingkah laku seseorang dalam berhubungan dengan orang lain. Bagi dirinya keakraban dalam berhubungan dengan orang lain adalah tujuan utamanya dimana terdapat suasana yang penuh keakraban, santai, harmonis. Ia mempunyai perhatian besar terhadap diri orang lain, persoalan orang lain dihayati sebagaimana ia menghayati dirinya sendiri. Demikian pula toleransinya cukup besar.
Motif ini ditunjukkan melalui :
• Lebih suka bersama dan bergaul dengan orang lain dari pada sendirian
• Lebih mementingkan aspek-aspek interpersonal (hubungan manusia) dari pada aspek-aspek yang menyangkut tugas-tugas dalam pekerjaannya
• Berusaha mendapat persetujuan orang lain
• Lebih efektif bekerja dalam suasana bersahabat
Pemikirannya :
• Keinginan untuk mengadakan, memperbaiki atau memelihara persahabatan
• Keinginan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan persahabatan

1.a.ii. Motif berkuasa (power motive) atau n-Pow
Ialah motif yang menyebabkan seseorang ingin menguasai atau mendominir orang lain dalam berhubungan dengan lingkungannya. Ia senang apabila ia dapat bertindak dan berkuasa atas orang lain, dan orang-orang yang ia kuasai itu mau berbuat seperti apa yang ia katakan.
Motif ini ditunjukkan melalui :
• Aktif dalam organisasi politik
• Peka terhadap struktur unterpersonal (atasan-bawahan dll) dari suatu kelompok
• Mencoba membantu orang lain tanpa diminta dan atau diinginkan orang yang bersangkutan
• Menunjukkannya melalui tindakan-tindakan, kata-kata, dll.



Pemikirannya :
• Pemikiran untuk berbuat sesuatu yang menimbulkan perasaan kuat, baik yang positif maupun negatif bagi orang lain.
• Berusaha menguasai orang lain dengan mengatur tingkah laku atau keadaan hidup orang lain

1.a.iii. Motif berprestasi (achievement motive) atau n-Ach
Adalah motif yang mengarahkan tingkah lakunya dengan titik berat pada tercapainya suatu prestasi tertentu. Mencapai atau memperoleh ssuatu yang lebih baik adalah suatu kebutuhan yang sulit dihilangkan, ia akan berusaha terus sampai pada suatu saat ia memperoleh apa yang diinginkannya itu. Sesuatu yang ada dalam pikiran orang-orang yang memiliki motivasi berprestasi ini adalah suatu usaha, perjuangan agar ia bisa memperoleh prestasi.
Ciri-cirinya :
• Rick Taker
Menyukai pekerjaan-pekerjaan/tugas-tugas dengan tingkat kesulitan moderat. Kurang bersemangat pada pekerjaan/kegiatan yang terlalu mudah dan atau terlalu sulit.
• Task Result Oriented
Aktifitas instrumental yang khas dan energik !
Memiliki motivasi/dorongan yang kuat untuk berhasil menyelesaikan tugasnya, tekun, keras hati, bekerja keras dan memiliki kemantapan hati untuk melakukannya.
Melihat keberhasilan/kegagalan bukan sebagai faktor yang disebabkan pihak luar dirinya, tetapi dirinyalah sebagai pengendalinya.
Bagi mereka berkarya tidak hanya sesuai target bahkan kalau bisa lebih baik daripada target. Dia selalu memiliki naluri senang, bahagia dan puas melakukan yang terbaik, tidak mengenal setengah-setengah.
• Self Confidence
Individual responsibility (tanggung jawab pribadinya) tinggi, demikian juga apabila bekerja dalam suatu kelompok, tanggung jawab terhadap kelompok juga tinggi, dimana sasaran kelompok dirasakannya sebagai sasaran pribadinya.
Mereka mempercayai kemampuannya sendiri, kemampuan bekerja sendiri, dapat bersikap optimis, dinamis, serta memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin.
• Originiality
Kemampuan untuk menemukan sesuatu yang asli dari pemikirannya sendiri, mampu menciptakan hal-hal yang baru yang tidak terikat pada pola yang ada. Kreatif dan cakap dalam berbagai bidang dan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup banyak.



• People Oriented
Mampu mempergunakan orang lain sebagai feed back atau umpan balik bagi kepentingannya, fleksibel, mampu menerima kritik atau pendapat yang diberikan orang lain terhadap dirinya.
Memandang penting “Knowledge of Result” (mengetahui hasil) sebagai feed back untuk perencanaan masa depan
• Future Oriented
Mempunyai antisipasi kemungkinan-kemungkinan di masa datang

Sebenarnya ketiga motif tersebut ada dalam diri seseorang, namun kekuatan motif tersebut pada tiap orang akan berbeda atau tidak sama. Biasanya hanya satulah kuat, sehingga tampil ke dalam suatu bentuk tingkah laku yang nyata (overt) dan hal inipun tidak terlepas dari keadaan atau situasi lingkungan, apakah memungkinkan atau tidak lahirnya bentuk tingkah laku yang dikuasai oleh motif itu.
1.B. PERAN N-ACH DALAM PEMBANGUNAN UMAT
Jochen Roepke berpendapat bahwa suatu bangsa akan cepat berkembang apabila bangsa itu memperbanyak wiraswastawan (orang yang berorientasi pada kebutuhan untuk berprestasi) sebagai tenaga kreatif pelaksana perubahan. Hal ini telah dibuktikan oleh Jepang suatu negara kecil (dibandingkan Indonesia) dan porak-poranda akibat bom di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945, dalam waktu relatif singkat yaitu 30 tahun telah mampu membangun negaranya, bahkan kini menjadi kiblatnya perkembangan teknologi canggih mutahir. Kunci keberhasilan Jepang itu ternyata terletak pada kemampuan Jepang menciptakan dan menyediakan wiraswastawan besar sebanyak 2% dan wiraswastawan kecil sebanyak 20% dari jumlah penduduknya.
Maslow menyatakan bahwa masyarakat yang sedang mundur keadaannya, dibutuhkan seratus wiraswastawan bukan ahli ekonomi, politikus atau insinyur.
Masyarakat yang memiliki nilai kewiraswastaan bukan berarti masyarakat yang kaya akan materi, tetapi masyarakat yang kaya akan motivasi kerja. Seorang wiraswastawan adalah seorang innovator yang akan mampu menciptakan cara-cara baru, metode baru, produksi baru, pasar-pasar baru, sehingga mampu meratakan dan menaikkan pendapatan masyarakat.

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN TENTANG UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN EFEKTIFITAS BELAJAR MENGAJAR

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Suatu kondisi yang optimal dapat tercapai jika guru mampu siswa dan sarana pengajaran serta mengedalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan persyaratan mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar.
Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha pengorganisasian lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajar yang menimbulkan proses belajar (Uzer Usman, 1988:6).

Dari kutipan di atas mengandung makna bahwa gurulah yang mengatur mengawasi dan mengelola kelas agar tercapainya proses belajar mengajar yang berarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Syarifudin Nurdin bahwa guru sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar, memiliki posisi yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran (Syarifudin Nurdin, 2002:1).
Di samping itu pula guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan lingkungan yang baik adalah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuannya (Uzer Usman, 1998:10).
Dari beberapa keterangan di atas telah menunjukan betapa pentingnya suatu pengelolaan kelas yang baik agar tercapainya proses belajar mengajar yang akhirnya berdampak baik terhadap pencapaian prestasi belajar mengajar siswa atau anak didik. Karena dorongan itulah maka perlu adanya suatu penelitian yang mengamati tentang usaha apa yang akan dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas maka dalam penelitian ini penulis mencoba mengamati guru dalam mengelola kelas agar tercapainya proses belajar mengajar.

B. Rumusan Masalah
Dari beberapa uraian diatas,timbul beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Usaha-usaha apa yang dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas ?
2. Bagaimana proses pelaksanaan belajar mengajar yang efektif di sekolah dasar ?
3. Bagaimana memanfaatkan efektifitas waktu belajar siswa ?

C. Tujuan Pembahasan
Dari uraian diatas,penulis mempunyai tujuan pembahasan,diantaranya sebagai berikut :
1. Mencoba meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugasnya
2. Mahasiswa mencoba melaksanakan tugasnya sebagai calon pendidik (Guru) untuk memberikan beberapa variasi metode belajar,guna menghindari kejenuhan siswa dalam belajar.
3. Meningkatkan produktifitas waktu belajar siswa,guna tercapainya efektivitas belajar siswa dalam kaitannya denga pendidikan Nasional.

D. Metode Pembahasan
Metode yang di gunakan penulis dalam menyusun karya ilmiah ini adalah metode studi pustaka, yaitu mengutip, menyusun serta merumuskan kembali pernyataan para ahli dalam bidang pendidikan.

BAB II
KAJIAN TEORITIS

A. Hakikat Guru Sebagai Pembimbing Belajar Dan Pendidikan
Sebagai mana telah diuraikan pada pendahuluan, bahwa mendidik ialah meminpin anak ke arah kedewasaan, jadi yang kiata tuju dalam pendidikan ialah kedewasaan si anak. Tidak mungkin Seorang pendidik membawa anak kepada dewasanya bukan hanya dengan nasihat-nasihat, perintah-perintah, anjuran-anjuran dan larangan-larangan saja. Melainkan yang utama ialah dengan gambaran kedewasaan yang senan tiasa dapat dibayangkan oleh anak dalam diri pendidiknya didalam pergaulan mereka (antara pendidik dan anak didik).
Seiring berjalannya waktu suatu pendidikan berubah mengikuti perkembangan jaman. Sehingga sampailah pada saat dewasa ini, guru bukan merupakan satu-satunya kontrol sosaial, melainkan dalam hal ini guru mempunyai posisi sebagai pasilitator setelah menjalankan fungsinya sebagai pelatih, pengajar dan pembimbing.
Manusai sejak lahir sudah di anugrahi fitrah, untuk membina dan mendidik serta melatih anak agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa.
Ini digaskan dalam Al- Qur’an QS. Ar-Rum ayat 30.





Artinya : Maka hendaklah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah Fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Depag RI (992: 615).
1. Kode Etik Guru
Kode etik dapat diartikan tatalaksana pelaksana guru dalam Mengembangkan misi pendidikan. Adapun kode etik tersebur :
1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk pembangunan yang ber-Pancasila.
a. Guru menghendaki hak individu dan kepribadian anak didiknya masing-masing.
b. Guru berusaha mensukseskan pendidikan yang serasi (jasmaniah dan rohaniah) bagi anak didiknya.
c. Guru harus menghayati dan mengamalkan Pancasila.
d. Guru dengan bersungguh-sungguh mengintensifkan Pendididkan Moral Pancasila bagi anak didiknya.
e. Guru melatih dalam memecahkan masalah-masalah dan membina daya kreasi anak didik agar kelak dapat menunjang masyarakat yang sedang membangun.
f. Guru membantu sekolah di dalam usaha menanamkan pengetahuan keterampilan kepada anak didik.
2. Guru memiliki kejujuran professional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
a. Guru menghargai dan memperhatikan perbedaan dan kebutuhan anak didiknya masing-masing.
b. Guru Hendaknya luas di dalam menerapkan kurukulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
c. Guru memberi pelajaran di dalam menerapkan kurikulum tanpa membeda-bedakan jenis dan posisi orang tua muridnya.
3. Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
a. Komunikasi guru dan anak didik di dalam dan di luar sekolah dilandaskan pada rasa kasih saying.
b. Untuk berhasilnya pendidikan, maka guru harus mengetahui kepribadian anak dan latar belakang keluargannya masing-masing.
c. Komunikasi guru ini hanya diadakan semata-mata untuk kepentingan pendidikan anak didik.
4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
a. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah sehingga anak didik betah berada dan belajar di sekolah.
b. Guru menciptakan hubungan baik dengan orang tua murid sehingga dapat terjalin pertukaran informasi timbal balik dengan anak didik.
c. Pertemuan dengan orang tua murid harus diadakan secara teratur.
5. Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
a. Guru memperluas pengetahuan masyarakat mengenai profesi keguruan.
b. Guru turut menyebarkan program-program pendidikan dan kebudayaan kepada masyarakat sekitarnya,sehingga sekolah tersebut turut berfungsi sebagai pusat pembinaan dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan di tempat itu.
c. Guru harus berperan agar dirinya dan sekolahnya dapat berfungsi sebagai unsur pembaru bagi kehidupan dan kemajuan daerahnya.
d. Guru turut bersama-sama masyarakat sekitarnya di dalam beraktivitas.
e. Guru mengusahakan terciptanya kerja sama yang sebaik-baiknya antara sekolah, orang tua murid, dan masyarakat bagi kesempurnaan usaha pendidikan atas dasar kesadaran bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah,orang tua murid dan masyarakat.
6. Guru secara sendiri-sendiri dan atau bersama-sama Mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
a. Guru melanjutkan studinya dengan :
1. Membaca buku-buku
2. mengikuti lokakarya,seminar,gerakan kopersi,dan pertemuan-pertemuan pendidikan dan keilmuan lainnya.
3. mengikuti penataran
4. mengadakan kegiatan-kegiatan penelitian.
b. Guru selalu bicara, bersikap, dan bertindak sesuai dengan martabat profesinya.
7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antar sesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan.
a. Guru senantiasa bertukar informasi,,pendapat,saling menasihati dan Bantu membantu satu sama lainnta,baik dalam kepentingan pribadi maupun dalam menunaikan tugas prfesinya.
b. Guru tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan nama baik rekan-rekan seprofesinya dan menunjang martabat guru baik secara keseluruhan maupun pribadi.
8. Guru secara bersama-sama memelihara,membina,dan meningkatkan organisasi guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
a. Guru menjadi anggota dan membantu organisasi guru yang bermaksud membina profesi dan pendidikan pada umumnya.
b. Guru senantiasa berusaha meningkatkan persatuan diantara sesama pengabdi pendidikan.
c. Guru senantiasa berusaha agar menghindarkan diri dari sikap-skap,ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan yang merugikan organisasi.
9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerinah dalam bidang pendidikan.
a. Guru senantiasa tunduk terhadap kebijaksanaan dan ketentuan-ketentuan pemerintah dalam bidang pendidikan.
b. Guru melekukuan tugas profesinya dengan diplin dan rasa pengabdian.
c. Guru berusaha membantu menyebarkan kebijaksanaan dan program pemerintah dalam bidang pendidikan kjepada orang tua murid dan masyarakat sekitarnya
d. Guru berusaha menunjang terciptanya kepemimpinan pendidikan di lingkungan atau di daerah sebaik-baiknya.
(Dikutip dari buku landasan Organisasi PGRI)
2. Guru sebagai pembimbing, pengajar dan pendidikan
Banyak diantara guru yang merasa bahwa pekerjaan sebagai guru adalah rendah atau hina jika dibandingkan dengan pekerjaan kantor atau bekerja disuatu PT. Hal ini di sebabkan pandangan masyarakat terhadap guru masih sempit dan ficik, suatu pandangan yang umumnya yang bersifat meteriallistik, hanya pada keduniawian belaka.
Dari uraian dimuka telah jelas bahwa pekerjaan guru itu berat, tetapi luhur dan mulia. Tugas guru tidak ada “mengajar”,teapi juga “mendidik”.maka untuk melakukan tugas sebagai guru,tidak sembarangan orang dapat menjalankannya.sebagai guru yang baik harus memiliki syarat-syarat yang di dalam undang-undang No 12 tahun 1945 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah untuk seluruh Indonesia,pada pasal 15 dinyatakan tentang guru sebagai berikut:
“Syarat utama untuk menjadi guru,selain ijazah dan syarat-syarat yang mengenai kesehatan jasmani dan rohani,ialah sifat-sifat yang yang perlu untuk dapat memberi pendidikan dan pengajaran seperti yang dimaksud dalam pasal 3,pasal 4 dan pasal 5 undang-undang ini”
Di samping persyaratan diatas,tentu masih banyak syarat yang lain yang harus dimiliki guru jika kita menghendaki agar tugas atau pekerjaan guru mendatangkan hasil yang lebih baik.

B. Manajemen Waktu Belajar Siswa
Waktu belajar merupakan masa dimana para siswa mendapatkan pengajaran. Suatu tujuan pendidikan akan senantiasa dapat tercapai dengan baik apabila di tunjang oleh alokasi waktu yang baik,akan tetapi efektivitas waktu bukan satu-satunya factor penunjang keberhasilan pendidikan.lingkungan sebagai bentuk pendidikan informal juga dapat mempengaruhi terwujudnya suatu tujuan pendidikan.
Proses pendidikan senantiasa harus mengacu kepada manajemen atau alokasi waktu yang baik.hal ini berarti waktu sebagai Batasan (kontrol) proses berjalannya suatu pendidikan.
C. Proses belajar mengajar
1. Pengertian belajar
Terdapat berbagai sumber mengenai pengertian belajar,diantaranya sebagai berikut :
a. menurut Reber pengertian belajar di bagi ke dalam dua definisi ,yaitu:
- “Belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan”
- “Belajar merupakan suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatip langgeng sebagai hasil latihan,” (Muhibbin Syah:1995:90)
b. Menurut Sardiman (1986:23) bahwa “Belajar adalah proses interaksi natara diri manusia berwujud pribadi, fakta, konsep atau teori”.
c. Menurut Hoard kinglay (1957:12) bahwa “Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau di rubah melalui pratek dan pengalaman”.
2. Kesiapan Belajar
Setiap bahan pelajaran dapat diajarkan pada anak secara epektif bila sesuai dengan tingkat perkembangan anak tersebut ada tiga masalah penting berkenaan dengan penyesuaian bahan ajar dengan perkembangan anak diantaranya sebagai berikut :
a. Perkembangan intelak
Hasil penelitian berkenaan dengan perkembangan intelek anak menunjukan bahwa tiap tingkat perkembangan mempunyai karakteristik tertentu tentang cara anak melihat lingkungannya dengan cara memberi arti bagi doiri sendiri.
b. Kegiatan belajar
Dalam mempersiapkan bahan pelajaran Biasanya kita susun bahan pelajaran yaitu yang umumnya disebut sebagai satuan pelajaran.
c. Sepiral kurikulum
Kurikulum bukan sesuatu yang setatis tertutup, tetapi merupakan sepiral terbuka. Kurikulum memiliki struktur bahan ajar, yang disusun atau dibentuk disekitar prinsip-prinsip, masalah-masalah dan nilai-nilai dalam masyarakat. Kurikulum selalu membutuhkan baik anak didik maupun masyarakat sekitarnya.

3. Minat dan motif belajar
Pembangktan motif belajar pada anak, sukar dilaksanakan apabila proses belajar lebih menekankan pada satuan kurikulum,sistem kenaikan kelas,sistem Ujian,serta menekankan kontiunitas dan pendalaman belajar.
Mengenai pemusatan perhatian dan minat belajar terletak dalam sustu kontinum yang bergerak dari sikap apatis atau tidak menaruh minat sampai dengan yang sangat berminat.Minat atau perhatian ini sangat erat kaitannya dengan proses belajar siswa di sekolah.
Pembangkitan minat belajar siswa ada yang bersifat sementara (jangka pendek).dan ada juga yang bersifat menetap (jangka panjang).
Beberapa hal yang dapat diusahakan untuk membangkitkan belajar pada anak yaitu pemilihan bahan pelajaran yang berarti pada anak menciptakan kegiatan belajar yang dapat membangkitkan dorongan untuk menemukan (Discovery),menerjemahkan apa yang dapat diajakan dalam bentuk pikiran yang yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Komponen Proses Belajar Mengajar
Sebagaimana telah di kemukakan pada uraian bab II, bahwa belajar merupakan, suatu proses perubahan tingkah laku indifidu melalui interaksi dengan lingkungan (Oemar Hamaliah, 1978:50). Ini berarti proses tercapainya suatu tujuan pendidikan sangat di pengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: bentuk pendidikan
metode pendidikan, bahan kajian pendidikan, profesionalisme pendidik (Guru). Maka dalam kesempatan ini penulis mencoba memaparkan beberapa upaya dalam meningkatkan kinerja guna tercapainya prestasi belajar yang membanggakan.
Bentuk pendidikan baik informal (Lingkungan), non formal (keluarga), maupun formal (Sekolah) merupakan salah satu penunjang tercapainya suatu tujuan pendidikan maka dalam hal ini pendidikan memberikan stimulasi yang kuat terhadap proses pembelajaran itu sendiri bentuk pendidikan tertentu akan sangat mempengaruhi pembelajaran siswa di sekolah sebuah bentuk pendidikan yang memegang erat tujuan pendidikan nasional senantiasa akan mencapai tujuan itu sendiri dengan baik.
Pendidikan ialah pimpinan orang dewasa terhadap anak dalam perkembangannya ke arah dewasaan. M. Ngalim Purwanto (1998:19) bahwa tujuan pembelajaran di sekolah ialah membawa anak pada kedewasaannya , yang berarti ia hurus dapat menentukan diri sendiri dan tanggung jawab sendiri.
Namun pada kenyataannya di lapangan anak belum mengenal diri sendiri “Aku” baru pada puberitas anak mulaa mengenal “Akunya”, mulai Memilih dan mengenal nilai-nilai hidup.

B. Proses Belajar Siswa
Kegiatan belajar tidak dapat di lepaskan dari belajar, karena keduanya merupakan dari dua sisi dari sebuah mata uang. Hawa Syaodih (2005:131).
belajar merupakan suatu upaya yang dilakukan guru agar siswa belajar. Apa bila kita mengkaji teori-teori belajar pada bab II, hampir seluruhnya di kembangkan atau bertolak diri dari belajar.
1. Belajar intuitif
Pengamatan menunjukan bahwa dalam berbagai kegiatan belajar penelitian di sekolah, tekanan lebih banyak diberikan pada kemampuan untuk memformulasikan secara eksfisit, dan pada kemampuan anak memproduksikan penguasaan anak secara verbal dan numerical.
Berpikir intuitif tidak memiliki langkah-langkah yang dapat di rumuskan secara pasti dan teliti, lebih merupakan suatu monuver yang di dasarkan pada persepsi inplisif dari keseluruhan masalah.
Intusi adalah penguasaan dan pengenalan tak langsung dengan menggunakan metode formal analisis dan pembuktian-pembuktian.
2. Belajar bermakna
Ausubel Robinson (1969) membedakan dua dimensi dari proses belajar, yaitu dimensi cara menguasai pengetahuan dan cara menghubungkan pengetahuan baru dalam struktur ide yang telah ada.
Dalam belajar menerima keseluruhan bahan pelajaran di sejikan kepada si pelajar dalam bentuk yang sudah sempurna, pada proses pembelajaran discovery learning (mencari) karena bahan pelajaran di sajikan belum selesai, maka si pelajar harus mencari menyelsaikan sendiri.
Ada dua hal penting dalam konsep belajar bermakna, yaitu stuktur kognitif dan materi pengetahuan baru. Stuktur kognitif adalah segala pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan belajar yang lalu.
Syarat dalam proses pembelajaran bermakna adalah:
a. Materi yang di pelajari harus dapat dihubungkan dengan struktur kognitif secara beraturan karena adanya kesamaan isi.
b. Siswa harus memiliki konsep yang sesuai dengan materi yang akan dipelajari.
c. Siswa harus mempunyai kemajuan atau motif untuk menghubungkan konsep tersebut dengan stuktur kognitifnya.
Belajar bermakna akan menghasilkan konsep-konsep, ide-ide baru yang punya makna, penuh arti, jelas nyata pembedaannya dengan yang lain. Dengan belajar bermakna, siswa akan menguasai dan Mengingat konsep-konsep inti.
Maka merupakan isi dari stuktur kognitif,yang terjadi karena materi yang memiliki kebermaknaan potensial di satukan dengan struktur kognitif.

C. Kesiapan Belajar
Bahan pelajar diajukan kepada anak semua efektif bila sesuai dengan tingkat perkembangan anak tersebut. Mengerjakan suatu bahan pelajaran kepada anak adalah memprensentasikan strutur bahan pelajaran sesuai dengan cara anak memandang atau mengartikan bahan pelajaran tersebut.
Pengajaran merupakan suatu translation suatu dugaan umum bahwa ide atau konsep dapat di sepresikan dengan sebenar –benarnya dan sebaik-baiknya dengan tingkat anak pada tingkat usia tertentu.
Menurut Piaget (2005:142) ada empat tingkat perkembangan anak, yaitu
a. Tingkat sensory motor: masa lahir sampai dengan 2 tahun merupakan tingkat perkembangan kemauan bergerak dan merespon terhadap rangsangan.
b. Tingkat preoperasional: masa 2 sampai 7 tahun yaitu bentuk hubungan antara pengalaman dengan kegiatan.
c. Tingkat anak sekolah: masa 7 sampai 11 tahun merupakan tingkat operasional yang berbeda dengan tingkat pertama yang semeta-mata aktif.
d. Tingkat formal operation: masa 11 sampai 14 thun, merupakan kegiatan intelektual anak di usia ke atas kemampuan berpariasi pada tingkat hepotesis dan bukan lagi pada tingkat pengalaman atau terbatas pada apa yang telah dikenalkan.
Sebuah proses pembelajaran siswa akan senantiasa efektif apabila di tunjang oleh beberapa komponen pendidikan diantaranya sebagai berikut:
1. Perencanaan pengajaran
Perencanaan di maksudkan agar program pengajaran Hendaknya dapat menjadikan guru lebih siap dalam mengajar dalam perencanaan yang matang. Dalam pengajaran sekurang-kurangnya harus mempersiapkan hal-hal tersebut:
a. Tujuan
b. Bahan pelajaran
c. Kegiatan belajar mengajar
d. Metode, media dan sumber
Mengenai kelima komponen ini Seorang guru dituntut untuk dapat mempersiapkan atau membuat perencanaan pengajaran dengan mempertimbangkan dan memperhatikan kebutuhan siswa serta perkembangan intelektual dan imosionalnya.
2. Penyesuaian program dengan situasi kelas
Program pengajaran adalayh pengembangan kurikulum pada taingkat kelas yang dalam pelaksanaannya yang bersipat plesibel ini berarti perkembangan kurikulum tingkat intitusi pengembangan kurikulum tingkat bidang studi (GBPP), termasuk perkembangan kurikulum tingkat kelas (Program Pengajran), dalam pelaksanaannya menghendaki penyesuaian, antara lain dengan situasi kelas.
Pentingnya penyesuaian program pengajaran ini dengan situasi kelas ini karena digunakannya asas lingkungan.
3. Penyesuaian jenis interaksi belajar mengajar
Hal yang penting untuk di perhatikan guru kelas perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran ialah interaksi belajar mengajar yang berlangsung selama proses belajar mengajar. Yang perlu mendapat perhatian guru selama dilaksanakannya program pengajaran dalam hal interaksi belajar mengajar ini ialah penggunaan berbagai jenis interaksi belajar mengajar ke arah yang optimal dengan demikian, interaksi belajar mengajar yang berlangsung tidak hanya guru kepada siswa saja, tetapi juga interaksi timbal balik antara guru dan siswa.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari beberapa uraian di atas,maka dapat disimpulkan yaitu sebagai berikut :
1. Profesionalisme Guru dalam mengalokasikan waktu belajar siswa didorong oleh rasa tanggung jawab mereka sebagai tenaga pendidik yang harus mencapai tujuan pendidikan semaksimal mungkin yang sesuai dengan GBPP yang berlaku
2. Proses belajar mengajar yang di tunjang oleh loyalitas dan disiplin tinggi akan menciptakan kegiatan belajar mengajar yang lancar dan kondusif. Hal itu karena tidak lepas dari peranan yang besar dari guru-guru dalam mengelola kelas
3. Untuk mencapai tujuan pembelajaran siswa,perlu adanya Variasi metoda pembelajaran siswa, guna membangkitkan minat dan bakat belajar siswa dalam kaitannya dengan pendidikan Nasional.

B. Saran
1. Hendaknya guru-guru yang mengajar lebih meningkatkan lagi peranannya dalam pengelolaan kelas, sehingga dengan demikian akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa
2. Hendaknya untuk kelancaran KBM, para siswa juga ikut berperan aktif dalam KBM sehingga akan terjalin suatu hubungan yang harmonis antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa lainnya.
3. Untuk kelancaran KBM hendaknya lembaga menyediakan sarana dan fasilitas yang mendukung kegiatan belajar mengajar.

MAKALAH PENGELOLAAN KELAS

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Penyusun bersyukur kepada Ilahi Rabbi yang telah memberikan hidayah dan inayah-Nya, sehingga makalah dapat diselesaikan walau dalam keadaan sederhana.
Makalah ini disiapkan untuk memenuhi tugas kelompok yang diberikan oleh Dosen yang memegang pelajaran ini di Sekolah Tinggi Agama Islam Balikpapan. Disadari bahwa penyusunan makalah terdapat banyak kelemahan dan kekurangan di sana-sini, oleh karena itu penyusun mengharapkan kritikan yang konstruktif dari pembaca guna kesempurnaan makalah ini pada masa mendatang.
Semoga saja makalah ini dapat bermanfaat bagi para Mahasiswa, dan pembaca terutama bagi penyusun. Amien Ya Rabbal Alamien.






A. PENDAHULUAN
Harapan yang tidak pernah sirna dan selalu guru tuntut adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat di kuasai oleh anak didik secara tuntas. Ini merupakan masalah yang cukup sulit yang dirasakan oleh guru. Kesulitan itu di karenakan anak didik bukan hanya sebagai individu dengan segala keunkannya, tetapi mereka juga sebagai makhluk sosial dengan latar belakang yang berlainan. Paling sedikit ada tiga aspek yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lainnya, yaitu aspek intelektuals, psikologis dan biologis.
Ketiga aspek tersebut diakui sebagai akar permasalahan yang melahirkan bervariasinya sikap dan tingkah laku anak didik di sekolah. Hal itu pula yang menjadi tugas yang cukup berat bagi guru dalam mengelola kelas dengan baik. Keluhan-keluhan guru sering terlontar karena hanya masalah sukarnya mengelola kelas, tujuan pengajaranpun sukar untuk dicapai. Hal ini kiranya tidak perlu terjadi, karena usaha yang dapat dilakukan masih terbuka lebar. Salah satu caranya adalah dengan meminimalkan jumlah anak didik di kelas dan penataan ruang kelas.
Pengelolaan kelas yang baik akan melahirkan interaksi belajar mengajar yang baik pula. Tujuan pembelajaran pun dapat dicapai tanpa menemukan kendala yang berarti. Dengan tercapainya tujuan pembelajaran, maka dapat dikatakan bahwa guru telah berhasil dalam mengajar. Keberhasilan kegiatan belajar mengajar tentu saja diketahui setelah diadakan evaluasi dengan seperangkat item soal yang sesuai dengan rumusan beberapa tujuan pembelajaran. Sejauhmana tingkat keberhasilan belajar mengajar.
Demikianlah beberapa permasalahan yang diuraikan secara umum untuk memberikan pemahaman awal.

B. PENATAAN RUANG KELAS
Agar tercipta suasana belajar yang menggairahkan, perlu diperhatikan pengaturan/penataan ruang kelas belajar. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk bekelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan :
- ukuran dan bentuk kelas
- bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa
- jumlah siswa dalam kelas
- jumlah siswa dalam setiap kelompok
- jumlah kelompok dalam kelas
- komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita)
(Conny Semawan,dkk., 1985 ;64)
Dalam masalah penataan ruang kelas ini uraian akan di arahkan pada pembahasan masalah pengaturan tempat duduk, pengaturan alat-alat pengajaran, penataan keindahan dan kebersihan kelas, dan ventilasi serta tata cahaya. Tetapi yang akan di bahas pada makalah ini hanya tentang pengaturan tempat duduk.

C. PENGATURAN TEMPAT DUDUK
Dalam belajar siswa memerlukan tempat duduk. Tempat duduk mempengaruhi siswa dalam belajar. Bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa akan dapat belajar dengan tenang.
Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan sekarang bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk dapat di duduki oleh seorang siswa, adapula satu tempat diduduki oleh beberapa orang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu ukurannya jangan terlalu besar agar mudah di ubah-ubah formasinya. Ada beberapa bentuk formasi tempat duduk yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. Apabila pengajaran itu akan ditempuh dengan metode ceramah, maka tempat duduknya sebaiknya berderet memanjang kebelakang.
Sudirman N (1991 ;318) mengemukakan beberapa contoh formasi tempat duduk, yaitu posisi berhadapan, posisi setengah lingkaran, dan posisi berbaris ke belakang. Masalah ini sebnarnya akan berhubungan dengan permasalahan siswa sebagai individu dengan perbedaan pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Tetapi, di dalam perbedaan dari ketiga aspek itu ada juga terselip persamaannya.
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (1991 ; 108) melihat siswa sebagai individu dengan segala perbedaan dan persamaannya. Pada intinya berisikan ketiga aspek di atas. Persamaan dan perbedaan dimaksud adalah :
1.Persamaan dan perbedaan dalam kecerdasan (inteligensi).
2.Persamaan dan perbedaan dalam kecakapan
3.Persamaan dan perbedaan dalam hasil belajar
4.Persamaan dan perbedaan dalam bakat
5.Persamaan dan perbedaan dalam sikap
6.Persamaan dan perbedaan dalam kebiasaan
7.Persamaan dan perbedaan dalam pengetahuan/pengalaman
8.Persamaan dan perbedaan dalam ciri-ciri jasmaniah
9.Persamaan dan perbedaan dalam minat
10.Persamaan dan perbedaan dalam cita-cita
11.Persamaan dan perbedaan dalam kebutuhan
12.Persamaan dan perbedaan dalam kepribadian
13.Persamaan dan perbedaan dalam pola-pola dan tempo perkembangan
14.Persamaan dan perbedaan dalam latar belakang lingkungan.
Berbagai persamaan dan perbedaan kepribadian siswa di atas, berguna dalam membantu usaha pengaturan siswa di kelas. Terutama berhubungan dengan masalah bagaimana pola pengelompokan siswa guna menciptakan lingkungan belajar aktif dan kreatif, sehingga kegiatan belajar yang penuh kesenangan dan bergairah dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama.
Penempatan siswa memerlukan pertimbangan pada aspek postur tubuh siswa, dimana menempatkan siswa yang mempunyai tubuh tinggi atau rendah, dimana menempatkan siswa yang mempunyai kelainan

D. PENUTUP
Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan interpresonal yang baik antar guru dan anak didik dan anak didik dengan anak didik, merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif.







DAFTAR PUSTAKA
Dimyati dan Mudjiono, 1999 “Belajar dan Pembelajaran”, Cetakan Pertama, Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.

Suharsimi Arikunto, 1980 “Pengelolaan Kelas dan Siswa” Cetakan Kedua, Jakarta : Penerbit Rajawali

Suharsimi Arikunto, 1993 “Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi”, Cetakan kedua, Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.

Syaiful bahri Djamarah dan Aswan Zain, 1997, “Strategi Belajar Mengajar”, Cetakan Pertama, Jakarta : Penerbit Rineka Cipta

MAKALAH LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR


MAKALAH LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR
Makalah ini Diajukan
Untuk Diskusi Kelas Mata Kuliah Tekhnologi dan Media Pembelajaran

Pembimbing:
Drs. Sufyan, S.Ag., M.Pd.I

Disusun oleh:
Suheri
Ahmad Efendi
Deny Dermawan

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT KEISLAMAN ABDULLAH FAQIH
Suci Manyar Gresik
2008-2009

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Selain sebagai habitat hidup ternyata lingkungan (alam) juga berfungsi sebagai sumber belajar, karena sebagian besar sains yang dikatakan sebagai pecahan dari filsafat itu mengkaji tentang alam lingkungan beserta penghuninya.
Dalam rangka lebih menyukseskan target dalam dunia pendidikan, sangat perlu memperhatikan sarana dan prasarananya, baik dari sisi psikologi sampai dalam bentuk material. Dalam makalah ini penulis mencoba membahas tentang lingkungan sebagai sumber pembelajaran.
B. Rumusan Masalah
Dengan adanya sedikit gambaran di atas, penulis bias menarik beberapa icon yang kiranya pantas jika kita jadikan rumusan masalah, yaitu:
1. Devinisi Lingkungan
2. Tujuan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
3. Jenis Lingkungan
4. Tekhnik Menggunakan Lingkungan Sebagai Metode Pembelajaran

BAB II
PEMBAHASAN
4. Devinisi Lingkungan
Lingkungan jika dilihat secara makna liter like berarti segala sesuatu benda baik hidup maupun mati yang ada di sekitar kita. Adapun jika lebih kita renungkan lagi, ternyata lingkungan mempunyai arti lebih dari hanya sekedar keberadaan benda di sekeliing kita. Sebagaimana Al-Qur’an mengatakan: إِقْرَاء yang mempunyai kandungan perintah untuk membaca (belajar), tanpa menentukan objek bacaan (pelajaran)
5. Tujuan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
Dalam proses belajar mengajar, terkadang guru menampilkan sosok tiruan dari benda sebenarnya yang dijadikan sebagai objek pelajaran, akan tetapi akan lebih mengena bila si murid kita ajak langsung terjun kea lam (lingkungan) agar dalam penganalisisan data lebih mengena karena langsung pada objek sesungguhnya yang real dan akurat.
Adapun tujuan pemilihan lingkungan sebagai sumber belajar adalah sebagai berikut:
1. Supaya kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas berjam-jam sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi.
2. Supaya hakikat Belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan pada keadaan yang sebenarnya.
3. Supaya bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya dan lebih actual sehingga kebenarannya lebih akurat.
4. Supaya kegiatan belajar siswa lebih konprehenshif dan lebih aktif sebab dapat diakukan dengan berbagai cara seperti wawancara, mengamati dan lain-lain.
5. Supaya sumber belajar menjadi lebih kaya disebabkan lingkungan yang dipelajari beraneka ragam.
6. Supaya siswa dapat memahami dan menghayati aspek yang ada di lingkungannya.
Namun saying walaupun harapan yang diinginkan demikian (seperti yang tertulis di tujuan di atas), akan tetapi dalam penerapan penggunaan Lingkungan sebagai sumber belajar juga terdapat beberapa kelemahan, diantaranya:
1. Kegiatan belajar kurang dipersiapkan sebelumnya yang menyebabkan ketika siswa diajak ke tempat tujuan tidak melakukan kegiatan belajar yang di harapkan sehingga terkesan main-main.
2. Ada kesan dari guru dan siswa bahwa kegiatan mempelajari lingkungan memperlukan waktu yag lebih lama, sehingga menghabiskan waktu untuk belajar di kelas.
3. sempitnya pandangan guru bahwa kegiatan belajar hanya terjadi di dalam kelas.
6. Jenis Lingkungan
1. Lingkungan Sosial
Lingkungan sebgai sumber belajarberkenaan dengan interaksi social dengan kehidupan bermasyarakat seperti organisasi social, adat dan kebiasan, mata pencaharian, kebudayaan, pendidikan, kependudukan, struktur kepemerintahan dan agama. Lingkungan social tepat digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu social dan kemanusiaan. Dalam praktek pengajaran penggunaan lingkungan social sebagai sumber belajar hendaknya dimulai dari lingkungan yang paling dekat seperti keluarga, tetangga, Rukun Tetangga, rukun Warga, Kampung, Desa, kec., dan lain-lainnya. Hal ini disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku dan tingkat perkembangan anak didik.
2. Lingkungan Alam
Lingkungan alam berkenaan dengan segala sesuatu yang sifatnya alamiyah seperti keadaan geografi, iklim, suhu udara, musim dan lain sebagainya. Lingkungan alan tepat digunakan untuk bidang study Ilmu Pengetahuan Alam.
Aspek-aspek lingkungan alam tersebut diatas dapat dipelajari secra langsung oleh peserta didik oleh cara-cara yang telah disebutkan sebelumnya. Mengingat sifat-sifat dari gejala alam relative tetap tidak seperti dalam lingkungan social, maka akan lebih mudah dipelajari para siswa. Siswa dapat mengamati dan mencatatnya secara pasti, dapat mengamati perubahan-perubahan yang terjadi termasuk prosesnya dan sebagainya. Gejala lain yang dapat dipelajari adalah kerusakan-kerusakan lingkungan alam termasuk factor penyebabnya.
3. Lingkungan Buatan
Di samping lingkungan social dan lingkungan alam yang sifatnya alami ada juga disebut lingkungan buatan yakni lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibangun manusia untuk tujuan tertentu yang bermanfaat untuk kehidupan manusia.
Siswa dapat mempelajari lingkungan buatan dari beberapa aspek seperti prosesnya, pemanfaatanntya, pemeliharaannya serta aspek lain yang berkenaan dengan pembngunan dan kepentingan manusia dan masyarakat pada umumnya.
Ketiga lingkungan belajar di atas dapat dimanfaatkan sekolah dalam proses belajar mengajar melalui perencanaan yang seksama oleh para guru bidang study baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. Penggunaan lingkungan belajar dapat dilaksanakan dalam jam pelajaran bidang study di luar jam pelajaran dalam bentuk penugasan pesaerta didik atau dalam waktu khusus yang sengaja disiapkan pada akhir semester atau pertengahan semester.
7. Tekhnik Menggunakan Lingkungan Sebagai Metode Pembelajaran
1. Survey
Yaitu siswa sebagai peserta didik mengunjungi lingkungan seperti masyarakat setempat untuk mempelajari proses social, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Kegiatan belajar dilakukan siswa melalui observasi, wawancara dengan beberapa pihak yang dipandang perlu mempelajari data atau dokumen yang ada dan lain-lain. Hasilnya dicatat dan dilap[orkan di sekolah untuk dibahas bersama dan simpukan oleh guru dan siswa untuk melengkapi bahan pembelajaran.
2. Kamping
Kemah memerlukan waktu yang cukup sebab siswa harus dapat menghayati bagaimana kehidupan alam seperti suhu suasana dan lain-lain.
3. Karya Wisata
Yaitu kunjungan siswa keluar kelas untuk mempelajari objek tertentu sebagai bagian integral dari kegiatan kurikuler di sekolah. Sebelum karya wisata dilakukan siswa sebaiknya dilaksanakan objek yang akan dipelajari dan cara mempelajarinya dan kapan sebaiknya dipelajari.
4. Praktek lapangan
Praktek lapangan dilakukan oleh para siswa untuk memperoleh keterampilan dan kecakapan khusus.
5. Mengundang Manusia Sebagai Nara Sumber
Yaitu dengan cara mengundang nara sumber ke sekolah untuk memberikan penjelasan mengenai keahliannya dihadapan para siswa.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1 Devinisi Lingkungan
Lingkungan jika dilihat secara makna liter like berarti segala sesuatu benda baik hidup maupun mati yang ada di sekitar kita. Adapun jika lebih kita renungkan lagi, ternyata lingkungan mempunyai arti lebih dari hanya sekedar keberadaan benda di sekeliing kita. Sebagaimana Al-Qur’an mengatakan: إِقْرَاء yang mempunyai kandungan perintah untuk membaca (belajar), tanpa menentukan objek bacaan (pelajaran)
2 Tujuan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
Adapun tujuan pemilihan lingkungan sebagai sumber belajar adalah sebagai berikut:
• Supaya kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan.
• Supaya hakikat Belajar akan lebih bermakna.
• Supaya bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya dan lebih actual.
• Supaya kegiatan belajar siswa lebih konprehenshif dan lebih aktif.
• Supaya sumber belajar menjadi lebih kaya disebabkan lingkungan yang dipelajari beraneka ragam.
• Supaya siswa dapat memahami dan menghayati aspek yang ada di lingkungannya.
Adapun Kelemahannya
• Kurangnya persiapan
• Ada kesan memperlukan waktu yag lebih lama
• Sempitnya pandangan guru bahwa kegiatan belajar hanya terjadi di dalam kelas.

3 Jenis Lingkungan
• Lingkungan Sosial
• Lingkungan Alam
• Lingkungan Buatan
4. Tekhnik Menggunakan Lingkungan Sebagai Metode Pembelajaran
• Survey
• Kamping
• Karya Wisata
• Praktek lapangan
• Mengundang Manusia Sebagai Nara Sumber
B. Kritik dan Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan, sebagai manusia biasa penulis sangat menyadari akan adanya kesalahan dalam isi maupun penulisan makalah ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang progresif dari rekan-rekan sekalian dan khususnya dari Bapak Dosen.


MAKALAH ISTI'ARAH DAN PERMASALAHNANNYA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Banyak ilmu penunjang yang harus dikuasai bagi peminat Bahasa Arab salah satunya adalah Balaghoh. Menurut pemahaman penulis ilmu ini merupakan seni dalam berbahasa arab baik dalam tulisan maupun ungkapan. Namun dalam balaghoh ini ada banyak sub bab bahasan yang juga harus kita mengerti diantaranya seperti yang akan kita bahas pada makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami selaku penulis ingin mengangkat beberapa icon bahasan yang akan kita jadikan topic utama. Yaitu:
1. Pengertian Isti’arah
2. Macam-macam Isti’arah
3. Isti’arah Ditinjau dari Kedua Ujungnya
4. Isti’arah Ditilik dari Jihad Jami’
5. Isti’arah Ditinjau dari Segi Lafadznya

BAB II
PEMBAHASAN
1) Pengertian Isti’arah
Isti’arah adalah lafadz yang digunakan bukan pada tempatnya sebab ada hubungan (Alaqoh) persamaan antara keduanya. Seperti lafadz اسد (untuk laki-laki yang gagah. Adapun Alaqoh (perhubungan)nya ialah sama-sama gagahnya.
Isti’arah pada alam dilarang adanya, kecuali mengandung makna sifat, seperti lafadz رأيت حاتما saya melihat seorang dermawan. lafadz حاتما ialah nama orang yang sudah terkenal sifat keterdemawannya, yang dimaksudkan ialah “Hatim bin Atho’I”, sehingga orang yang menyerupainya dalam keterdemawannya di sebut Hatim. Maka lafadz Hatim bagi putra Atho’I adalah hakikat, sedangkan bagi yang lainnya adalah majaz.
2) Macam-macam Isti’arah
1. Mufrod, seperti رايت اسدايرمي saya melihat laki-laki yang gagah itu melempar.
2. banyak (tersusun), seperti يرمي علىفرسه في الهيجاع saya melihat laki-laki itu melempar di atas kudanya di dalam peperangan.
3. pertalian satu dengan yang lainnyadan semuannya menjadi qorinah, bukan satu kesatuan, seperti kata syair di bawah ini
وصاعقة من نصله ثنكفي بها # على ارؤس الاقران خمس سحائب
Banyak sekali petir berbalik dengan lima ujung jari orang itu, dari katajaman pedang orang itu kepada kepala teman-temannya.
Yang menjadi contoh istiaroh, ialah lafadz سحائب dalam arti انامل yang menjadi korinahnya adalah tersusun dari lafadz صاعقة dan seterusnya, kesemuanya itu adalah korinah bagi majaz tersebut.
3) Isti’arah Ditinjau dari Kedua Ujungnya
Majaz isti’arah jika ditinjau dari kedua ujungnya, yaitu musta’ar minhu dan musta’aroh terbagi pada:
1. Inadiyah, yaitu yang kedua ujungnya tidak bias bersatu sebab bertolak belakang (berlawanan), seperti mengisti’arohkan yang makdum pada yang maujud, orang mati kepada yang hidup yang bodoh, seperti رايت الميت في المدرسة saya telah meihat mayat di dalam sekolah.
2. Wifakiya, yaitu yang kedua ujungnya itu dapat bersatu, seperti pengisti’arohan penghidupan pada pemberian hidayah, seperti firman Allah اومن كان ميتا فاحييناه ataukah yang sudah menjadi mayat, lalu kami menghidupkannya.
Sedangkan isti’aroh Inadiyah itu dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Tamlihiyah (agar tampak lucu) seperti رايت اسدافي المسجد saya melihat singa di masjid.
2. Tahakkumiyah (memperolok-olok), seperti رايت اسدا اي تريد جبانا saya melihat seekor singa yakni ingin menakut-nakuti.
4) Isti’arah Ditilik dari Jihad Jami’
Isti’aroh jika dilihat dari sisi jihad Jami’ itu terbagi menjadi dua bagian:
1. Qoribah (dekat atau mudah), seperti رايت اسدايرمي على فرسه aku melihat seekor singa melempar atas kudanya; aku melihat bulan sedang membaca.
2. Ghoribah (sulit dimengerti), seperti kata syair
وإذا احتبي قربوسه بعنانه # علك السكيم إلى انصر اف الزائر
bila kuda itu duduk menghimpunkan pelawan dengan telinganya, besi mulutnya berbolak balik berpaling kepada dirinya. Isti’aroh semacam ini disebut ghoribah, sukar dicari sisi perpaduannya
5) Isti’arah Ditinjau dari Segi Lafadznya
Majaz isti’aroh jika dititik pada segi lafadtnya, terbagi pada asliyah dan tarbiyah.
1. Kalau musta’ar terdiri dari isim jenis, maka isti’aroh itu disebut asli.
Isim jenis adalah lafadz yang menunjukkan zat yang pantas untuk menunjukkan banyak, tanpa mmemandang sifatnya. (atau disebut juga isim jamid)
Sedangkan yang dimaksud dengan zat adalah lafat yang berdiri sendiri sendiri,berikut pemahamanya, baik keadaanya berbentuk benda atau pengertian, seperti اسد ضرب kecuali alam, isim dhomir, dan isyarah, tidak termasuk isim jenis.

2. Kalau musta’ar itu terdiri dari isim sifat seperti الحال ناطقة بكذا atau jumlah fi’liyah seperti نطقت الحال بكذا Atau jumlah kharfiyah, seperti فالتقطه الفرعون ليكون لهم عدوا وحزنا maka keluarga fir’aun menumukan musa itu, syupaya kemudian menjadi misuh keprihatinan kepada mereka.
Jadi mustasnanya ialah “laam kay” pada lafazd kesemuanya disebut isti’aroh tabi’iyah.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
 Pengertian Isti’arah
Isti’arah adalah lafadz yang digunakan bukan pada tempatnya sebab ada hubungan (Alaqoh) persamaan antara keduanya. Seperti lafadz اسد (untuk laki-laki yang gagah. Adapun Alaqoh (perhubungan)nya ialah sama-sama gagahnya.
 Macam-macam Isti’arah
1. Mufrod,
2. pertalian satu dengan yang lainnya dan semuannya menjadi qorinah, bukan satu kesatuan
 Isti’arah Ditinjau dari Kedua Ujungnya
Majaz isti’arah jika ditinjau dari kedua ujungnya, yaitu musta’ar minhu dan musta’aroh terbagi pada:
• Inadiyah,
• Wifakiya,
Sedangkan isti’aroh Inadiyah itu dibagi menjadi dua macam, yaitu:
• Tamlihiyah (agar tampak lucu)
• Tahakkumiyah (memperolok-olok),
 Isti’arah Ditilik dari Jihad Jami’
Isti’aroh jika dilihat dari sisi jihad Jami’ itu terbagi menjadi dua bagian:
• Qoribah (dekat atau mudah
• Ghoribah (sulit dimengerti
 Isti’arah Ditinjau dari Segi Lafadznya
Majaz isti’aroh jika dititik pada segi lafadtnya, terbagi pada asliyah dan tarbiyah.
3. Kalau musta’ar terdiri dari isim jenis, maka isti’aroh itu disebut asli.
4. Kalau musta’ar itu terdiri dari isim sifat seperti الحال ناطقة بكذا atau jumlah fi’liyah seperti نطقت الحال بكذا Atau jumlah kharfiyah, seperti فالتقطه الفرعون ليكون لهم عدوا وحزنا maka keluarga fir’aun menumukan musa itu, syupaya kemudian menjadi musuh keprihatinan kepada mereka.
Jadi mustasnanya ialah “laam kay” pada lafazd kesemuanya disebut isti’aroh tabi’iyah.

B. Kritik dan Saran
Demikian makalah yang dapat kami persembahkan, selaku manusia biasa kami mohon maaf jikalau terdapat banyak kesaahan baik dalam penyampaian ataupun dalam penulisan makalah ini

Powered by Blogger.
Loading...

Followers

OUR FACEBOOK

Sponsor Blog

Site Info

Copyright © 2012 Makalah Dunia ModernTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.