Not-
Found
Showing posts with label Artikel Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Artikel Pendidikan. Show all posts

Macam-macam Validitas

1. Validitas Logis
Istilah validitas logis mengandung kata logis yang berasal dari kata logika yang mempunyai arti penalaran. Dengan demikian maka validitas logis untuk sebuah instrument evaluasi menunjuk pada kondisi bagi sebuah instrument yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid tersebut dipandang terpenuhikarena instrument yang bersangkutan sudah dirancang secara baik, mengikuti teori dan ketentuan yang ada (Arikunto, 2003:65). Seperti pelaksanaan suatu tugas misalnya membaca Al-Qur’an, jika tajwid dan makhorijul hurufnya sudah benar, tentu secara logis bacaannya sudah baik. Berdasarkan penjelasan tersebut maka instrument yang sudah disusun berdasarkan teori penyusunan instrument, secara logis sudah valid.
Ada dua macam validitas logis, yaitu:
a. Validitas Isi (content validity)
Validitas isi adalah derajat dimana sebuah tes evaluasi mengukur cakupan substansi yang ingin diukur (Sukardi, 2009:32). Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan.
b. Validitas Konstruksi
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berfikir yang disebutkan di dalam tujuan instruksional khusus (Arikunto, 2003:67). Seperti contoh seorang guru ingin mengukur kemampuan siswanya dalam aspek kognitif, maka unsur yang diukur adalah mengerti, memahami, membandingkan, menganalisa sampai pada tingkatan aspek kognitif yang paling tinggi.

2. Validitas Empiris
Istilah validitas empiris memuat kata empiris yang artinya pengalaman. Sebuah instrument dapat dikatakan mempunyai validitas empiris apabila sudah diuji dari pengalaman. Seperti contoh seseorang dapat diakui jujur oleh masyarakat apabila dalam pengalaman dibuktikan bahwa orang tersebut memang jujur (Arikunto, 2003:66).

Posted by
Ahmad Efendi

More

Validitas Instrumen

Karakteristik pertama dan memiliki peranan sangat penting dalam instrumen evaluasi, yaitu karakteristik valid (validity). Validitas suatu instrumen evaluasi, tidak lain adalah derajat yang menunjukkan dimana suatu tes mengukur apa yang hendak diukur (Sukardi, 2008: 29). Validitas tes instrumen evaluasi mempunyai beberapa makna penting diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Validitas berhubungan dengan ketepatan interpretasi hasil tes atau instrumen evaluasi untuk grup individual dan bukan instrumen itu sendiri.
2. Validitas diartikan sebagai derajat yang menunjukkan kategori yang bisa mencakup kategori rendah, menengah dan tinggi.
3. Prinsip suatu tes valid, tidak universal. Validitas suatu tes yang perlu diperhatikan oleh para peneliti adalah bahwa ia hanya valid untuk suatu tujuan tertentu saja.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Hubungan Ketepatan Instrumen Evaluasi dengan Prestasi Belajar Siswa

Tanpa melihat jenis instrument dan kemampuan guru dalam memilih jenis tes dalam melakukan evaluasi terhadap siswa, bias dikatakan bahwa kegiatan evaluasi tersebut sia-sia, karena dari keterangan di atas sudah jelas bahwa kemampuan guru dalam memilih teknik evaluasi yang tepat sangat berpengaruh terhadap validitas data yang akan dihasilkan. Begitu juga instrument evaluasi mempunyai pengaruh besar terhadap teknik evaluasi yang akan diterapkan oleh seorang guru.
Dari sini jelas terdapat peranan instrumen evaluasi terhadap prestasi siswa. Data atas diri siswa akan valid jika instrumen yang digunakan dalam teknik evaluasi yang diterapkan valid. Dan apabila data atas diri siswa tersebut memang cukup objektif maka seorang guru akan dapat menyusun strategi-strategi selanjutnya dalam meningkatkan prestasi seorang anak didik.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Fakto-faktor yang mempengaruhi hasil belajar

Fakto-faktor yang mempengaruhi hasil belajar itu banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor dari dalam diri siswa (intern) dan faktor yang datang dari luar diri siswa (ekstern).
2.6.1. Faktor Intern
Slameto (2003:5) membagi faktor intern ini menjadi tiga faktor, yaitu faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan.


1) Faktor Jasmaniah
Pertama, faktor kesehatan. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, mudah mengantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan fungsi alat inderanya serta tubuhnya.
Kedua, cacat tubuh. Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar. Siswa yang cacat tubuh belajarnya juga terganggu. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat Bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya.
2) Factor Psikologis
Sekurang-kurangnya ada tujuh factor yang tergolong kedalam factor psikologis yang mempengaruhi belajar. Factor-faktor itu adalah intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kelelahan (Slameto, 2003: 55).
3) Faktor Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis).
Kelelahan jasmani terjadi karena kekacauan sbstansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga peredaran darah kurang lancar pada bagian-bagian tertentu. Sedangkan kelalahan rohani dapat dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang (Slameto, 2003: 59).
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menghilangkan kelelahan baik secara jasmani ataupun rohani:
a) Melakukan istirahat dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dengan takaran yang cukup.
b) Pengubahan atau penjadwalan kembali jam-jam dari hari-hari belajar yang dianggap lebih memungkinkan siswa belajar lebih giat.
c) Pengubahan atau penataan kembali lingkungan belajar siswa yang meliputi pengubahan posisi meja tulis, lemari, rak buku, alat-alat perlengkapan belajar dan sebagainya sampai memungkinkan siswa merasa dikamar baru yang lebih menyenangkan untuk belajar.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Jenis – jenis belajar

Slameto mengemukakan jenis – jenis belajar antara lain:
1. Belajar bagian
Dalam hal ini individu memecah seluruh materi pelajaran menjadi bagian – bagian yang satu sama lain berdiri sendiri. sebagai lawan dari cara belajar bagian adalah cara belajar keseluruhan atau belajar global.
2. Belajar dengan wawasan
G.A.Miller, yang menganjurkan behaveorisme subjektif. menurut pendapatnya wawasan barang kali merupakan kreasi dari “rencana penyelesaian” yang mengontrol rencana – rencana subordinasi lain(pola tingkah laku) yang telah di bentuk.
3. Belajar diskriminatif
Belajar diskriminatif diartikan sebagai suatu usaha untuk memilih beberapa sifat situasi atu stimulus dan kemudian menjadikanya sebagai pedoman dalam bertingkah laku.
4. Belajar keseluruhan
Di sini bahan pelajaran dipelajari secara keseluruhan berulang sampai pelajar menguasainya; lawan dari belajar bagian. metode ini sering juga disebut metode gestalt.
5. Belajar incidental
Belajar disebut incidental bila tidak ada instruksi atau petunjuk yang diberikan pada individu mengenai materi belajar yang akan diujikan kelak. Dalam kehidupan sehari – hari, belajar insidental ini merupakan hal yang sangat penting.
6. Belajar instrumental
Pada belajar instrumental, reaksi seorang siswa yang diperlihatkan diikuti oleh tanda – tanda yang mengarah pada apakah siswa tersebut akan mendapat hadiah, hukuman, berhasil atau gagal. Oleh karena itu cepat atau lambatnya seseorang belajar dapat diatur dengan jalan memberikan penguat atas dasar tingkat kebutuhan.
7. Belajar intensional belajar dalam arah tujuan, merupakan lawan dari belajar insidental.
8. Belajar laten
Dalam belajar laten, perubahan tingkah laku yang terlihat tidak terjadi secara segera, dan oleh karena itu,disebut laten.
9. Belajar mental
Belajar mental sebagai belajar dengan cara melakukan observasi dari tingkah laku orang lain, membayangkan gerakan – gerakan orang lain dan lain-lain.
10. Belajar produktif
R. Berguis (1964) memberikan arti belajar produktif sebagai belajar dengan transfer yang maksimum. Belajar adalah mengatur kemungkinan untuk melakukan transfer tingkah laku dari satu situasi ke situasi yang lain. Belajar disebut produktif bila individu mampu mentransfer prinsip menyelesaikan satu persoalan dalam satu situasi ke situasi yang lain.
11. Belajar verbal
Belajar verbal adalah belajar mengenai materi verbal dengan melalui latihan dan ingatan.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Fungsi Motivasi Belajar

Dalam kegiatan belajar mengajar pasti ditemukan anak didik yang malas berpartisipasi dalam belajar sementara siswa-siswa yang lain aktif berpartisipasi dalam kegiatan. Ketiadaan minat terhadap suatu mata pelajaran menjadi pangkal penyebab kenapa siswa tidak bergeming untuk mencatat apa yang disampaikan oleh guru, hal ini sebagai tanda bahwa siswa tidak mempunyai motivasi untuk belajar (Djamarah, 2008: 156).
Kemiskinan motivasi intrinsik ini merupakan masalah yang memerlukan bantuan yang tidak bias ditunda-tunda. Guru harus memberikan suntikan dalam bentuk motivasi ekstrinsik sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar (Djamarah, 2008: 156).
Terdapat tiga fungsi motivasi dalam proses pembelajaran yaitu:
2.2.4.1. Motivasi Sebagai Pendorong Perbuatan
Pada mulanya siswa tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah minatnya untuk belajar, sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong siswa untuk belajar dalam rangka mencari tahu.. Sikap itulah yang mendorong ke sejumlah perbuatan dalam belajar. Jadi motivasi yang berfungsi sebagai pendorong ini mempengaruhi sikap apa yang seharusnya siswa ambil dalam rangka belajar (Djamarah, 2008: 157).
2.2.4.2. Motivasi Sebagai Penggerak Perbuatan
Di sini siswa sudah melakukan aktivitas belajar dengan segenap jiwa dan raga. Akal pikiran berproses dengan sikap raga yang cenderung tunduk dengan kehendak perbuatan belajar (Djamarah, 2008:157).

2.2.4.3. Motivasi sebagai pengarah perbuatan
Di sini siswa yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang diabaikan agar tidak menghalangi tujuan yang diinginkan (Djamarah, 2008: 157).
Dalam artian siswa mampu menentukan mana perbuatan-perbuatan yang yang harus dilakukan, guna mencapai tujuan dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu, seperti seorang siswa yang benar-benar ingin mencapai yang terbaik dalam sekolahnya dia tidak akan menghamburkan-hamburkan waktunya dengan bermain layang-layang (Purwanto, 2007: 71).

Posted by
Ahmad Efendi

More

Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar merupakan sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, yakni "prestasi" dan "belajar".
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (2002: 895), prestasi diartikan sebagai hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melakukan suatu kegiatan.
Sedangkan belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang (Sudjana, 2005: 28). Martinis Yamin (2005: 97) berpendapat bahwa, "Belajar merupakan proses orang memperoleh kecakapan, keterampilan dan sikap".
Jadi belajar akan membawa sesuatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan tidak hanya berkaitan dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, monat, watak dan penyesuaian diri (Sadirman, 2007: 21). Dari pendapat-pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang menghasilkan perubahan dalam kecakapan, keterampilan dan sikap.
Selanjutnya pengertian prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk symbol angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu (Tirtonegoro, 2006: 43). Sedangkan menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2005: 102), "Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki oleh seseorang".
Untuk mengetahui prestasi belajar siswa harus melalui tes pada bidang studi tertentu. Pemberian tes prestasi belajar dapat dilakukan sesudah seluruh materi pelajaran selesai pada periode tertentu. Dalam hal ini tes diberikan berupa tes formatif dan tes sumatif. Hasil belajar tersebut dapat dilihat pada buku rapor. Dari buku rapor itu dapat diketahui prestasi belajar siswa yang berupa tingkat prestasi atau rangking tingkatan (Sukmadinata, 2005 : 105).
Dari beberapa pengertian diatas, maka sangat jelas bahwa dengan melalui sebuah tes yang sebelumnya diperhitungkan terlebih dahulu validitas dan realibilitas datanya, yang seterusnya akan menghasilkan data yang valid sehingga akan dapat diketahui prestasi belajar siswa yang cukup objektif.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas penulis menarik kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah hasil aktifitas belajar yang dicapai siswa berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan perilaku sesuai dengan tujuan-tujuan instruksional yang mencakup tiga aspek (kognitif, afektif dan psikomotorik), kemudian ditunjukkan dengan data-data kualitatif maupun kuantitatif melalui tes dalam jangka waktu tertentu di sekolah untuk setiap mata pelajaran.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Ciri – ciri belajar

Syaiful bahri Djamaroh mengemukakan ciri – ciri belajar antara lain :
1. Perubahan yang terjadi secara sadar
Ini berarti individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang – kurangnya individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.misalnya ia menyadari bahwa pengetahuan bertambah, kebiasaanya bertambah, dan kecakapanya bertambh.
2. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional
Sebagai hasil, belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlansung terus menerus dan tidak statis. suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya. misalnya jika seorang anak belajar menulis, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak menulis menjadi dapat menulis.
3. Perubahan dalam belajar, bersifat positif dan aktif
Dalam perbuatan belajar, perubahan – perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian, makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang di peroleh perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan dirinya, melainkan karena usaha individu sendiri misalnya, perubahan tingkah laku karena proses kematangan yang terjadi dengan sendirinya karena dorongan dari dalam, tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar.
4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan yang bersifat sementara yang terjadi hanya untuk beberapa saat saja, seperti berikutnya, keluar air mata, menangis, dan sebagainya tidak dapaat di golongkan sebagai perubahan dalam pengertian belajar.
5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau bertambah atau terarah
Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. perubahan terarah pada perubahan tingkah laku yang benar – benar di sadari.
6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan di peroleh individu setelah melalui proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya (Djamarah, 2008: 15-16).

Posted by
Ahmad Efendi

More

Tujuan belajar

Dalam bukunya sardiman mengatakan tujuan belajar di tinjau secara umum itu ada 3 tujuan belajar yang meliputi:
a.) Untuk mendapatkan pengetahuan
Hal ini di tandai dengan kemampuan berpikir. pemilikan pengetahuan dan kemampuan berpikir sebagai yang tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain, tidak dapat mengembangkan kemampuan berpikir tanpa bahan pengetahuan, sebaliknya kemampuan berpikir tanpa pengetahuan, sebaliknya kemampuan berpikir akan memperkaya pengetahuan. Tujuan inilah yang memiliki kecenderungan lebih besar perkembanganya di dalam kegiatan belajar. Dalam hal ini peranan guru sebagai pengajar lebih menonjol.
b.) Penanaman konsep dan keterampilan.
Penanaman konsep atau merumuskan konsep, juga memerlukan suatu keterampilan. jadi soal keterampilan yang bersifat jasmani maupun rohani.keterampilan jasmani adalah keterampilan-ketermpilan yang dapat di lihat, diamati, sehinga akan menitik beratkan pada keterampilan garak atau penampilan dari angota tubuh seseorang yang sedang belajar.Termasuk dalam hal inimasalah –masalah “teknik” dan “pengulangan”. sedangkan keterampilan rohani lebih rumit, karena tidak harus berurusan dengan masalah keterampilan yang dapat dilihat bagaimana pangkal ujungnya, tetapi lebih abtrak, menyangkut persoalan-persoalan penghayatan, dan keterampilan berpikir serta kreativitas untuk menyelesaikan dan merumuskan suatu masalah atau konsep.
c.) Pembentukan sikap
Dalam menumbuhkan sikap mental, prilaku dan pribadi anak didik, guru harus bijak dan hati-hati dalam pendekatanya. Untuk ini dibutuhkan kecakapan dalam dalam mengarahkan motivasi dan berpikir dengan tidak lupa mengunakan pribadi guru itu sendiri sebagai contoh atau model. Dalam interaksi belajar-mengajar guru akan senantiasa diobservasi, dilihat, didengar, ditiru semua prilakunya oleh para siswanya. Dari proses observasi siswa mungkin juga menirukan perilaku gurunya, sehinga diharapkan terjadi proses internalisasi yang dapat mnumbuhkan proses penghayatan pada setiap diri siswa untuk kemudian diamalkan.(Sardiman,2010:25-28).

Posted by
Ahmad Efendi

More

Prinsip-Prinsip Belajar

Dalam hal ini ada prinsip-prinsip yang penting dalam belajar yang dapat diketahui,antara lain:
a) Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusiawi dan kelakuanya.
b) Belajar memerlukan proses dan penahapan serta kematangan dri para siswa.
c) Belajar akan lebih mantap dan efektif, bila didorong dengan motivasi, terutama motivasi dari dalam atau dasar kebutuhan atau kesadaran atau intrinsic motivasion, lain halnya belajar dengan rasa takut atau dibarengi dengan rasa tertekan dan menderita.
d) Dalam banyak hal, belajar merupakan proses percobaan (dengan kemungkinan berbua keliru)dan conditioning atau pembiasaan.
e) Kemampuan belajar seseorang siswa harus diperhitungkan dalam rangka menentukan isi pelajaran.
f) Belajar dapat melakukan tiga cara yaitu: (1) Diajar secara lansung, (2) Kontrol, kontak, penghayatan, pengalaman lansung (seperti anak belajar bicara, sopan santun, dan lain-lain), (3) Pengenalan dan peniruan.
g) Belajar melalui praktik atau mengalami secara lansung akan lebih efektif mampu membina sikap, keterampilan, cara berpikir kritis dan lain-lain, bila dibandingkan dengan belajar hafalan saja.
h) Perkembangan pengalaman anak didik akan banyak mempengaruhi kemampuan belajar yang bersangkutan.
i) Bahan pelajaran yang bermakna atau berarti, lebih mudah dan menarik untuk dipelajari, daripada bahan yang kurang bermakna.
j) Informasi tentang kelakuan baik, pengetahuan, kesalahan serta keberhasilan siswa, banyak membantu kelancaran dan gairah belajar.
Sedangkan menurut slameto prinsip-prinsip belajar sebagai berikut:
a) Berdasarkan persyaratan yang diperlukan untuk belajar
1.Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional.
2.Belajar harus dapat menimbulkan dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional.
3.Belajar perlu lingkungan yang menantang di mana anak dapat mengembangkan kemampuanya bereksplorasi dan belajar dengan efektif.
4.Belajar perlu interaksi siswa dengan lingkuganya.
b) Sesuai hakikat belajar
1. Belajar itu proses kontinyu, maka harus tahap demi tahap menurut perkembanganya;
2. Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi, dan discovery;
3. Belajar adalah proses hubungan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain, sehinga mendapatkan pengertian yang diharapkan.
c) Sesuai materi atau bahan yang harus dipelajari
1. Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana, sehinga siswa mudah menangkap pengertianya;
2. Belajar harus mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapai;
d) Syarat keberhasilan belajar
1. Belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.
2. Repitisi, dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian, keterampilan atau sikap itu mendalam pada siswa(Slameto,2010:27-28).

Posted by
Ahmad Efendi

More

Pengertian Belajar

Dalam hal ini penulis akan mengemukakan suatu pendapat para ahli tentang pengertian belajar.
Belajar adalah “Berubah”. Dalam hal ini yang dimaksud balajar berarti usaha mengubah tingka laku. jadi belajar akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar. perubahan tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Jelasnya menyangkut segala aspek organisme dan tingka laku pribadi seseorang. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga,psiko-fisik untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta,rasa dan karsa,ranah kognitif,afektif,dan psikomotorik(Sardiman,2010:21).

Posted by
Ahmad Efendi

More

Macam-macam Motivasi

Menurut Sardiman macam-macam motivasi adalah sebagai berikut:
a. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
Yang pertama: motif-motif bawaan. Motif bawaan adalah motif yang dibawah sejak lahir jadi motivasi ini dipelajari sejak lahir.
Yang kedua: motif-motif yang dipelajari motif ini sering kali disebut dengan motif yang disyaratkan secara social, sebab manusia hidup dalam lingkungan social dengan sesama dengan yang lain, sehingga motivasi ini terbentuk.
b. Motivasi menurut pembagian Woodworth dan Marquis
Yang pertama: motif atau kebutuhan organis, meliputi kebutuhan makan minum dan lain-lain.
Yang kedua: motif darurat, motivasi jenis ini timbul karena rangsangan dari luar.
Yang ketiga: motivasi obyektif, motivasi ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
c. Motivasi jasmani dan rohani
Yang termasuk motivasi jasmani adalah refleksi, insting, otomatis, nafsu sedangkan yang termasuk motifasi rohani adalah keimanan.
d. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
Yang pertama motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap invidu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Yang kedua motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif berfungsinya karena ada rangsangan dari luar (Sardiman, 2010: 86-90).

Posted by
Ahmad Efendi

More

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Hasi Belajar

Perubahan yang terjadi itu sebagai akibat dari kegiatan belajar yang telah dilakukan oleh indifidu. Perubahan itu adalah hasil. yang telah dicapai dari proses belajar. Jadi, untuk mendapatkan hasil belajar dalam bentuk ”perubahan” harus melalui proses tertentu yang dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri indifidu dan diluar diri individu. Proses disini tidak dapat dilihat karena bersifat psikologis kecuali bila seseorang telah berhasil dalam belajar, maka seseorang itu telah mengalami prosestertentu dalam belajar. Oleh karena itu, proses belajar telah terjadi dalam diri seseorang hanya dapat disimpulkan dari hasilnya karena aktifitas belajar yang telah dilakukan. Misalnya, jadi tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak berilmu menjadi berilmu, dan lain sebagainya.
Menurut Carrol yang dikutib oleh Nana Sujana (2005:40) berpendapat bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh 5 faktor, yakni bakat pelajaran, waktu yang tersebia untuk belajar, waktu yang diperlukan oleh siswa untuk menjelaskan pelajaran, kualitas pengajaran dan kemampuan individu, hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh 2 faktor utama, yaitu faktor yang datang dari lingkungan dan faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya faktor kemampuan siswa besar sekali penagruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti yang dikemukakan oleh Clark dalam bukunya Ahmad Sabri (2005:48) nahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% diupengaruhi oleh lingkungan.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Jenis-jenis Prestasi Belajar

Tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat dikategorikan menjadi tiga bidang yaitu bidang kognitif (penguasaan intelektual), bidang afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) serta bidang psikomotorik (kemampuan atau keterampilan bertindak atau berperilaku). Ketiganya tidak berdiri sendiri, tapi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, bahkan membentuk hubungan hirarki (Sudjana, 2005:49).
Di dalam ketiga aspek tersebut, terdapat unsur-unsur di dalamnya yaitu:
a. Bidang kognitif, meliputi: pengetahuan hafalan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis, sintesis, evaluasi.
b. Bidang afektif, meliputi: receiving atau attending, responding (jawaban), valuing (penilaian), organisasi, karakteristik nilai atau internalisasi nilai.
c. Bidang psikomotorik, meliputi: gerak refleks, keterampilan pada gerakan-gerakan dasar, kemampuan persptual, kemampuan di bidang fisik gerakan skill serta gerakan akspresif dan interpretatif (Sudjana, 2005: 22-23).

Sebagai tujuan yang hendak dicapai, tiga bidang tersebut harus nampak dan dipandang sebagai hasil belajar pelajar dari proses pengajaran yang dilakukan oleh guru. Sebagai hasil belajar, perubahan pada tiga bidang tersebut secara teknis dirumuskan dalam pernyataan verbal melalui tujuan pengajaran atau tujuan instruksional (Depag, 2001: 57).
Dari tiga jenis hasil belajar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dapat diperinci lagi menjadi empat yaitu:
a. Hasil belajar yang merupakan pengetahuan dan pengertian.
b. Hasil belajar dalam bentuk sikap dan kelakuan.
c. Hasil belajar dalam bentuk kemampuan untuk mengamalkan.
d. Hasil belajar dalam bentuk keterampilan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Reliabilitas Instrumen

Syarat lain yang juga penting bagi suatu instrumen evaluasi adalah terpenuhinya syarat kedua, yaitu reliabilitas. Reliabilitas merupakan karakter lain dari hasil evaluasi. Reliabilitas juga dapat diartikan sama dengan konsistensi atau keajegan. Suatu instrumen evaluasi dikatakan mempunyai nilai reliabilitas tinggi, apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur yang hendak diukur (Sukardi, 2008: 43).
Reliabilitas yang tinggi menunjukkan bahwa sumber-sumber kesalahan telah dihilangkan sebanyak mungkin. Perhitungan reliabilitas pada umumnya lebih mudah disbanding dengan validasi. Hal ini terjadi karena dalam menentukan koefisien korelasi, pelaku evaluasi tidak lagi memikirkan substansi dalam tes.
Ada beberapa tipe reliabilitas tes yeng sering digunakan dalam kegiatan evaluasi dan masing-masing reliabilitas mempunyai konsistensi yang berbeda-beda. Beberapa tipe reliabilitas diantaranya: tes-retes, ekivalen, belah dua dan kuder Richardson yang ditentukan melalui korelasi.
Berikut ini table ringkasan yang menggambarkan secara garis besar macam-macam reliabilitas dan prosedur pelaksanaan pengukuran reliabilitas yang sering ditemui dalam instrumen evaluasi.

Metode Tipe reliabilitas pengukuran Prosedur
Tes-retes Mengukur stabilitas Memberikan tes yang sama, dua kali pada grup sama dengan jedah waktu diantara dua tes misalnya 7 hari – 1 bulan.
Bentuk ekivalen Mengukur ekivalen
Mengukur stabilitas dan ekivalen
Memberi dua bentuk tes pada grup yang sama dalam waktu yang berdekatan. Dua bentuk tes diberikan pada dua grup siswa dengan menambah interval antara bentuk.
Belah dua Mengukur kesulitan internal Diberikan tes sekali separuh skor tes; diperoleh korelasi antara separuh untuk menempatkan semua tes dengan formula Sperman Brown.
Kuder Richardson Mengukur konsistensi internal Diberikan skor tes sekali, tes skor merupakan total dengan menggunakan formula Kuder Richardson.
Tabel Metode reliabilitas instrumen evaluasi

Posted by
Ahmad Efendi

More

Fungsi motivasi

Menurut Sardiman fungsi motivasi adalah sebagai berikut:
Mendorong manusia berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak disetiap kegiatan yang akan dikerjakan.
Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan (Sardiman, 2010: 85)
Sedangkan menurut Oemar Hamalik mengemukakan fungsi motivasi sebagai berikut:
a. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan seperti belajar
b. Sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan
c. Sebagai penggerak, ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan (Humalik, 2007: 175)

Posted by
Ahmad Efendi

More

Laporan Hasil Belajar

Laporan kemajuan belajar peserta didik merupakan sarana komunikasi antara sekolah peserta didik dan orang tua. Oleh karena itu, laporan peserta didik dan orang tua adalah bagian penting dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan hubungan kerja sama antara sekolah peserta didik dan orang tua atau wali.
Proses pelaporan penilaian hasil belajar merupakan satu tahapan dari serangkaian proses pendidikan di sekolah yang harus dilalui. Peda pelaksanaannya, pelporan harus memerhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a. Konsisten dengan pelksanaan penilaian di sekolah.
b. Memuat perincian hasil belajar dengan penilaian yang bermanfaat bagi pengembangan peserta didik
c. Menjamin adanya informasi permasalahan anak dalam belajar bagi orang tua.
d. Mengandung berbaqgai cara dan strategi berkomunikasi.
e. Memberikan informasi yang benar, jelas, komperehensif dan akurat (Soleh,2005:250)
Agar peran serta masyarakat dalam dunia pendidikan semakin meningkat bentuk laporan, kemajuan peserta didik jharus disajikan secara sederhana mudah dibaca dan mudah dipahami, komunikatif serta menampilkan profil atau tingkat kemajuan peserta didik dengan demikian, orang tua atau pihak yang berkepentingan dapat denag udah mengiodentifikasi kempetensi-kompetensi yang jauh belum dimiliki peserta didik, serta kompetensi yang harus ditingkatkan. Dengan begitu orang tua dapat lebuh mengetahui masalah dan jenis bantuan yang diperlukan untuk membantu anaknya. Peserta didik sendiri dapat mengetahui keunggulan dan kelemahan dirinya sehingga ia dapat mengetahui pada aspek mana dia harus belajar lebih banyak.
Pada umumnya orang tua siswa menginginkan isi laporan dengan hal-hal berikut:
a. Belajar peserta didik di sekolah, secara akademik, fisik, sosial dan emosional.
b. Partisipasi peserta didik dalam kegiatan di sekolahnya dalam ukuran waktu belajar tertentu.
c. Kemampuan yanag telah diperoleh peserta didik dalam ukuran waktu tertentu.
d. Hasil belajar peserta didik.
e. Peningkatan kemampuan peserta didik dalam ukuran waktu tertentu.
f. Peran atau tindakan orang tua dalam membantu dan mengembangkan peserta didik lebih lanjut (Soleh,2005:251)
Isi laporan harus memuat informasi-informasi yang berkaitan dengan hal tersebut. Menurut Abdurrohman Sholeh dalam bukunya yang berejudul Pendidikan Agama dan pembangunaan watak bangsa berpendapat, bahwa laporan hasil belajar akan bermanfaat sebagai berikut:
1. Diagnosi Hasil belajar
Penilaian hasil belajr dilaksanakan terus menerus dan berkesinambungan. Oleh karena itu, harus ada rekaman tingklat kemajuan tingkat peserta didik untuk mengikuti perkembangan belajarnya. Mengingat bahwa ciri kurikulum adalah berbasis kompetensi, maka tiap kompetensi dasar sebagai kemampuan minimal harus dijaga oleh semua peserta didik sebagian besar peserta didik akan dengan mudah mencapai kemampuan dasar tersebut dengan waktu yang telah ditetapkan. Kemungkinan sebagian kecil peserta didik akan ada yang mampu mencapai kemampuan dasar tersebut lebih cepat diabndingkan denagn peserta didik normal, dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama dari pada peserta didik yang lain untuk itu, pengamatan secara intensif terhadap hasil belajar sangat diperlukan.
2. Prediksi masa Depan Peserta didik
Hasil penilaian hasil belajar peserta didik perlu dianalisis oleh setiap guru mata pelajaran untuk mengetahui pada aspek-aspek yang mana peserta didik menonjol dengan melihat indikator keunggulannya. Kemajuan hasil belajar peserta didik dari guru mata pelajaran dikirim ke guru bimbingan dan penyuluhan untuk dianalisis lebih lanjut dan nantinya dapat dijadikan dasar untuk pengembangan peserta didik dalam memilih lanjutan atau jenjang profesi atau karir di masa depan.
3. Seleksi dan Sertifikasi
Pada akhir tahun pelajaran, semua catatan hasil kemajuan belajar peserta didik dapat dirangkum dan dikuantifikasikan untuk dijadikan dasar penentuan promosi atau kenaikan kelas dan sertifikasi bagi peserta didik menamatkan pendidikannya.
Penentuan promosi atau kenaikan kelas didasarkan pada kriteria kenaikan kelas. Komponen kriteria kenaikan kelas berdasarkan aspek ketercapaian kompetensi mata pelajaran ayng ditetapkan dalam kurikulum. Peserta didik yang dinyatakan naik kelas adalah peserta didik yang kompeten pada tingkatan kelas berikutnya.
Sesuai dengan prinsip mutu pendidikan, kriteria peserta didik yang dinyatakan naik kelas perlu menguasai 70% kompetensi-kompetensi mata pelajaran tersebut. Perincian kriteria kenaikan kelas atau kelulusan, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah, dapat disusun bersama antara dinas pendidikan, sekolah dan diwan pendidikan kabupaten atau kota. Dengan ini diharapkan hasilnya dapat ditanggung jawabkan secara ilmiah kepada semua pihakyangberkepentingan.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Tipe-tipe hasil belajar

Tipe hasil belajar diharapkan dapat dicapai siswa, penting diketahui oleh kepala sekolah dapat merancang pengajaran secara tepat dan penuh arti. Setiap proses belajar mengajar, keberhasilannya selalu diukur seberapa jauh hasil belahar yang dicapai siswa, disamping diukur dari segi proses. Tipe hasil belajar harus nampak pada tujuan pengajaran (Tujuan instruksional) sebab tujuan itulah yang akan dicapai dalam proses belajar mengajar.
Tujuan pendidikan yang akan dicapai dapat dikategorikan menjadi tiga bidang, yaitu bidang kognitif (penguasaan intelektual), serta bidang psikomotorik (kemampuan), keterampilan (berprilaku). Ketiganya tidak bisa berdiri sendiri tapi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sesuai denagn tujuan yang hendak dicapai, maka ketiganya harus nampak sebagai hasil belajar siswa di sekolah. Oleh karena itu, ketiga aspek tersebut harus dipandang sebagai hasil belajar siswa dari proses pengajaran.
Menurut Gegne dalam bukunya nana Sujana (2005 :22) ada lima kategori tipe hasil belajar yaitu verbal information, intelektual skill, cognivitive strategi, attitude dan motoskill sedangkan menurut Benyamin Bloom secara garis besar mengklasifikasikan hasil belajar menjadi tiga ranah, yakni ranah kopgnitif, ranah efektif, ranah psikomotorik. Karena dalam sistim pendidikan nasional rumus tujuan pendidikan, baik tujuan kulikuler maupun tujuan tujuan instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom, maka pembahasan ini menurut yang umum adalah:
1. Ranah Kognitif
a. Tipe hasil belajar: pengetahuan
Istilah pengetahuan dimaksudkan sebagai terjemah dari pada knowledge dalam taksonomi. Sekalipun demikian, maknanya tidak sepenuhnya tetap sebab dalam istilah tersebut termasuk pula pengetahuan faktual disamping pengetahuan hapalan atau untuk diingat seperti rumus, batasan, difenisi, istilah, pasal dan undang-undang, nama-nama tokoh, nama-nama kota. Dilihat dari segi belajar, istilah-istilah tersebut memang perlu dihafal dan diingat agar dapat dikuasainya sebagai dasar bagi pengetahaun atau pemahaman konsep-konsep lainnya.
b. Tipe hasil belajar: aplikasi
Aplikasi adalah pengguanaan abstraksi pada situasi konkret atau situasi khusus. Abstrkasi tersebut mungkin berupa ide, teori, atau petunjuk teknis. Menerapkan abstraksi ke dalam situasi baru disebut aplikasi. Mengulang-ulang merapkannya pada situasi lama akan beralih menjadi pengetahuan hafalan atau keterampilan. Suatu situasi akan tetap dilihat sebagai situasibaru bila tetap terjadi proses pemecahan masalah. Ada suatu unsur lagi yang perlu masuk, yaitu abstraksi tersebut berupa prinsip atau generalisasi, yakni suatu yang umum sifatnya untuk diterapkan pada situasi khusus.
c. Tipe hasil belajar: Analisis
Analisis adalah usaha memilih suatu intergritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas susunannya. Analisis merupakan kecakapan yang kompleks, yang memanfaatkan kecakapan dari ketiga tipe sebelumnya. Dengan analisis diharapkan seseorang mempunyai pemahaman komprehensif dan dapat memilihkan integritas menjadi bagian-bagian yang tetap terpandu untuk beberapa hal memahami prosesnya, untuk hal lain lagi memahami sistematikannya.
d. Tipe hasil belajar: Sintesis
Penyatuan unsur atau bagian-bagian ke dalam bentuk berfikir sintesis adalah berfikir divergen. Dalam berfikir divergen pemecahan dan pemahaman belum tentu bias dipecahkan. Berfikir sintesis merupakan salah satu terminal untuk menjadikan orang lebih kreatif berfikir kreatif merupakan salah satu hasil yang hendak dalam pendidikan. Seseorang yang kreatif sering enemukan atau menciptakan sesuatu. Kreatifitas juga beroperasi dengan cara berfikir divergen. Dengan kemampuan sintesis, orang mungkin menemukan hubungan kausal atau urutan tertentu, dan menemukan abstraksinya atau operasionalnya.
e. Tipe hasil belajar: Operasional
Operasional adalah pemerian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode material.
f. Tipe hasil belajar : Pemahaman
Tipe hasil belajar yang lebih tinggi dari pada pengetahuan adalah pemahaman. Misalnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri sesuatu yang dmibaca atau didengarnya, memberi contoh lain dari yang telah dicontohkan, atau menggunakan petunjuk penerapan pada kasus lain. (Sudjana,2005: 22-28)


2. Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap dan nilai. Sekalipun bahan pelajaran berisikan ranah kognitif, ranah afektif harus menjadi bagian integral dari bahan tersebut dan harus tampak dalam proses dan hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. Oleh sebab itu penting dinilai hasilnya.
Ada beberapa tingkat ranah afektif sebagai tujuan dan tipe hasil belajar. Tingkat tersebut dimulai dari tingkat dasar atau sederhana sampai tingkat yang kompleks.
a. Reciving, yakni semacam kepekaan dalam menerima stimulus dalam menerima stimulus dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dan lain-lain. Dalam hal ini, termasuk kesadaran keingnan untuk menerima stimulus, control dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar.
b. Responding (jawaban), yakni reaksi yang diberikan kepada seseorangterhadap stimulus yang datang dari luar hal ini menyangkup ketetapan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang pada dirinya.
c. Valueing (Penilaian), berkenaan dengan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi. Dalam evaluasi ini termasuk didalamnya kesediaan menerima nilai, latar belakang atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai tersebut.
d. Organisasi, yakni pengembangan dari nilai pengembangan satu sistem, termasuk hubungan satu nilai kenilai yang sama, pemantapan, dan prioritas nilai yang telah dimilikinya
e. Karakteristik nilai (interalisasi nilai),yakni keterpaduan dari semua sistem ayng telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Kedalamnya termasuk keseluruahn nilai dan karakteristiknya (Sujana, 2005:29)
3. Ranah Psikomotorik
Hasil belajar psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak. Ada 6 tingkatan keterampilan, yaitu:
a. Gerakan Refleks (keterampilan pada gerak yang tidak sadar)
b. Keterampilan pada gerakan-gerakan
c. Kemampuan perseptual, termasuk didalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motorik, dan lain-lain
d. Kemampuan dibidang fisik, mesalnya kekuatan, keharmonisan dan ketetapan.
e. Gerakan-gerakan skill, muali dari keterampilan sederhana pada keterampilan yang kompleks
f. Kemampuan yang berkenaan denagn komunilasi seperti gerakan ekspresif dan interpretatif (Sujana,2005:53)
Tipe hasil belajar di atas tidak dapat berdiri sendiri, tetapi tetap berhubungan antara satu dengan yang lainnya bahkan ada dalam kebersamaan seseorang yang berubah tingkat kognisinya sebenarnya dalam kadar tertentu telah berubah pula sikap dan perilakunya. Dalam proses belajar mengajar di sekolah, biasanya tipe hasil belajar kognitif lebh dominan jika dibandingkan dengan tipe hasil belajar bidang afektif dan bidang psikomotorik sehingga tidak perlu diadakan penilaian. Demikian beberapa hasil belajar, yang sangat penting diketahui oleh seorang guru, sebagai dasar dalam membuat tujuan pelajaran dan penyusunan alat-alat penilaian, baik melalui tes maupun non tes.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Pengertian Hasil Belajar


Dalam kamus Bahasa Indonesia, pengertian dari hasil adalah " Keadaan yang mendatangkan hasil" dan pengertian belajar adalah " Berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu."
Menurut Partanto dan Yuwono hasil adalah nilai prestasi yang dicapai oleh seseorang.
Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang (Sabri, 2005:33)
Dari pengertian tersebut hasil belajar adlah keadaan yang mendatangkan hasil yang diperoleh dari usaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu (Simposium,2000:38).
Jadi hasil belajar adalah suatu nilai hasil dalam belajar yang dicapai menurut kemampuan siswa dalam mengerjakan suatu tugas pada saat tertentu pula. Adapun kemampuan tersebut meliputi: menggambarkan, menyebutkan, melaksanakan,menghitung atau segala yang mengacu pada tujuan instruksional khusus yang telah dirancang sebelumnya atau hasil yang terakhir dicapai sebaik-baiknya dalam jangka waktu tertentu.
Adapun cara memperoleh hasil belajar antara lain:
a.       Mengetahui hasil belajar yang efektif dan efisien
b.      Belajar secara kontinyu
c.       Motivasi belajar
d.      Membuat kelompok belajar.
e.       Gemar membaca
f.       Mengetahui cara meringkas
Sedangkan wujud hasil belajar adalah :
a.       Menunjukkan hasil belajar yang baik atau tinggi
b.      Hasil yang dicapai seimbang denagn usaha yang dilakukan
c.       Cepat dalam mengerjakan tugas
d.      Menunjukkan sifat yang wajar.
Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan criteria terttentu. Penilaian proses belajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Oleh sebab itu penilaian hasil belajar dan hasil proses belajar saling berkaitan satu sama lain sebab hasil merupakan akibat dari proses. (Sudjana,2005:3)
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa ciri penilaian adalah adanya obyek atau program yang dinilai dan adanya kriteria sebagai dasar untuk membandingkan antara kenyataan atau apa adanya dengan kriteria atau apa harusnya. Perbandingan bisa bersifat mutlak, bisa pula bersifat relative. Bersifat mutlak artinya hasil perbandingan tersebut menggambarkan posisi obyek yang dinilai, ditinjau dari kriteria yang berlaku. Sedangkan perbandingan bersifat relatif artinya hasil perbandingan lebih menggambarkan posisi suatu obyek yang dinilai terhadap obyek lainnya denagn bersumber dengan kriteria yang sama (Sudjana, 2005:3)
Menurut Horward Kingsley hasil belajar terdiri dari tiga bagian:
1.      Keterangan kebiasaan
2.      Pengetahuan dan pengertian
3.      Sikap dan cita-cita
Menurut Gagne ada lima kategori hasil belajar:
1.      Informasi Verbal
2.      Keterampilan intelektual
3.      Strategi kognitif
4.      Sikap
5.      Keterampilan kognitif

Posted by
Ahmad Efendi

More

Tipe-Tipe Kepemimpinan

Tipe kepemimpinan dapat diartikan sebagai bentuk pola atau jenis kepemimpinan yang di dalamnya diimplementasikan satu atau lebih perilaku atau gaya kepemimpinan sebagai pendukungnya. Secara teoritis, tipe-tipe kepemimpinan dalam pendidikan dapat dibagi menjadi tiga tipe, antara lain:
1. Kepemimpinan Otokratis
Kepemimpinan yang semuanya serba bergantung terhadap pemimpi. Dalam kepemimpinan yang otokrasi, pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap anggota-anggota kelompoknya. Baginya, memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok. Kekuasaan pemimpin yang otokratis hanya dibatasi oleh undang-undang dan memberi perintah kewajiban bawahan atau anggotanya hanyalah mengikuti dan menjalankan tidak boleh membantah atau mengajukan saran.
Pemimpin yang otokratis tidak menghendaki rapat-rapat atau musyawarah. Berkumpul atau rapat hanyalah berarti untuk menyampaika intruksi-intruksi. Setiap perbedaan sebagai kepicikan, pembangkangan, atau pelanggaran disiplin terhadap perintah atau intruksi yang telah ditetapkannya. (Purwanto, 2005:29)
Menurut Martoyo, tipe otoriter ini menganggap kepemimpinannya merupakan hak pribadinya dan berpendapat bahwa ia dapat menentukan apa saja dalam organisasi, tanpa mengadakan konsultasi dengan bawahannya yang melaksanakan. Pengawasanya sangat tegang pula sehingga tepat apabila kepemimpinan atau pemimpin tipe ini dimanfaatkan untuk keadaan darurat, di mana suatu konsultasi dengan bawahan sudah tidak mungkin lagi. (Rohiat,2008:14)
Kepala sekolah yang otokrater biasanya tidak terbuka, tidak menerima kritik, dan tidak membuka jalan untuk berinteraksi dengan tenaga pendidikan, ia hanya memberikan interuksi tentang apa yang harus dikerjakan serta dalam menanamkan disiplin cenderung menggunakan paksaan dan hukuman.
Kepala sekolah yang otoriter berkeyakinan bahwa dirinyalah bertanggung jawab atas segala sesuatu, emnganggap dirinya sebagai orang yan paling berkuasa, dan paling mengetahui berbagai hal. Ketika dalam rapat sekolahpun ia menentukan berbagai kegiatan secara otoriter, dan yang dapat dominan dalam memutuskan apa yang akan dilakukan oleh sekolah. Para tenaga pendidikan tidak diberi kesempatan untuk memberikan pandangan, pendapat maupun saran. Mereka dipandang sebagai alat untuk melaksanakan apa yang telah ditetapkan oleh kepala sekolah. ( Mulyasa,2003: 269)
Pada situasi kepemimpinan pendidikan seperti ini dapat dibayangkan suasana kerja yang berlangsung di dalam kelompok tersebut bagaimana hubungan-hubungan kemanusiaan yang berlangsung dan bagaimana konflik-konflik antara pemimpin dan bawahan-bawahan dan antara anggota-anggota staff kerja itu sendiri. Penyelidikan yang dilakukan oleh Leppit seorang ahli kepemimpinan berkesimpulan bahwa konflik-konflik dan sikap-sikap atau tindakan agresif yang terjadi dalam suatu lemabaga di bawah pemimpin seorang pemimpin otoriter kurang lebih 30 kali sebanyak yang timbul dari pada dala suasana kerja yang dipimpin oleh seorang pemimpin demokratis. (Dirawat ,2000 :52)
2. Kepemimpin Lelssez-faire
Kepemimpinan Lelssez-faire adalah kepemimpinan yang semuanya bergantung pada bawahan (Burhanuddin,2002:138) tipe kepemimpinan ini sebenarnya pemimpin tidak memberikan pimpinan. Tipe ini diartikan sebagai membiarkan orang-orang berbuat sekehendaknya. Pemimpin yang termasuk tipe ini sama sekali tidak memberikan kontrol dan koreksi terhadap pekerjaan anggotanya. Pembagian tugas dan kerjasama diserahkan kepada anggota-anggota kelompok tanpa petunjuk atau saran-saran dari pemimpin. Kekuasaan dan tanggung jawab simpang siur, berserakan di antara anggota-anggota kelompok dan tidak merata. Dengan demikian, mudah terjadi kekacauan dan bentrokan-bentrokan. Tingkat keberhasilan organisasi atau lembaga yang dipimpin dengan gaya Lelssez-faire semata-mata disebabkan karena kesadaran dan dedikasi beberapa anggota kelompok dan bukan pengaruh dari pimpinannya (Purwanto, 2005: 49)
Tipe kepemimpinan ini pada dasarnya berpandangan bahwa anggota organisasinya mampu mandiri dalam membuat keputusan atau mampu mengurus dirinya maing-masing dengan sedikit mungkin pengarahan atau pemberian petunjuk dalam merealisasikan tugas pokok masing-masing sebagai bagian dari tugas pokok organisasi. Kontak yang terjadi antara pemimpin dan anggota kelompoknya terjadi apabila pemimpin memberikan informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan (Nawawi, 2003:147).
Pemimpin memberi sedikit dukungan untuk melakukan usaha secara keseluruhan. Kebebasan anggota kadang-kadang dibatasi oleh pemimpin dengan menetapkan tujuan yang harus dicapai disertai parameternya. Sedangkan yang paling ekstrim dalam tipe ini adalah pemberian kebebasan sepenuhnya pada anggota organisasi untuk bertindak tanpa pengarahan dan kontrol kecuali jika diminta. Dampaknya adalah sering terjadi kekacauan, karena tipe kepemimpinan ini membiarkan setiap anggota organisasi yang berbeda kepentingan dan kemampuannya untuk bertindak ke arah yang berbeda-beda. Pemimpin hanya menyediakan diri sebagai penasehat apabila diperlukan atau diminta (Nawawi, 2003:148)
Dalam kepemimpinan ini, Winardi (2006:64) mengatakan bahwa seorang pemimpin emeberikan kebebasan seluas-luasnya kepada para pengikutnya dalam hal menentukan aktifitas mereka. Ia tidak berpartisipasi, atau jika hal itu dilakukannya, maka partisipasi tersebut hampir tidak berarti. Pendekatan ini merupakan kebalikan langsung dari teori kepemimpinan otokratis. Kita dapat berbicara tentang non partisipasi sama sekali dari pihak pimpinan. Kelompok leissez-faire cenderung membentuk pemimpin informal.
Kepemimpinan leissez-faire disebut kepemimpinan bebas yang berarti bahwa seorang pemimpin adalah sebagai penonton yang bersikap pasif (Anoraga, 2001:8).
Dari beberapa definisi di atas, dapat penulis simpulkan bahwa tipe kepemimpinan leissez-faire adalah tipe kepemimpinan yang antara pemimpin dan bawahan tidak ada saling kepedulian, dalam arti pemimpin tidak memperhatikan bawahan, dan sebaliknya bawahan tidak mau tahu tentang pemimpin, sehingga kepemimpinan leissez-faire bias dikatakan sebagai kebalikan dari kepemimpian otokratis.
3. Kepemimpina Demokratis
Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang mana terjadi kerja sama antara pemimpin dan bawahan (Burhanuddin,2002:138). Dalam kpemimpinan demokratis ini kepemimpinan berdasarkan pada demokrasi, dalam arti bukan dipilihnya si pemimpin itu secara demokratis, melainkan cara yang dilaksanakan si pemimpin yang demokratis. Si pemimpin melaksanakan kegiatan sedemikian rupa sehingga setiap keputusan merupakan hasil musyawarah (Anoraga, 2001:8).
Martoyo mengatakan bahwa tipe kepemimpinan demokratis yaitu tipe kepemimpinan yang mana pemimpin menitikberatkan kepada partisipasi kelompok dengan meanfaatkan pendangan-pandangan atau pendapat-pendapat kelompok. Inisiatif dari kelompok sangat dianjurkan oleh pimpinan dari tipe ini, kegagalan kepemimpinan dari pemimpin tipe ini adalah apabila anggota kelompok tidak cakap dan kurang bergerak untuk bekerjasama (Martoyo, 2001:185)
Kepemimpinan demokratis yaitu tipe kepemimpinan yang mana pemimpin manafsirkan kepemimpinannya buka sebagai dictator, melainkan sebagai pemimpin di tengah-tengah anggota kelompoknya. Hubungan dengan anggota-anggota kelompok bukan sebagai majikan terhadap buruhnya. Melainkan sebagai saudara tua di antara teman-teman sekerjanya, atau sebagai kakak terhadap saudara-saudaranya. Pemimpin yang demokratis selalu berusaha menstimulasi anggota-anggotanya agar bekerja secara kooperatif untuk mencapai tujuan bersama dalam tindakan dan usaha-usahanya, ia selalu berpangkal pada kepntingan dan kebutuhan kelompoknya, dan mempertimbangka kesanggupan serta kemampua kelompoknya. Dalam melaksanakan tugasnya ia mau menerima bahkan mengharapkan pendapat dan saran-saran dari kelompoknya, juga kritik-kritik yang membangu dari apda anggota diterimanya sebagai umpan balik dan dijadikan bahan pertimbangan dalam tindakan-tindakan berikutnya (Purwanto, 2005:50).
Kepemimpinan demokratis menempatkan manusia sebagai factor terpenting dalam kepemimpina yang dilakukan berdasarkan dan engutamakan orientasi pada hubungan anggota organisasi. Filsafat demokratis yang mendasari pandangan tipe kepemimpian ini adalah pengakuan dan penerimaan bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki harkat dan martabat yang mulia dengan hak asasi yang sama. Dengan filsafat demokratis tersebut, diimplementasikan nilai-nilai demokratis di dalam tipe kepemimppinan yang terdiri dari:
1. Mengakui dan menghargai manusia sebagai makhluk individual, yang memiliki perbedaan kemampuan antara yang satu degan yang lain, tidak terkecuali di antara para anggota di lingkungan sebuah organisasi.
2. Memberikan hak dan kesempatan yang sama pada setiap individu sebagai makhluk sosial dalam mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri melalui prestasi masing-masing di lingkungan organisasinya sebagai sebuah masyarakat kecil.
3. Memberikan hak dan kesempatan yang sama pada setiap individu untuk mengembangkan kemampuannya yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, dengan menghormati nilai-nilai atau norma-norma yang mengaturnya sebagai mahluk normatif di lingkungan organisasinya masing-masing.
4. Menumbuhkan dan mengembangkan kehidupan bersama dalam kebersamaan melalui kerja sama yang saling mengakui, menghargai, dan menghormati kelebihan dan kekurangan setiap individu sebagai anggota organisasi.
5. Memberikan perlakuan yang sama pada setiap individu sebagai anggota organisasi untuk maju dan mengembangkan diri dalam persaingan yang fair dan sehat.
6. Memikul kewajiban dan tanggung jawab yang sama dalam menggunakan hak masing-masing untuk mewujudkan kehidupan bersama yang harmonis.
Nilai-nilai demokratis di atas dalam kepemimpinan tampak dari kebijakan pemimpin yang orientasinya pada hubungan manusiawi, berupa perlakuan yang sama dan tidak membeda-bedakan anggota organisasi atas dasar warna kulit, ras, kebangsaan, agama, status social, ekonomi, dan lain-lain (Nawai, 2003:134).
Dari pendapat para ahli di atas, dapat penulis simpulkan bahwa tipe kepemimpian demokratis adalah tipe kepemimpina yang menjadikan seorang pemimpin yang dihargai dan dihormati bawahan, seorang bawahan tidak dicurigai pemimpin. Jadi, adanya saling keterbukaan yang akhirnya akan menjadikan suksesnya suatu organisasi.

Posted by
Ahmad Efendi

More
English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic
Powered by Blogger.

Followers

OUR FACEBOOK

Sponsor Blog

Site Info

Copyright © 2012 Makalah Dunia ModernTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.