Not-
Found
Showing posts with label Al-Qur'an dan Al-Hadith. Show all posts
Showing posts with label Al-Qur'an dan Al-Hadith. Show all posts

Kesimpulan Alasan Dari Kelompak Yang Pro Tafsir Ilmi

Perdebatan kedua kelompok diatas menimbulkan dilema pada eksitensi tafsir ilmi, apalagi ini diperparah dengan kenyataan bahwa tokoh-tokoh diantara kedua pihak merupakan para ulama yang mempunyai kredebilitas dan kedudukan yang tinggi didalam ranah dunia keilmuwan islam seperti Al-Ghazali, dari kelompok yang pro pada tafsir ilmi dan dari kelompok yang menolak tafsir ilmi ada Asy-syatibi. Meskipun mereka saling mengkritik, tapi latar belakang dari perdebatan tersebut punya satu kesamaan yaitu keduanya sama-sama berniat baik, tidak berpendapat atas dasar nafsu maupun berdasarkan kepentingan duniawi. Oleh karena itu, dari kesamaan tersebut kedua kelompok tersebut masih bisa dipertemukan dalam satu titik yang tidak memihak.
Hujjah pihak yang menolak tafsir ilmi yang mengatakan tidak boleh memahami Al-Qur’an kecuali sesuai dengan apa yang difahami oleh para ulama terdahulu (sahabat, tabi’in) menurut penilaian kami adalah suatu hujjah yang terlalu berlebihan karena yang wajib memahami Al-Qur’an bukan hanya para sahabat saja akan tetapi semua generasi sesudahnya juga wajib untuk memahami Al-Qur’an sesuai dengan fikirannya masing-masing. Sedangkan fikiran manusia setelah generasi sahabat tidak akan sama dengan pola pikir para sahabat. Karena lingkungan dan kebutuhan yang berbeda dengan para sahabat. Oleh sebab itu, memahami Al-Qur,an berbeda dengan pemahaman para sahabat merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja agar Al-Quran mampu menjawab tantangan setiap zaman.
Ulama yang mengatakan penafsiran Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan adalah sebuah penempatan yang tidak etis karena sifat masing-masing yang kontradiksi, Al-Qur’an yang absolute kebenarannya tidak dapat disandingkan dengan ilmu pengetahuan yang bersifat labil kebenarannya. Sebenarnya pendapat ini tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Karena perlu diingat bahwa teori sains ada yang sudah mapan atau mantab dan ada teori yang belum mapan sehingga kemungkinaan berubahnya sangat besar. Dengan demikian teori sains yang belum mapan inilah yang tidak boleh digunakan dalm menfsirkan ayat AlQur’an. Kalau memang ada temuan sains yang cocok dengan dohir ayat Al-Qur’an dan menurut keyakinan kita itu adalah benar, apakah harus dibiarkansaja?, sedangkan menyambunyikan kebenaran ayat allah tidak dibenarkan dalam Al-Qur’an, Al-Baqarah[2]:159,

Posted by
Ahmad Efendi

More

Produksi Dan Reproduksi Manusia

Produksi berasal dari kata dasar produk yang punya arti buatan atau hasil, sedangkan produksi sendiri punya arti pembuatan atau menghasilkan. Kalau ditambahi didepannya “re” maka berarti pembuatan kembali sesuatu yang sudah ada atau dalam kata yang sederhana disebut perkembangbiakan. Dengan demikian produksi adalah pembuatan pertama kali sedangkan reproduksi merupakan pembuatan yang kedua atau diatasnya(3,4,5,…). Tapi reproduksi dalam skripsi ini dimaksudkan bukanlah penciptaan manusia yang kedua yaitu Hawa disamping juga bukan penciptaan manusia pertama yaitu Adam a.s. dan juga bukan penciptaan manusia yang tidak ilmiah atau tidak sesuai dengan sunatullah, seperti nabi Isa a.s. Yang kami maksud dengan istilah reproduksi manusia disini adalah proses penciptaan kembali manusia yang berlangsung didalam kandungan ibu dan dengan proses yang ilmiah. Dengan kata lain reproduksi manusia adalah proses perkembnagbiakan manusia dalam upaya untuk mempertahankan populasinya.
Nabi Adam termasuk dalam wilayah produksi manusia bukan reproduksi manusia. Qurais Shihab mengatakan bahwa Al-Qur’an dalam mengungkapkan penciptaan Adam dengan saat mengungkapkan penciptakan manusia umum ada perbedaan. Untuk konteks penciptaan Adam Al-Qur’an selalu mengunakan bentuk tungal atau mengunakan kata Annas(الناس), Shad [38]: 71,

Artinya:
“ ketikan tuhanmu berfirman kepada malaikat Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”.
Sedangkan untuk menunjuk penciptaan manusia umum saja atau manusia umum dengan Adam as, Al-Qur’an selalu mengunakan bentuk jamak dan dengan kata insan(الانسان). At-Tin[95]:4,

Artinya:
“ Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik- baiknya.”
Ha1 itu untuk menunjukkan perbedaan proses kejadian manusia secara umum dan proses kejadian Adam a.s. Penciptaan manusia secara umum, melalui proses keterlibatan Tuhan bersama selain-Nya, yaitu ibu dan bapak. Keterlibatan ibu dan bapak mempunyai pengaruh menyangkut bentuk fisik dan psikis anak, sedangkan dalam penciptaan Adam, tidak terdapat keterlibatan pihak lain termasuk ibu dan bapak. , contoh ayat yang menunjukkan penciptaan Adam dan manusia umum, Ini bisa dijumpai dalam surat Al-Hijr ayat 26,

Artinya:
“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”
Jalaludin as suyuti dalam kitabnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan manusia didalam ayat tersebut adalah nabi Adam a.s, ini karena pada ayat sesudahnya konteksnya adalah berbicara sujudnya malaikat dan pembangkangan Iblis untuk sujud pada nabi Adam. Tapi meski konteksnya berbicara penciptaan Adam tapi juga berlaku manusia umum karena nabi Adam dan manusia umum diciptakan dari tanah.
Dan penciptaan nabi Isa a.s dan Hawa juga tidak dalam wilayah pembahasan ini karena proses penciptaan keduannya tidak berjalan dengan sewajarnya yang biasa dialami manusia pada umumnya. Sebenarnya ada kesamaan antara penciptaan nabi Adam dan nabi Isa karena keduannya saman-sama diciptakan dari tanah, seperti dalam ayat berikut, Ali imran[3]:59,

Artinya:
“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, Kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah Dia.”
Penciptaan manusia global, berbeda prosesnya dengan penciptaan nabi Adam ataupun nabi Isa. Keduanya tanpa mengalami proses yang rumit didalam rahim ibu dan tanpa proses ilmiah. Al-Qur’an menginformasikan manusia umum penciptaannya juga berasal dari tanah seperti penciptaan Adam dan Isa alihimassalam,mungkin inilah mengapa pada surat Al-Hijr ayat 26 mengunakan kata insan meskipun dalam konteksnya berbicara tentang asal penciptaan nabi adam mungkin karena asal penciptaan nabi Adam sama dengan asal penciptaan manusia pada umumnya yaitu sama dari tanahnya maka ayat tersebut mengunakan kata insan (الانسان) tapi bedannya kalau penciptaan manusia umum melalui proses yang dilalui didalam rahim ibu. Setelah berupa tanah nabi Adam dan nabi Isa atas kehendak Allah kunfayakun maka wujudnya menjadi sempurna. Sedangkan manusia umum melalui berbagai tingkatan, Al-Insiqaq{84} ayat 19,

Posted by
Ahmad Efendi

More

Kelompok yang Pro pada Tafsir Ilmi (Saintifik)

Kelompok yang mendukung tafsir ilmi beralasan bahwa tafsir ilmi adalah sebuah keniscayaan sejarah dan bagian dari upaya mendialogkan Al-Qur’an dengan aktualitas, dengan konteks, dan sebagai respon terhadap perkembangan zaman yang senantiasa bergerak. Kelahiran tafsir ilmi merupakan dinamika yang wajar dalam batang tubuh umat Islam. Keberadaan tafsir ilmi dapat membuka tabir-tabir makna yang selama ini belum terungkap dan bahkan dalam beberapa kasus dapat merevisi berbagai pandangan atau tafsiran yang sejatinya bertolak belakang dengan visi dan paradigma al-Qur’an sendiri.
Apalagi ibadah-ibadah utama dalam agama Islam berkaitan langsung dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti shalat yang membutuhkan ilmu geografi dan astronomi, penentuan puasa yang membutuhkan ilmu astronomi, dan lain sebagainya. Kelompok pertama ini didukung oleh Imam Al-Ghazali. Kelompok ini mendasarkan pendapatnya pada ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah Swt. telah menerangkan segala sesuatu dalam Al-Kitab dan Allah Swt. menurunkan Al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
Bila Al-Gazali dikenal sebagai peletak tafsir ilmi secara teoritis, Fahrur Ar-Razi merupakan orang pertama yang menerapkan ilmu pengetahuan yang bercorak saintis dan pemikiran untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Hal tersebut dapat dilihat dalam kitabnya Mafatih Al-Ghaib atau yang juga populer dengan Tafsir Al-Kabir. Kemudian, tafsir ilmi dikembangkan oleh mufasir berikutnya, seperti Muhammad ‘Abduh, Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi, Mahmud Syukri Al-Alusi, Thantawi Jauhari, dan yang lainnya. Mereka yang disebut belakangan ini disebut sebagai mufasir di era modern.
Kelompok yang pro ini memberikan apresiasi yang berbeda terhadap penerapan tafsir limi. Ada yang menjelaskan ayat Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh sang mufasir, atau fungsi tabyin. Ada yang berkeinginan membuktikan kebenaran teks al-Qur’an menurut ilmu pengetahuan mutakhir, atau fungsi I’jaz. Hal ini memberi stimultan kepada umat Islam dan Ilmuwan dalam meneliti dan observasi ilmu pengetahuan lewat teks-teks Al-Qur’an. Terakhir, fungsi istikhraj al-‘ilm atau ta’ziz, yakni ayat-ayat al-Qur’an mampu melahirkan dan memperkuat teori-teori ilmu pengetahuan mutakhir.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Alasan Para Tokoh Pro/menyukai Tafsir Ilmi

1. Al-Ghazali
Dalam dunia Islam, Imam Al-Ghazali diyakini sebagai pelopor atau peletak dasar tafsir ilmiah secara teoritis. Al-Ghazali berpendapat bahwa setiap kata dalam al-Qur’an mempunyai makna zhahir dan batin, serta makna yang tersurat dan tersirat. Abu Hamid al-Ghazali al-Thusi seorang ahli falsafah dan juga tasawwuf yang meninggal pada 1111 Masihi bersamaan 505 Hijrah. Al Ghazali menulis sebuah kitab dengan judul Jawahirul Quran, di dalamnya terdapat bab khusus yang menerangkan bagaimana ilmu yang berasal dari Al Quran sudah bercabang-cabang, yaitu ilmu-ilmu keagamaan, berbagai macam ilmu dunia, ilmu bahasa, ilmu-ilmu yang telah ada dan yang masih terus dipelajari, ilmu yang sebenarnya sudah ada tetapi belum dikenal manusia, dan ilmu-ilmu yang akan muncul kemudian hari. Menurut Al Ghazali, semua cabang ilmu pengetahuan terdapat dalam al-Qur’an, baik yang telah berhasil diungkap maupun yang belum terungkap. Imam Ghazali menyatakan bahwa seluruh ilmu tercakup dalam Af’al Allah, dan sifat-sifat Allah. Sedangkan Al-Qur’an adalah penjelas (syarah) dzat, sifat, dan afal Allah. Dengan demikian memahami Al-Qur’an lewat pendekatan sains secara tidak langsung bisa mengungkap keesaan, zat, sifat dan af’al Allah sehingga semakin mempertebal iman seorang yang mempelajarinnya. Bukankah salah satu tujuan utama Al-Quran adalah sebagai Hudan li nas. Di antara contoh ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Af’al Allah ialah firmans Allah ta’ala yang berkaitan dengan kisah nabi Ibrahim: Asy-Syu’araa’[26]: 80,

Artinya:
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku”
Kalimah al-Syifa’ dan al-Mardh dalam ayat ini ialah di antara af’al Allah yang tidak diketahui oleh sesiapa pun kecuali orang yang benar-benar tahu mengenai ilmu kedoktoran dan selok-belok penyakit dan juga tanda-tanda penyakit itu dengan lebih luas dan terperinci.
Dalam karya Masterpeace-nya, Ihya’ Ulumuddin, dengan mengutip pendapat Ibn Mas’ud, Al-Ghazali menyatakan,
مَنْ اَرَادَ عِلْمَ الاَوَّلِينَ وَالاَخِرِيْنَ فَلْيَتَدَ بَّرَالقُرْاَنَ
Artinya:
“siapa saja yang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern, ia harus merenungkan ayat al-Qur’an”.
Hal ini menegaskan bahwa Al-Ghazali menafsirkan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan releven untuk diterapkan.
Melalui keterangan dan penjelasan di atas, dapat di fahami bahawa al-Ghazali berusaha menunjukkan kepada kita bahawa al-Quran merupakan sumber ilmu pengetahuan yang tidak terbatas kerana di dalamnya telah diungkapkan af’al dan sifat-sifat-Nya yang hanya dapat ditemukan oleh orang-orang yang memahaminya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh al-Ghazali sebagai pembuktian akan kebenaran sains yang banyak dijelaskan oleh al-Quran.
2. Jalaluddin Assuyuti
Menurut Muhammad Husain Al-Dhahabi (1976), Jalaluddin Assuyuti adalah salah seorang yang menyokong dan menerima penggunaan tafsir Ilmi ini. Adapun alasan beliau sama halnya dengan Al-Ghazali dan beliau telah jelaskan secara panjang lebar dalam kitabnya ‘Itqan’, yang mana antara intipatinya ialah: “Bahawa hakikat seluruh ilmu itu bersumber dari Al Qur’an”. Hal ini berdasarkan pada firmanAllah Al-An’am[6]: 38,

Artinya:
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab,Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”.
Dalam ayat diatas tampak jelas bahwa tidak ada sesuatu pun yang tidak dibahas dalam Al-Qur’an, dengan demikian pembahasan ilmu pengetahuan juga pasti mendapat tempat tersendiri dalam Al-Qur’an. Itu sebabnya, menafsirkan Al-Quran dengan pendekatan sains sangat mungkin untuk dilakukan. Para peneliti menemukan 800 ayat Al-Quran yang membahas ilmu pengetahuan.
3. Abu Al-fadl Al-Mursi
Abu Al-fadl Al-Mursi pula mengatakan bahawa segala macam ilmu baik yang terdahulu maupun yang kemudian adalah bersumber dari Al Quran. Seperti: ilmu kedoktoran, Fisika, Industri, dan sebagainya. Dalam ilmu kedoktoran, Al Quran mencakupi cara dan langkah-langkah yang perlu ditempuh seseorang menuju hidup sehat serta menjadikan tubuh kuat. Berikut ini adalah ayat yang berhubungan dengan kedokteran: . Nahl[16]:69,

Artinya:
“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang Telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan .”
Selain ayat di atas, masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal-hal ilmiah. Di akhir tafsirnnya, Abu Al Fadl berkata bahawa dalam Al- Quran terkandung segala ilmu baik ilmu pengetahuan, baik yang sudah ada namanya atau belum. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh al-Quran: Al An’am ayat 38 dan An Nahl ayat 89, serta beberapa buah hadis.
4. Tanthawi Jauhari
Menurut Tanthawi, beliau telah meneliti ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan hasil bahwa tidak kurang dari 750 ayat Al-Qur’an yang bercerita tentang ilmu pengetahuan dan mendorong manusia ke arah kemajuan ilmu pengetahuan. Ini jauh lebih banyak dari pada ayat-ayat yang menekankan ilmu fiqih yang berjumlah tidak lebih dari 500 ayat sareh (jelas) sehingga beliau heran mengapa mufassir klasik hanya mengkaji dan menekankan banyak hal tentang ilmu fiqih dan lengah terhadap arahan Al-Qur’an tentang ilmu tumbuh-tumbuhan, Biologi, ilmu hitung, fisika, sosial dan seterusnya. Inilah salah satu hujjah mengapa Tanthawi kemudian memunculkan satu corak tafsir dengan pendekatan ilmiah,
Tanthawi selalu mengatakan Islam adalah agama akal. Maksudnya, ilmu pengetahuan sesuai dengan tuntunan Al Quran, Dalam bukunya Nidzam Al-'Alam wa Al-Umam (Keteraturan Alam Semesta dan Bangsa-bangsa), beliau menegaskan bahwa agama Islam merupakan agama fitrah, relevan dengan rasio manusia dan penciptaan jasmani manusia (al-Jhiba' al-Basyariyah), dan bahwa agama Islam kompatibel dengan hukum alam dan ilmu- ilmu modern.
Disamping itu, Al-Qur’an juga merupakan mukjizat ilmiah, oleh kerana ia mencakup segala macam-macam penemuan dan teori-teori ilmiah modern. Al-Qur’an itu menghimpun ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak kesemuanya dapat dijangkau oleh manusia, bahkan lebih dari itu ia mengemukakan hal-hal jauh sebelum ia turun dan yang akan terjadi. Di dalamnya terdapat pula kaedah-kaedah yang menyeluruh dan prinsip-prinsip umum tentang hukum alam yang boleh kita saksikan, fenomena-fenomena alam yang boleh kita lihat dari waktu ke waktu dan hal-hal lain yang boleh diungkap oleh ilmu pengetahuan modern dan kita menduga itu semua sebagai suatu yang baru. Itu semua sebenarnya bukan suatu yang baru menurut Al-Qur’an, sebab kesemuanya telah diungkap dan diisyaratkan oleh ayat-ayat muhkamat dalam Al Quran. Contohnya adalah: Al-A’raf[7]: 58,

Artinya:
“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamanya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur .
Adapun ayat diatas menunjukan bahawa walaupun dengan kehendak dan keizinan-Nya supaya segala tumbuhan menjadi dan subur, tetapi kesesuaian tanah dan kesuburan tanah juga merupakan syarat tumbuhnya tanaman tersebut, kerana tidak semua tanaman dapat tumbuh pada tanah yang sama. Tafsiran ini menunjukkan bahawa Tanthawi berusaha untuk memberikan pengertian atau situasi baru, bahwa Al Quran sudah memberikan petunjuk tentang keilmiahannya, dan keilmiahan itu sesuai dan berlaku dengan ilmu pengetahuan yang ada.
Usaha Tanthawi Jauhari dalam menafsirkan ayat al-Quran dengan pendekatan tafsir ilmi ini mendapat sambutan yang baik dari berbagai kalangan ulama tafsir ilmi, sehingga sekarang banyak kemunculan kitab yang mengulas secara ilmiyah, seperti yang dilakukan oleh Hanafi Ahmad dengan kitabnya at-Tafsir al-Ilmi li al-Ayah al-Kawniyah, dan juga kitab-kitab lain yang terus berkembang sehingga ke hari ini.
5. Fakhruddin al-Razi
Abu Abullah Fakhruddin al-Razi adalah seorang mufassir yang berasal dari Tabrustan Iran, sebuah tempat yang dibuka oleh orang-orang Islam pada zaman khalifah Usman bin Affan. Beliau mentafsirkan ayat kauniyah dan teori ilmiah bagi memudahkan orang lain untuk memahami kitab Allah. Di antaranya contoh ayat yang ditafsirkan oleh beliau ialah ayat 16 dari surah al-Nahl yang berkaitan dengan lebah dan keajaiban-keajaiban yang ada pada lebah, bagaimana lebah membina rumah dan bagaimana Allah mengilhamkan kepada lebah untuk menghasilkan madu dari bunga. an-Nahl[16]: 16,

Artinya:
“Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). dan dengan bintang-bintang Itulah mereka mendapat petunjuk”.
6. Harun Yahya
Perkembangan ilmu pengetahuan modern ketika ini telah memperbanyakkan lagi kemunculan hasil-hasil pentafsiran yang bercorak ilmi. Pentafsiran seperti ini biasanya menekankan pada pembahasan tentang ayat-ayat kauniyah yang ditafsirkan dengan menggunakan penemuan-penemuan ilmiah sebagai penjelasan dari ayat-ayat kauniyah tersebut. Model pentafsiran yang seperti ini dilakukan oleh Harun Yahya untuk mentafsirkan ayat-ayat tentang keruntuhan teori evolusi Darwin terutamanya mengenai asal-usul manusia yang disesuaikan dengan penemuan-penemuan ahli bidang antropologi dan biologi moden seperti Roy Britten dan tokoh-tokoh lainya. Ini adalah berdasarkan kepada firman Allah: As-Sajdah[32]: 7,

Artinya:
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”
Pentafsiran ayat-ayat yang berkaitan dengan teori evolusi Darwin oleh Harun Yahya ini difokuskan pada beberapa ayat yang mengetengahkan asal-usul manusia. Perbedaan tentang penciptaan manusia menurut Darwin dan al-Quran inilah yang mendorong Harun Yahya mengkaji dan meneliti dengan menggunakan teori sains. Hasil yang diperolehi dalam penelitian tersebut adalah bahawasanya Harun Yahya dengan tegas menolak apa yang dikatakan oleh Darwin dalam slogannya bahawa asal-usul manusia tercipta dari bangsa kera. Kerana dalam pandangan Harun Yahya teori evolusi ini runtuh dengan beberapa sebab diantaranya:
1. Jenis-jenis makhluk hidup tidak boleh berubah dan tidak mungkin terjadi perubahan dari satu bentuk ke satu bentuk yang lain. Conyohnya: seekor ikan tidak akan menjadi seekor burung atau seekor mamalia seperti ikan paus duduk didarat.
2. Setiap jenis makhluk yang hidup lahir dari leluhur yang sama.
3. Tiada catatan fosil yang menunjukkan atau merekod bentuk transisi yang mungkin berlaku.
4. Kerumitan dan kesempurnaan pada tubuh dari DNA makhluk hidup tidak berlaku kerana kebetulan, tetapi merupakan bukti bahawa ada yang merancang kerumitan tersebut.
7. Zaghlul al-Najjar
Pendukung tafsir ilmi zaman modern, Zaghlul al-Najjar yang seorang pakar geologi asal Mesir, dan sejak tahun 2001 menjadi Ketua Komisi Kemukjizatan Sains Al-Qur'an dan Al-Sunnah di "Supreme Council of Islamic Affairs" Mesir. Zaghlul berkeyakinan penuh bahwa Al-Qur'an adalah kitab mukjizat dari aspek bahasa dan sastranya, akidah-ibadah-akhlaq (tasyri'), informasi kesejarahannya, dan tak kalah pentingnya adalah dari sudut aspek isyarat ilmiahnya. Dimensi kemukjizatan yang disebut terakhir ini maksudnya adalah keunggulan kitab ini yang memberikan informasi yang menakjubkan dan akurat tentang hakikat alam semesta dan fenomenanya yang mana ilmu terapan belum sampai ke hakikat itu kecuali setelah berabad-abad turunnya Al-Qur'an. Sehingga tidak mungkin bagi orang yang berakal menetapkan sumber hakikat ilmiah itu selain dari pada Allah swt. Hal ini adalah bukti penguat bagi ahli ilmu pengetahuan di zaman ini bahwa Al-Qur'an itu benar-benar firman Allah yang telah menurunkannya kepada Rasul terakhir atas dasar ilmu-Nya dan berfungsi untuk membenarkan Nabi Muhammad saw.
Al-Qur'an menyuruh umat manusia untuk merenungi proses penciptaan yang tak pernah disaksikan oleh manusia, Zaghlul menilai dalam rangka mengkompromikan konteks dan tujuan ayat-ayat Al-Qur’an, penciptaan langit dan bumi, kehidupan, juga manusia yang memang terjadi di luar kesadaran manusia yang mutlak. Namun Allah swt menyisakan beberapa bukti di lempengan bumi dan lapisan langit yang dapat membantu manusia untuk menyatakan asumsi proses penciptaan. Akan tetapi asumsi yang bisa diraih ilmuan di bidang ini baru sebatas hipotesa dan teori belaka, dan belum sampai pada tingkatan hakikat/fakta keilmuan. Zaghlul menilai bahwa ilmu terapan di bidang hakikat penciptaan tak dapat melampaui teorisasi belaka. Varian teori penciptaan ini pun tergantung asumsi dan keyakinan para pencetusnya. Kesimpulan ilmuan yang beriman akan berbeda dengan ilmuan atheis atau yang netral agama.
Pada posisi inilah, bagi ilmuan muslim tersedia cahaya Allah swt yang terdapat dalam ayat Al-Qur'an atau hadis Nabi. Cahaya yang diberikan "gratis" oleh Allah dan Rasul-Nya itu dapat membantu ilmuan muslim untuk mengangkat salah satu teori dan asumsi sains ke tingkat hakikat ilmiah, bukan karena ilmu terapan itu yang menetapkannya, akan tetapi lebih karena terdapat isyarat hakikat ilmiah itu dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Artinya kita telah memenangkan ilmu dengan informasi Al-Qur'an atau Sunnah dan bukan sebaliknya, memenangkan Al-Qur'an dengan bantuan ilmu. Di sinilah letak keunikan dan keistimewaan teori i'jaz yang diajukan Zaghlul.
Dengan kepiawaiannya di bidang tafsir Al-Qur'an berbasis sains, ia rutin menulis artikel tetap di rubrik "Min Asrar al-Qur'an", (Rahasia Kemukjizatan Al-Qur'an) setiap hari senin di Harian Al-Ahram Mesir yang bertiras 3 juta eksemplar setiap harinya. Hingga kini telah dimuat lebih dari 250 artikel tentang kemukjizatan sains dalam Al-Qur'an.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Prosedur Penerapan Metode Maudu'I(Tematik)

Prosedur yang digunakan dalam metode tafsir Tematik tidak ada perdebatan diantara para ulama’ mufasir yang mengunakan metode tematik ini. paling tidak ada tujuh, tapi tidak semua mufasir mengunakannya secara keseluruhan, umumnya mereka menerapkannya sebagian bahkan ada yang tidak mengunakan sama sekali prosedur ini.
Sebagai contoh, Berikut ini adalah prosedur penafsiran Al-Qur'an secara Tematik yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Abdul Hay Al-Farmawiy, yang juga menjabat guru besar pada Fakultas Ushuluddin Al-Azhar, menerbitkan buku Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-Mawdhu'i dengan mengemukakan secara terinci langkah-langkah yang hendaknya ditempuh untuk menerapkan metode mawdhu'iy. Langkah-langkah tersebut adalah:
1. Menentukan tema atau judul yang akan di teliti.
2. Me-Research ayat-ayat yang berkaitan dengan tema untuk kemudian dihimpun.
3. Menyusun ayat tersebut sesuai dengan kronologinya (asbabunnuzulnya), mendahulukan ayat makiyah daripada surat madaniyah
4. Memahami korelasi(munasabah) ayat-ayat tersebut dengan ayat-ayat lainnya didalam suratnya masing-masing.
5. Menyusun tema pembahasan dalam kerangka yang sistematis.
6. Mengambil hadist-hadist yang releven dengan pokok bahasan sebagai pendukung dan pelengkap
7. Membahas ayat ayat tersebut secara tematik dan koperhensif dengan cara mengkoleksi ayat-ayat yang mempunyai muatan isi yang sama mengkompromikan antara pengertian yang umum dan yang khusus, mutlak dan muqoyad, mensingkronkan antara antar ayat yang nampak kontradiktif, menjelaskan nasah dan mansukh sehinga semua menyatu dalam satu makna tanpa perbedaan dalam penafsiran.
Prosedur ini juga diterapkan oleh Quraish shihab dengan menambahi satu prosedur lagi sehingga menjadi delapan. Yaitu: Menyusun kesimpulan yang mengambarkan jawaban dari Al-Qur’an tentang masalah yang dibahas.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Ayat-Ayat Reproduksi Manusia

Menurut Achmad Fahrudin dkk, memasukkan 28 ayat yang membahas tentang embrio ini, ini mengindikasikan bahwa ayat Al-Qur’an yang berbicara reproduksi manusia tidak sedikit dan tersebar diberbagai surat dalam Al-Qur’an. Maurice Bucaille seorang ahli bedah berekebangsaan prancis mengakui menemui kesulitan dalam mencari ayat-ayat yang memuat reproduksi manusia meskipun pada akhirnya beliau berhasil mengumpulkan 23 ayat yang tersebar didalam Al-Qur’an. Sedangkan kami sendiri setelah melakukan research diseluruh surat dalam Al-Qur’an kami berhasil menemukan 38 ayat didalam 27 surat yang berbeda.
Kata kunci yang kami pakai adalah kata-kata yang mempunyai arti menciptakan ( dipilih hanya dalam konteks penciptaan manusia) seperti kata kholaka (خلق), shawara (صوّر), dan kata lain yang mengandung makna penciptaan manusia.
Hasil penelitian ayat tersebut akan kami urutankan sesuai turunnya dan kami kelopokkan sesuai tempat turunnya sebagaiberikut,
A. Makkiyah
1. Al-Alaq{96} ayat 2:

Artinya:
”Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah”.
2. An-Najm{53} ayat 45-46:

Artinya:
“Dan bahwasanya dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. Dari air mani, apabila dipancarkan”.
3.Abasa {80} ayat 19:

Artinya:
“Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya.”
4. Al-Qiyammah{75} ayat 37-39:

Artinya:
“Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.”
5. Al-Mursalat{77} ayat 20-21:

Artinya:
“Bukankah kami menciptakan kamu dari air yang hina?, Kemudian kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim),”
6. At-Tariq{86} ayat 6-7:

Artinya:
“Dia diciptakan dari air yang dipancarkan,Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.”
7. Al-Mu’minun{23} ayat 12-14:

Artinya:
“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”
8.As Sajadah{32} ayat 7-9:

Artinya:
“Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
9. Al-Ma’aarij{70} ayat 39:

Artinay:
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani)”
10.Al-Infitaar{82}ayat 7-8:

Artinya:
“Yang Telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang,Dalam bentuk apa saja yang dia kehendaki, dia menyusun tubuhmu”.
11.Al-Insiqaaq{84} ayat 19

Artinya:
“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan),”
12.Ar ruum{30} ayat 20:

Artinya:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari tanah, Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.”
13.An-Nahl{16} ayat 4:

Artinya:
“Dia Telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.”
14.An-Nuh{71} ayat 14:

Artinya:
“Padahal dia Sesungguhnya Telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”
15.Al-Waqi’ah{56} ayat 58:

Artinya:
“ Maka Terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan.”
16.Yassin{36} ayat 77:

Artinya:
“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa kami menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”
17.Al-An’am{6} ayat 2 dan 98:

Artinya:
“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang dia sendirilah mengetahuinya), Kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).”

Artinya:
“Dan dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, Maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya Telah kami jelaskan tanda-tanda kebesaran kami kepada orang-orang yang Mengetahui.”
18.As Saaffat{37} ayat 11:

Artinya:
“Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): "Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang Telah kami ciptakan itu?" Sesungguhnya kami Telah menciptakan mereka dari tanah liat.”
19.Az-Zumar{39} ayat 6:

Artinya:
“Dia menciptakan kamu dari seorang diri Kemudian dia jadikan daripadanya isterinya dan dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan[1306]. yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”
20.Al-Mu’min{40} ayat 67:

Artinya:
“ Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).”
21,Al-Furqaan{25} ayat 54:

Artinya:
“Dan dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah[1070] dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.”
22.Al-Fatir{35} ayat 11:

Artinya:
“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari air mani, Kemudian dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.”
23.Ali Imran{3} ayat 6:

Artinya:
“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
24.Al-Ra’d{13} ayat 8:

Artinya:
“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang Sempurna dan yang bertambah. dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.”
25.Al-Kahfi{18} ayat 37:

Artinya:
“Kawannya (yang mukmin) Berkata kepadanya - sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes air mani, lalu dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?”
26.Al-Hajj{22} ayat 5:

Artinya
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya kami Telah menjadikan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes mani, Kemudian dari segumpal darah, Kemudian dari segumpal daging yang Sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, Kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, Kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya Telah diketahuinya. dan kamu lihat bumi Ini kering, Kemudian apabila Telah kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”
B. Madaniyah
27,Al-Insan{76} ayat 2:

Artinya:
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar dan Melihat.”

Posted by
Ahmad Efendi

More

PRO DAN KONTRA TAFSIR ILMI

Tafsir ilmi baru-baru ini saja muncul yaitu ketika sudah banyak teori sains yang ditemukan oleh para ilmuan dan pada masa ulama klasik tafsir ini belum ada oleh karena itu kemunculan tafsir ilmi ini mendapat respon yang berbeda di kalangan ulama’ tafsir adayang pro dan ada yang kontra.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Reproduksi Manusia menurut Al-Qur'an

Sudah menjadi fitrah manusia untuk selalu ingin tahu akan segala hal,dia paling senang untuk mengetahui hal-hal yang misterius yang belum mereka ketahui,dia akan terus mencari hingga hal yang misterius tersebut dapat dia mengerti secara jelas, mereka mengunakan banyak metode untuk memenuhi hasratnya tersebut, baik lewat obserfasi, penyelidikan,maupun lewat riset dan mereka tidak akan diam sebelum rasa penasarannya dapat terpuaskan dengan kejelasan hal yang misterius tersebut.
Bukan hanya sekedar ingin tahu saja, tapi lebih dari itu, yaitu agar hasil temuannya itu dapat memberikan sumbangsih bagi dunia ilmu pengetahuan dan mencatatkan diri dalam sejarah peradapan manusia serta bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan ilmu pengetahuan akan mengembangkan pula peradapan manusia.semakin maju ilmu pengetahuan suatu kaum maka tingkat peradapannya juga akan maju begitu sebaliknya.Ilmu pengetahuan memang merupakan salah satu refrensi bagi kesejahteraan peradapan manusia. Itu semua agar predikat manusia sebagai khoirul ummah tetap terjaga dan bukan hanya sekedar wacana tapi juga dapat terbuktikan dalam realitas.
Manusia punya kelebihan atas hewan bukan karena kekuatannya,fisiknya atau kelebihan yang lainnya tapi manusia lebih unggul daripada binatang karena akalnya. Manusia kalah kuat dari Gajah, manusia kalah cepat dengan Kuda.Jika pengetahuan manusia semakin maju dan berkembang maka itu berarti manusia masih mengunakan akalnya dengan baik.Akal adalah anugrah dari Allah yang punnya konsekuensi tangung jawab untuk mensukurinnya. Akal bertugas untuk berfikir, lewat tindakan berfikir inilah manusia bisa meningkatkan qualitas iman dan ketakwaan sehingga bisa terus Istiqomah dalam beramal. Oleh karena itu, Allah menganjurkan manusia untuk berfikir dalam firmannya diantarannya: Q.S. Al-Anam[6]:65,
                   •         
Artinya:
“ Katakanlah: " dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti] agar mereka memahami(nya)".
Dengan akalnya manusia bisa mereduksi rasa keingintahuannya akan segala hal. Dia pergi ke Bulan, ruang angkasa dan melakukan berbagai penelitian atas fenomena-fenomena yang terjadi di Alamsemesta. Jika masalah yang jauh tempatnya seperti Tatasurya dan fenomena-fenomena Bimasakti manusia berambisi maka sangat logis sekali jika masalah fenomena-fenomena yang ada di dalam diri manusia sendiri akan lebih mereka ambisiuskan. Salah satu fenomena yang ada didalam diri manusia adalah masalah reproduksi manusia beserta prosesnya yang insya' Allah akan kami teliti dari perspektif Al-Qur'an. Akan sangat konyol sekali jika manusia yang telah tahu tentang derbagai fenomena-fenomena di tempat jauh seperti di luar angkasa tapi masalah fenomena yang terjadi dalam diri manusia mereka tidak tahu. Begitu pentingnya masalah ini sampai ada hadist "Barangsiapa tahu akan dirinya sendiri maka dia akan tahu akan tuhannya". Karena alasan inilah Allah mencantumkan masalah reproduksi manusia dalam firman-Nya(Al-Qur'an) yang tersebar di berbagai ayat.
Para Ilmuwan barat di dorong oleh fitrahnya tersebut, telah banyak melakukan penelitian demi menyingkap fenomena reproduksi manusia. Pada mulannya masalah reproduksi manusia masih hanya sebuah hayalan hingga peralatan modern sudah memadai untuk melakukan penelitian embrio yang punya ukuran super mikro tersebut. Disamping sudah adannya peralatan modern yang memadai seperti Mikroskop, para ilmuan melakukan penelitian juga setelah ada ilmu-ilmu fundamental yang menjadi sumber refrensi seperti Fisiologi, Embriologi, Obstetrik dan lain-lain.
Walaupun Mikroskop sudah di temukan pada abad 16 M oleh Leeu Wenhook tapi tidak dengan mudah masalah embrio ini di ungkap dengan cepat, masalah embrio manusia masih berupa bayang-bayang. Hingga abad 20 M.
Dalam proses penelitian selain menghabiskan waktu yang panjang, para Ilmuwan juga banyak menghabiskan biaya di samping menghabiskan banyak tenaga tentunya. Dari berbagai riset yang dilakukan hingga akhirnya para Ilmuwan tersebut bisa mengungkap dan menjelaskan fenomen reproduksi manusia secara gamblang, sistematis dan ilmiah. Para ilmuan telah berhasil mengunkap masalah reproduksi manusia yang semula misterius menjadi jelas dan terbuka prosesnya, dari saat masih berupa spermatozoa hingga menjadi janin hingga ahirnya terlahirkan menjadi bayi.Sebelum abad 20M masalah reproduksi hanya menjadi sebuah hayalan dan mitos belaka.
Atas usaha yang dilakukan oleh para ilmuan sudah sepantasnya kita respek kepada mereka. Mereka memberikan hal yang yang sangat berharga bagi ilmupengetahuan.Tapi tidakkah kita sadari(terutama bagi kaum muslimin) bahwa masalah reproduksi beserta prosesnya sudah terbuilding dalam Al-Qur'an bahkan ayat-ayatnya tersebar di Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kitab yang sakral dan disakralkan. Al-Qur'an adalah kitab agama bukan kitab ilmiah yang tujuan utama turunnya adalah menjadi petunjuk bagi kebenaran dan keselamatan manusia di dunia dan ahirat. Adaapakah dibalik semua itu?.
Fakta yang ada adalah bahwa Al-Qur'an selain memuat tentang reproduksi manusia juga memuat banyak lagi tentang fenomena-fenomena ilmiah seperti menerangkan klorofil, penciptaan alamsemesta, perihal awan dan lain sebagainnya. Fakta tersebut sebenarnya mempertegas akan fungsi Al-Qur'an sebagai petunjuk manusia. Al-Qur'an ingin menunjukkan kepada manusia akan proses fenomena ilmiah tersebut dan agar mereka mengunakan akalnya untuk melihat kekuasaan Allah. Seperti ahir ayat berikut: Al-Baqarah{2}:219,
              
Artinya:
“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,”
Dan juga diahir ayat 21 dari surat Al-Hasyr:
                ••   
Artinya:
”Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran Ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.”
Selain itu, juga sebagai bukti kebenaran Al-Quran bagi mereka yang masih meragukan kebenaran Al-Qur'an yaitu kaum yang mendewakan otak kiri.
Ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang reproduksi manusia tersebar di berbagai surat-surat Al-Qur'an. Oleh para mufasir klasik ayat-ayat tentang reproduksi manusia ditafsirkan secara sederhana. Tafsiran yang di hasilkan oleh para mufasir klasik atas ayat-ayat reproduksi manusia kurang bisa diterima dan di fahami oleh para ahli embrio. Hingga pada akhirnya pada masa mufasir modern ayat-ayat tersebut di tafsirkan secara terperinci, mendetail dan sistematis. Itu terjadi karena kata-kata yang terdapat didalam ayat tersebut tidak diartikan secara ilmiah tapi hanya sebatas artian bahasa apa adannya. Berbeda dengan para mufasir modern kata-kata tersebut mudah mereka cerna, sebab para mufasir modern menafsirkan sudah hidup di masa pengetahuan embriologi sudah berkembang.
Al-Qur'an sebagai petunjuk manusia, secara logis Al-Qur'an berbicara panjang lebar tentang manusia, bahkan Yusuf Qordowi menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah kitab manusia, karena Al-Qur’an secara keseluruhan membahas manusia atau untuk manusia. Marsalhodgson juga memberi pernyataan bahwa Al-Qur'an sangat manusiawi, karena Al-Qur’an sesuai dengan manusia. Sehingga tak heran jika masalah reproduksi manusia mendapatkan porsi dalam Al-Qur'an untuk di bahas.
Dengan mengungkap reproduksi yang diangkat dari Al-Qur'an akan menghasilkan banyak hikmah dan manfaatnya,bagi kita yang sudah islam dan bagi non muslim. Tidak seperti kitab suci agama lain Al-Qur'an lebih bisa berjalan beriringan denga perkembangan ilmu pengetahuan. Selama ini dari mulai Al-Qur'an diturunkan sampai masa modern sekarang Al-Qur'an tidak pernah berbenturan dengan sains. Sains mengungkap kebenaran sedangkan Al-Qur'an adalah kebenaran tersebut.
Kebenaran Al-Qur'an tidak ada yang bisa membantah. Siapapun dia, sepesialis apapun dia tidak ada yang bisa menggoyahkan kebenaran Al-Qur'an. Al-Qur’an sejak semula menegaskan bahwa, Al-Isra’[17]:88,
                   
Artinya:
”Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain" .
Spesialis sastra tidak bisa, spesialis sihir tak mampu dan para professor-profesor sainspun tak dapat membantah kebenaran Al-Qur'an. Kalau kita ingin menjelaskan kebenaran Al-Qur'an berarti kita menjelaskan kebenar Agama islam secara menyeluruh. Kalau kita ingin menjelaskan kebenaran Al-Qur'an kepada non muslim, misalnya orang Eropa yang sangat mendewakan L-directed thinking, dengan memberi penjelasan sifat-sifat Allah atau mukjizat Al-Qur'an dalam segi sastra atau isyarah ghoib itu sangat nonsen dapat mereka terima. Disinilah Al-Qur'an memposisikan diri sebagai kitab suci semua umat sedunia, yang akan di baca oleh semua manusia yang punya backround yang kompleks.Al-Qur'an bukan hanya dibaca oleh orang Arab saja, bukan hanya orang Islam saja, tapi Al-Qur'an dibaca oleh semua manusia dari orang yang percaya tahayul sampai orang yang tidak percaya sama sekali, dari orang tidak berintelek sampai orang yang berpredikat intelek, dari anak TK sampai professor. Dari zaman Nabi SAW sampai hari kiamat nanti. Itulah mengapa teori reproduksi manusia juga ada didalam Al-Qur'an meskipun Al-Qur'an bukan kitab Biologi. Yaitu agar Al-Qur’an dapat dicerna oleh kaum yang mendewakan logika.
Para Nabi atau Rasul terdahulu memiliki mukjizat-mukjizat yang bersifat temporal, lokal, dan material. Ini disebabkan karena misi mereka terbatas pada daerah tertentu dan waktu tertentu. Ini jelas berbeda dengan misi Nabi Muhammad saw. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia, di mana dan kapan pun hingga akhir zaman.
Pengutusan ini juga memerlukan mukjizat. Dan karena sifat pengutusan itu, maka bukti kebenaran beliau juga tidak mungkin bersifat lokal, temporal, dan material. Bukti itu harus bersifat universal, kekal, dapat dipikirkan dan dibuktikan kebenarannya oleh akal manusia. Di sinilah terletak fungsi Al-Quran sebagai mukjizat.
Paling tidak ada tiga aspek dalam Al-Quran yang dapat menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad saw., sekaligus menjadi bukti bahwa seluruh informasi atau petunjuk yang disampaikannya adalah benar bersumber dari Allah SWT. Ketiga aspek yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut. Pertama, aspek keindahan dan ketelitian redaksi-redaksinya, Kedua adalah pemberitaan-pemberitaan gaibnya, Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya
Sangat wajar sekali bahkan suatu kewajiban sebagai seorang Muslim mengkaji reproduksi manusia yang ada di Al-Qur'an. Bagi non Muslim kajian ini adalah sebagai bukti kebenaran Al-Qur'an tapi bagi kaum Muslim ini adalah sebagai penegas dan pemantab kebenaran Al-Qur'an. Meskipun Al-Qur'an diturunkan di masa manusia masih buta teknologi tapi keakuratan Al-Qur'an sama sekali tidak berbeda dengan hasil riset para ilmuwan yang mengunakan alat teknologi yang cangih untuk mengkaji reproduksi manusia setelah lebih dari seribu tahun Al-Qur'an diturunkan. Apakah ini suatu kebetulan? Apapun alasannya yang pasti itu bukan rekayasa yang bertujuan untuk membenarkan Al-Qur'an sebab para ilmuan melakukan penelitian secara independent tidak dipengaruhi pihak manapun, mereka semata- mata ingin mengungkapkan fenomena ini secara ilmiah sebagai sumbangan bagi ilmu pengetahuan dan perlu dicatat bahwa para ilmuan tersebut adalah non Muslim.
Hakikatnya Al-Qur'an tidak butuh teori-teori ilmiah untuk membuktikan kebenaranya sebab Al-Qur'an mempuyai kebenaran yang mutlaq, sebab dia bersumber dari zat yang maha benar,sangat konyol sekali jika Al-Qur'an isinya salah padahal dia bersumber dari Allah Al-Haq. Isyarah-isyarah ilmiah(reproduksi manusi) adalah mukjizat Al-Qur'an, sama dengan kemukjizatan-kemukjizatan Al-Qur'an lainnya hanya bedannya adalah terletak pada objeknnya. Al-Qur'an adalah kitab suci yang komunikatif. Sudah saya sebutkan diatas bahwa Al-Qur'an dibaca oleh berbagai kalangan manusia dan perlu saya tambahi di sini bahwa Al-Qur'an juga dibaca disegala zaman dan disegala peradapan. Dapat di simpulkan bahwa Al-Qur'an adalah kirab suci yag multidimensi. Al-Qur'an selalu senyesuaikan diri dengan siapa dan kapan dia berinteraksi.
Pada zama Nabi Saw, Al-Qur'an menunjukkan kemukjizatannya lewat sastranya, sabab pada saat itu sedang rame-ramenya perkembangan sastra. Kemudian pada saat itu Al-Qur’an juga mengangkat perihal ghoib untuk membuktikan kebenaran Al-Qur’an sebab hal ghoib sangat mereka percayai. Lalu pada zaman modern, ketika sains telah menemukan berbagai teori ilmiah, kemukjizatan Al-Qur'an terungkap dengan sendirinnya lewat isyarah-isyarah ilmiahnya. DR.keith L moore menjadi mu'alaf setelah mengetahui adanya kecocokan atara teori ilmiah reproduksi manusia dengan ayat-ayat Al-Qur'an, dia dengan kesatria megakui kebenaran Al-Qur'an setelah sebelumnya setia pada Injil.
Sebenarnya Al-Qur'an dikaji juga oleh nonmuslim degan tujuan yang berbeda-beda. Mereka yang bermotif negative mereka akan mencari kelemahan Al-Qur’an, seperti kritik terhadap sistematika ayat dan surat Al-Qur’an dan kritik trehadap bahasa Al-Quran, meski tanpa dibekali ilmu sastra arab. Tanpa menghargai kesucian Al-Qur'an mereka menafsirkan salah atas ayat-ayat Al-Qur'an. Menurut persepsi mereka, adalah sebuah prestasi jika memang menemukan kelemahan Al-Qur'an, padahal temuan mereka adalah sebuah kekeliruan yang besar sebab tanpa landasan Ulumulquran yang kokoh. Sedangkan para peneliti nonmuslim yang independen akan menemukan banyak keajaiban Al-Qur'an. Hingga pada ahirnya mereka bisa menangkap kemukjizatan Al-Qur'an.
Mengangkat tema seperti ini sangat urgen serkali pada masa modern sekarang. Pada masa modern sekarang perkembangan sains sangat pesat, para ilmuwan sudah banyak menemukan berbagai teori ilmiah untuk menerangkan berbagai fenomena-fenomena didunia ini.
Ini terbukti dengan banyaknya disiplin ilmu yang lahir seperti Astonomi, Geologi, Biologi, Fisika, Embriologi, Genetika dan lain-lain. Tujuan para ilmuwan dalam melakukan banyak riset tersebut adalah mengambil manfaatnya sebagai pemenuh kebutuhan manusia.
Seiring dengan perkembangan sains tersebut fikiran manusia juga ikut berkembang sehingga memberi kesadaran kepada manusia akan segala hal. Perkara mistis dan tahayul mulai ditinggalkan seiring dengan lebih aktifnya otak kiri dalam memahami segala hal. Hanya yang logis yang akan diterima, segala yang tidak logis akan terkikis,logika sudah berkuasa, kebenaran adalah segala yang logis dan terbukti secara empiris.
Dalam masa seperti inilah Al-Qur'an sekarang berdialog. Al-Qur'an adalah kitab suci yang komunikatif. Al-Qur'an dituntut untuk menjawab tantangan zaman modern agar Al-Qur’an tidak kehilangan image sebagai kitab petunjuk dan kebenaran Al-Qur’an masih bisa diterima oleh masyarakat modern saat ini. Al-Qur’an memang punya kebenaran yang mutlak tapi apakah kebenaran Al-Qur'an dapat dibuktikan dengan logika manusia modern. Tanpa logika kebenaran Al-Qur'an tidak bisa diterima oleh masyarakat modern. Kalau dengan kebenaran Al-Qur'an saja mereka sudah tidak bisa menerima maka pasti mereka juga tidak bisa menerima islam. Dan tujuan Al-Qur'an untuk menyelamatkan manusia di Dunia dan Ahirat tidak bisa terrealisasi.
Untuk membuktikan kebenaran Al-Qur'an pada zaman modern sekarang adalah dengan mengangkat teori-teori ilmiah yang ada didalam Al-Qur'an, bukan untuk memaksakan kebenaran Al-Qur'an tapi untuk mengungap realitas fakta bahwa Al-Qur'an sebenarnya banyak memuat teori-teori ilmiah yang selama ini tidak ada yang kontradiksi dengan teori sains bahkan bisa dikatakan Al-Qur'an sejalan dengan teori-teori tersebut

Posted by
Ahmad Efendi

More

Pengaruh Musik Klasik terhadap Motivasi Belajar Siswa

UU No 20 Tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Himpunan Perundang-Undangan Republik Indonesia tentang Badan Pendidikan Nasional, 2005: 5).
Berangkat dari UU di atas sejatinya pendidikan adalah proses pembebasan atas kebodohan agar tercipta individu-individu yang merdeka, matang, bertanggung jawab dan peka terhadap realitas sosial sehingga tercipta tatanan masyarakat yang teratur dan saling toleran antar sesama.
Untuk mewujudkan tujuan nasional tersebut, dalam tatanan mikro pendidikan harus mampu menghasilkan SDM yang mampu berpikir global (Think globally) dan mampu bertindak lokal (Act locally) serta dilandasi oleh akhlak yang mulia (Mulyasa, 2008: 4).
Oleh karena itu dalam mempersiapkan SDM pemerintah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan banyak agenda reformasi yang telah, sedang dan akan dilaksanakan beragam program inovatif ikut serta memeriahkan reformasi pendidikan. Reformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan perubahan dalam sektor kurikulum baik struktur maupun prosedur perumusannya. Pembaharuan kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti oleh perubahan praktik pembelajaran di dalam maupun diluar kelas, indikator pembaruan kurikulum ditunjukkan dengan adanya perubahan pada kegiatan pembelajaran, pemilihan media pendidikan dan penentuan pola penilaian yang menentukan hasil pendidikan (Majid, 2009:3).
Pendidikan juga tidak bisa hanya terfokus pada kebutuhan material jangka pendek (seperti yang banyak dipraktekkan sekarang) tetapi harus menyentuh dasar untuk memberikan watak pada visi dan misi pendidikan yaitu perhatian mendalam pada etika moral dan spiritual yang luhur. Dalam hal ini kualitas pendidikan dipengaruhi oleh penyempurnaan sistemik terhadap seluruh komponen pendidikan. Seperti peningkatan kualitas guru, kurikulum yang disempurnakan, sumber belajar, sarana dan prasarana yang memadai, iklim pembelajaran yang kondusif, serta didukung oleh kebijakan (Political will) pemerintah (Mulyasa, 2008:5).
Namun dewasa ini kondisi pelajar menggambarkan kepenatan otak dalam menerima materi pelajaran, kebekuan jiwa, kekeringan hati dan mental pelajar tidak tergarap dengan baik. Hal ini sebagai akibat samping dari pengajar yang telah menyimpang dari tujuan utama pembelajaran, pengajar hanya berupaya keras menyelesaikan standar mutu pelajaran dan tuntutan administrasi semata tanpa memperhatikan tingkat pemahaman peserta didik (Widyatmoko, 02 oktober 2009. blog:http://www.pewarta_kabarIndonesia,blogspot.com/).
Fenomena ini dibuktikan dengan rendahnya daya saing sebagai indikator bahwa pendidikan belum mampu menghasilkan sumber daya manusia berkualitas. Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP melaporkan bahwa Indonesia berada pada rangking 108 Tahun 1998, rangking 109 Tahun 1999 dan rangking 111 tahun 2004 dari 179 negara yang diteliti (Mulyasa, 2008:3).
Oleh karena itu upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar para siswa perlu diwujudkan agar diperoleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang dapat menunjang pembangunan nasional. Upaya tersebut menjadi tugas dan tanggung jawab semua tenaga kependidikan terutama guru mempunyai peranan yang sangat menentukan sebab gurulah yang bersentuhan langsung dalam membina para siswa di sekolah melalui proses belajar mengajar.
Guru kreatif, professional dan menyenangkan harus memiliki beberapa konsep dan cara untuk mendongkrak kualitas pembelajaran. Permasalahan yang seringkali dialami kebanyakan peserta didik adalah kurang bernafsu untuk belajar. Untuk kepentingan tersebut guru dituntut untuk membangkitkan nafsu belajar peserta didik, pembangkitan nafsu atau selera belajar ini sering juga disebut motivasi belajar (Mulyasa, 2007: 174).
Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, karena peserta didik akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi, oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran (Mulyasa, 2007: 174).
Dalam proses pembelajaran motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar yang dapat menggerakkan mesin. Motivasi yang baik dan memadai dapat mendorong siswa menjadi lebih aktif dalam belajar (Iskandar, 2009: 182).
Motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Sering kali terjadi siswa yang kurang berpartisipasi bukan disebabkan oleh kemampuan yang kurang, akan tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya (Sanjaya, 2008: 249).
Dewasa ini dikalangan tenaga pendidikan, banyak membicarakan terjadinya krisis motivasi belajar, lebih-lebih di sekolah menengah, gejala tersebut ditunjukkan dengan kenyataan berkurangnya perhatian siswa pada waktu pelajaran, kelalaian dalam mengerjakan pekerjaan rumah, belajar kebut semalam, dan pandangan asal lulus cukup (Tadjab, 1994: 106). Di sinilah tugas guru untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didiknya salah satunya dengan memperbaiki suasana kelas.
Musik mempunyai pengaruh yang besar pada guru maupun pelajar, guru dapat menggunakan musik untuk menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa dan mendukung lingkungan belajar, musik membantu pelajar bekerja lebih baik dan mengingat lebih banyak, musik merangsang dan memperkuat belajar disamping itu kebanyakan siswa memang mencintai musik (De Perter, 2003: 73).
Proses belajar memerlukan kondisi fisik, mental dan emosional yang mendukung Information-intake (Memasukkan informasi ke dalam otak). Kondisi optimal untuk information-intake adalah saat seseorang berada dalam kondisi alfa. Terdapat beberapa cara untuk bisa masuk kedalam kondisi alfa ini, di antaranya adalah dengan teknik rileksasi, meditasi, pernafasan, visualisasi, dan mendengarkan musik. Cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan bantuan musik klasik (Gunawan, 2007: 178).
Pada saat pembelajaran, guru dapat memutar musik untuk menciptakan rileksasi dan kegairahan siswa. Musik menjadi pembangkit motivasi siswa. Mereka bergairah mengikuti kegiatan belajar dan melepas kategangan dalam menyelesaikan kegiatan. Penelitian-penelitian membuktikan bahwa musik memberikan banyak manfaat kepada siswa seperti merangsang pikiran, memperbaiki kosentrasi dan ingatan serta membangun kecerdasan emosional. Dan sampai saat ini dipercaya bahwa musik yang bisa memberi pengaruh positif dan mencerdaskan otak adalah musik klasik. Gallahue (Sri: 2005) mengatakan bahwa ritme, melodi dan harmoni dari musik klasik dapat memberikan stimulus untuk meningkatkan kemampuan belajar (Post by Putranti, 15:52 06 maret 2009).

Posted by
Ahmad Efendi

More

Tahapan Pembentukan Janin di dalam tubuh

Al-Qur’an menyapaikan bahwa janin dalam perut wanita mengalami berbagai priode peretumbuhan, baik itu penjelasan hanya secara global saja maupun secara terperinci. Total waktu yang diperlukan dalam tahapan tersebut pada umumnya terjadi selama 9 bulan. Ayat yang menjelaskan bahwa manusia mengalami tahapan kejadian adalah ayat:
1. Az-Zumar ayat 6

Artinya:
“ Dia menciptakan kamu dari seorang diri Kemudian dia jadikan daripadanya isterinya dan dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”
2. Nuh ayat 14

Artinya:
“Padahal dia Sesungguhnya Telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.”
3. Al-Insiqaaq ayat 19

Artinya:
“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)”
Jalaludin as suyuti menafsirkan kata dzulumat salasat (ظلمت ثلثات) Dalam surat az zumar dengan kegelapan yang dilalui oleh janin dalam gelapnya perut, gelapnya rahim dan gelapnya selaput pelindung bayi. Menurut prof Moor tiga kegelapan tersebut adalah:
A) Dinding anterior abdomen,yaitu Wadah rahim atau lapisan paling luar, mungkin ini yang dimaksud Jalaludin As-Suyuti dengan kegelapan perut.
B) Dinding uterus( dinding rahim).
C) Membran amniokorion . Ini adalah berupa selaput. amnion yaitu selaput yang berhubungan langsung dengan embrio dan menghasilkan cairan ketuban. Berfungsi untuk melindungi embrio dari guncangan. Chorion yaitu selaput yang terdapat diluar amnion dan membentuk jonjot yang menghubungkan dengan dinding utama uterus. Bagian dalamnya terdapat pembuluh darah. Lapisan ketiga ini oleh saghlul najjar ditambahi satu lagi yaitu Decidua.

Gambar 7.1: Dua lapisan yang membungkus embrio

Gambar 7.2:Lapisan ketiga
Disamping pernyatan yang global, Al-Qur’an juga menjelaskan tahapan pembentukan janin. Menurut Qurais shihab ada peredaan fase dalam tahapan fersi Al-Quran dengan fersi sains. Al-Qur’an membagi tahapan pembentukan janin dalam lima fase sedangkan sains membagi tiga fase saja. Lima periode tersebut: (1) Al-Nuthfah; (2) Al-Alaq; (3) Al-Mudhghah; (4) Al-'Idzam; dan (5) Al-Lahm.
Kelima priode ini dapat dijumpai dalam ayat-ayat berikut:
1. Firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 5:

Artinya:
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya kami Telah menjadikan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes mani, Kemudian dari segumpal darah, Kemudian dari segumpal daging yang Sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, Kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, Kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya Telah diketahuinya. dan kamu lihat bumi Ini kering, Kemudian apabila Telah kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”
2. Firman Allah dalam surat Al-Mukminun ayat 12-14:

Artinya:
12.Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
13.Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
14.Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
Sedang dalam masalah ini nabi Saw bersabda:
عَنْ اَنَسِ بنِ مَلِكِ عَنْ النَّبِى صَلَى اللهُ عَليْهِ وَ سَلَّمَ قاَلَ اِنَّ اللهَ عَزَّوَجَلَّ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكاً يَقُوْلُ يَا رَبِّ نُطْفَةً يَا رَبِّ عَلَقَةً يَا رَبِّ مُضْغَةً فَاِذَ اَرَادَ اللهُ اَنْ يَقْضَى خَلْقُهُ قَالَ اَذَكَرٌ اَوْ اُنْثَى؟ شَقِىٌ اَو سَعِيدٌ؟ فَمَا الرِزْقُ فَمَا الاَجَلُ؟ فَيَكْتُبُ فِى بَطْنِ اُمِّهِ
Artinya:
‘diceritakan dari anas bin malik dari nabi Saw bersabda sesunguhnya Allah azza wa jalla mengutus malaikat kedalam rahim ibu. Malaikat tersebut berkata: ya tuhan masih berupa nutfah!, lalu kembali lagi dan berkata lagi ya tuhan masih berupa alaqah! Lalu kembali dan berkata ya tuhanku masih berupa mudghah! . maka apabila telah disempurnakan kejadiannya maka malaikat tersebut bertanya kepada Allah dijadikan laki-laki atau perempuan?, diberi kesengsaraan atau kebahagiaan? Rizkinya? Dan ajalnya?.’
Menurut embriologi, proses kejadian manusia terbagi dalam tiga periode:
1.priode Ovum(pre-embrionik)
Periode ini dimulai dari fertilisasi (pembuahan) karena adanya pertemuan antara set kelamin bapak (sperma) dengan sel ibu (ovum), yang kedua intinya bersatu dan membentuk struktur atau zat baru yang disebut zygote. Setelah fertilisasi berlangsung, zygote membelah menjadi dua, empat, delapan, enam belas sel, dan seterusnya. Selama pembelahan ini, zygote bergerak menuju ke kantong kehamilan, kemudian melekat dan akhirnya masuk ke dinding rahim. Peristiwa ini dikenal dengan nama implantasi.
2.Priode Embrio
Periode ini adalah periode pembentukan organ-organ. Terkadang organ tidak terbentuk dengan sempurna atau sama sekali tidak terbentuk, misalnya jika hasil pembelahan zygote tidak bergantung atau berdempet pada dinding rahim. Ini dapat mengakibatkan keguguran atau kelahiran dengan cacat bawaan.
3.Priode Foetus
Periode ini adalah periode perkembangan dan penyempumaan dari organ-organ tadi, dengan perkembangan yang amat cepat dan berakhir pada waktu kelahiran.
Dari sini bila diadakan penyesuaian antara embriologi dengan Al-Quran dalam proses kejadian manusia, nyata bahwa periode ketiga yang disebut Al-Quran sebagai al-mudhghah merupakan periode kedua menurut embriologi (periode embrio). Dalam periode inilah terbentuknya organ-organ terpenting. Sedangkan periode keempat dan kelima menurut Al-Quran sama dengan periode ketiga atau foetus. Ada yang mengatakan ketiga tahapan reproduksi manusia menurut ilmu embriologi diatas adalah yang dimaksud dengan tiga kegelapan dalam surat Az-Zumar diatas.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Kelompok yang Kontra pada Tafsir Ilmi (Saintifik)

Imam Abu Ishak Ibrahim ibn Musa Al-Syatibi Al-Andalusi (w. 790 M) disebut-sebut sebagai orang yang menentang penggunaan tafsir ilmi terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Menurut Al-Syatibi,
اِنَّ السَلَفَ الصَالِحَ مِن صَحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ يَلِيْهِمْ كَنُوا اَعْرَفُ بِالقُرْاَنِ وَبِالعُلُومِهِ وَمَا اَوْدَعَ فِيهِ
Artinya:
Bahwa semua ulama’ terdahulu dari kalangan sahabat Nabi, tabi’in, dan dan yang setelahnya, lebih mengetahui al-Qur’an, ilmu, dan segala problemnya .
Asy-Syatibi berpendapat bahwa metode yang diterapkan siapapun yang tidak pernah digunakan oleh para sahabat dan tabi’in maka metode itu tidak releven diterapkan dalam penafsiran. Termasuk yang tidak pernah dipraktekkan oleh sahabat dan tabi’ain adalah tafsir ilmi(saintifik). Oleh karena itu, menurut beliau tafsir saintifik ini tidak releven dalam tafsir Qur’an. Beliau berpendapat bahwa Ulama terdahulu lebih mengetahui hakikat dan majaz Al-Qur’an. Di lain sisi, Al-Syathibi berlebih-lebihan pula, sehingga ia mengatakan bahwa "Al-Quran tidak diturunkan untuk maksud tersebut," dan bahwa "Seseorang, dalam rangka memahami Al-Quran, harus membatasi diri menggunakan ilmu-ilmu bantu pada ilmu-ilmu yang dikenal oleh masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran. Siapa yang berusaha memahaminya dengan menggunakan ilmu-ilmu bantu selainnya, maka ia akan sesat atau keliru dan mengatasnamakan Allah dan Rasul-Nya dalam hal-hal yang tidak pernah dimaksudkannya." Dalam kesempatan yamg lain asy-syatibi lebih tegas lagi mengatakan bahwa tidak boleh memahami Al-Qur’an kecuali sebagaimana yang difahami oleh para sahabat dan orang yang setingkat pengetahuannya dengan para sahabat. Ulama ini menurut Qurais Shihab, telah lupa akan perintah untuk memfikirkan ayat-ayatnya tidak hanya ditujukan kepada sahabat saja tapi juga ditujukan kepada generasi sesudahnya yang tentunya generasi tersebut cara berfikirnya tidak sama dengan cara berfikirnya para sahabat, generasi sesudahnya berfikir sesuai dengan perkembangan lingkungan disekitarnya masing-masing.
Tokoh pemimpin yang menentang pemikiran tafsir Ilmi ini berasal dari Andalusia, meninggal pada tahun 790 hijrah. Beliau memberi alasan lagi, bahawa Al-Qur’an bukan buku ilmu pengetahuan tapi ia adalah kitab yang membawa petunjuk bagi manusia ke jalan yang benar. Untuk memahami dan menginterpretasikan al-Quran tidak perlu mengaitkan ayat-ayat al-Quran dengan kebenaran-kebenaran ilmiah dan teori-teori ilmu alam. Akan tetapi cukup dengan memahami ayat-ayat al-Quran dengan mengungkapkan makna-makna yang ditunjukkan oleh teks ayat dan benar-benar sesuai dengan konteksnya tanpa melangkah terlalu jauh dan lepas ke makna yang tidak ditunjukkan oleh teks ayat dan hal-hal lain yang tidak perlu diungkap dalam kaitan dengan pensyari’atan agama Islam dan fungsi al-Quran sebagai kitab hidayah (petunjuk). Kalaupun dari ayat Al-Qur’an itu sendiri tidak boleh menjawab persoalan yang ada, maka kita merujuk ke Sunnah Rasul, dan apabila sunnah tidak dapat menjawab persoalan itu juga, maka kita merujuk ke sahabat.
Mengenai surat Al-An’aan ayat 38 yang digunakan jalaluddin As-Suyuti sebaga dalil atas keabsahan tafsir ilmi,

Artinya:
Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.
Asy-syatibi mengatakan bahwa tidaklah dapat diterima, karena yang dimaksudkan dengan kata al-Kitab dalam ayat tersebut adalah Loh Mahfuz. Lebih lanjut lagi, Asy-Syatibi mengatakan mengenai hal ini:”Menambahkan sesuatu yang tidak semestinya ada dalam al-Quran adalah tidak boleh. Sebagaimana tidak dibolehkan mengingkari apa yang sudah semestinya menjadi pengertian Al-Qur’an. Setiap orang harus membatasi diri dalam mencari rujukan untuk dapat memahami Al-Qur’an (pada apa yang diketahui orang-orang Arab pada masa dulu) Dengan demikian, akan sampai kepada pengetahuan tentang hukum-hukum syari’at. Barang siapa yang menggunakan cara selain itu, maka ia akan sesat dalam memahami Al-Qur’an dan berbicara yang tidak semestinya mengenai Allah dan Rasul-Nya”.
Abu hayyan Al-Andulisi saat mengkritik mufasir Fahrur Razi mengatakan, tafsir ilmi merupakan bentuk tafsir yang menyimpang dari cakupan ilmu tafsir.
Dr. Abd al-Majid Abdussalam al-Muhtasib, dalam kitabnya Ittijahat at-Tafsir fi al-Ashr al-Hadis, dengan tegas menolak tafsir ilmi. Menurutnya penafsiran seperti ini merupakan pemaksaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, dalam pendapatnya ini beliau menilai orang-orang yang menafsirkan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan sebenarnya menempatkan ayat-ayat al-Qur’an pada posisi yang tidak semestinya.
“Saya tidak mengakui (mengingkari) orientasi tafsir Ilmi terhadap Al-Qur’an. Tidak dibenarkan memaksakan ayat-ayat Al-Qu’ran terhadap ilmu-ilmu kealaman. Saya tidak setuju kepada orang-orang yang berusaha mengambil teori-teori ilmiyah dari ayat-ayat Al-Qur’an. Sesungguhnya Al-Qu’ran Al-Karim bukanlah kitab ilmu pengetahuan seperti Kimia, ilmu Atom, Geometri, ilmu Falak, ilmu Fisik, dan lain sebagainya. Tetapi , Al-Qur’an diturunkan Allah kepada nabi Muhammad S.A.W agar menjadi kitab hidayah, dan rahmat bagi manusia…”
Lebih lanjut Al-Muhtasib menguraikan kritiknya terhadap tafsir ilmi dengan mengatakan:”Cukuplah bagi kita bahawa al-Quran tidak bertentangan (dan tidak akan bertentangan) dengan hakikat ilmu pengetahuan yang diterima oleh akal. Cukuplah bagi kita bahawa al-Quranlah yang membuka pintu akal kaum Muslimin, mendorong mereka mentadabburi, menafakkuri, merenungkan, membahas, memikirkan, dan mendalami ilmu pengetahuan (sains). Cukuplah bagi kita bahwa orang-orang yang kitab sucinya Al-Qur’an telah hidup bersama ilmu dalam suasana harmoni dan kasih sayang, sementara pengikut kitab agama lain telah menjadi tonggak keras yang menghadang ilmu dan para ilmuwan di abad pertengahan, yang menyebabkan salah seorang pemikir sesat”.
Adapun kritikan yang paling tajam yang pernah dilontarkan kepada para mufasir ilmi adalah apa yang telah dilakukan oleh Dr. Mahmud Syaltut dalam kitabnya Tafsir Al-Qur’an al-Karim, pada bagian muqaddimahnya ia menulis bahawa ada dua segi yang harus di jauhi atau dibersihkan dalam menafsirkan Al-Qur’an; pertama, menta’wilkan Al-Qur’an menurut pendirian berbagai aliran mazhab; dan kedua, mentafsirkan Al-Qur’an atas dasar teori-teori ilmiah. Hal ini (kata Mahmud Syaltut lebih lanjut) karana Allah SWT tidak menurunkan Al-Qur’an kepada manusia dengan tujuan menyajikan teori-teori ilmiah, teknologi, yang rumit-rumit dan bermacam-macam ilmu pengetahuan.
Menurut Manna’ Khalil Al-Qattan, orang yang menolak tafsir ilmi mengatakan bahwa golongan yang menafsirkan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan sebenarnya mereka telah melakukan kejahatan terhadap Al-Qur’an meskipun mereka mengira telah berbuat kebaikan dengan penafsirannya tersebut. Karena ilmu pengetahuan bersifat labil dan suatu saat teori yang dianggap benar sangat mungkin terhapus oleh teori penemuan baru sedangkan Al-Qur’an sifatnya adalah absolute kebenarannya sehingga tidak etis meletakkan ketidak pastian sains pada Al-Qur’an yang sakral dan pasti kebenarannya. Mereka mengatakan kemukjizatan ilmiah Al-Qur’an tidak terletak pada berapa ada tidaknya teori ilmiah yang dikandung dalam Al-Qur’an, akan tetapi kemukjizatan Al-Quran terletak pada dorongan Al-Qur’an kepada manusia untuk berfikir dan mengunakan akalnya, salah satunya seperti surat Ar-Ra’d ayat 3:

Artinya:
“Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
Menurut Al-Qattan eksitensi dorongan berfikir dan menuntut ilmu lebih urgen dari pada ekitensi teori ilmiah dalam Al-Qur’an. Karena Eksitensi dorongan tersebut lebih bisa mengembangkan kreatifitas dan semangat manusia dalam menuntut ilmu. Eksitensi teori ilmiah tidak lebih hanya sekedar hidayah dan hanya sedikit saja memberi efek positif bagi ilmu pengetahuan manusia. Al-Qattan juga mengatakan bahwa Al-qur’an membawa sesuatu yang besar yaitu hidayah dan misi memberi keselamatan dan kebahagiaan didunia dan diakhirat. Al-Qur’an tujuan utamannya tidak sekedar membawa pengetahuan yang bersifat parsial seperti ilmu Falaq, Biologi, Kimia, Kedokteran dan lain-lain. Tapi beliau heran mengapa ada golongan yang terlalu fanatik terhadap Al-Qur’an sehingga mereka berupaya mencari-cari ilmu-ilmu tersebut dalam Al-Qur’an.
Secara sederhana dapat di simpulkan hujjah-hujjah mengapa tafsir ilmi tertolak adalah sebagai berikut:
1. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kitab aqidah, syariat, adab dan kitab hidayah. Dan bukanlah tujuannya kita memperkatakan tentang kajian-kajian ilmiah, tapi cukup hanya mengarahkan manusia agar melihat dan berfikir. Dan ia tidak bertentangan dengan hakikat ilmiah.
2. Sesungguhnya aliran ini (yang setuju tafsir ilmi) bisa memaligkan manusia dari hidayah Al-Qur’an dan tujuannya yang asas dan utama, serta boleh menimbulkan syak umat Islam terhadap Al-Qur’an.
3. Sesungguhnya teori-teori sains sentiasa berubah dari semasa ke semasa. Apabila kita sandarkan teori-teori tersebut kepada Al-Qur’an akan membuat Al-Qur’an sendiri berubah mengikut perubahan tersebut.
4. Dengan tafsiran berbentuk ilmi ini banyak menyebabkan perubahan pada asal bahasa dan keluar dari balaghah Al-Qur’an.
Sebenarnya, semua hujjah yang telah dikemukakan oleh ulama-ulama yang menolak tafsir ilmi tidak lebih hanya sekedar ingin menjaga kesucian Al-Qur’an, agar tidak tercemar dengan segala perubahan yang sentiasa berkisar pada teori-teori sains.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Tafsir Ilmi( Saintifik )

Tafsir ilmi terdiri dari dua akar kata, yaitu at-tafsir dan al-‘ilm. Kata tafsir dalam al-Qur’an bermakna penjelasan atau perincian. Sedangkan kata ‘ilm dan berbagai derivasinya kerap digunakan dalam al-Qur’an dalam arti umum pengetahuan (knowledge), termasuk untuk sains dan ilmu-ilmu kemanusiaan (sciences of nature and humanities). Selain itu, kata ‘ilm dalam al-Qur’an juga digunakan untuk pengetahuan yang diwahyukan (revealed) sekaligus digunakan untuk pengetahuan yang diperoleh di luar wahyu (acquired).
Menurut said agil husni al-munawar, Tafsir Ilmi merupakan Penafsiran ayat-ayat kauniyah yang terdapat dalam Al-Qur’an dengan mengkaitkannya dengan ilmu-ilmu pengetahuan modern yang timbul pada masa sekarang. Diantaranya ulama’ yang mengunakan tafsir ini adalah Al-alamah Wahid aldin khan dalam karyannya Al-Islam ya ta’adda.
Definisi yang diajukan oleh Prof. Amin al-Khuli adalah: "Tafsir yang memaksakan istilah-istilah keilmuan kontemporer atas redaksi Al-Qur'an, dan berusaha menyimpulkan berbagai ilmu dan pandangan-pandangan filosofis dari redaksi Al-Qur'an itu."
Abdul Al-Majid Abdul Salam Al-Mahrasi juga memberikan definisi tafsir ilmi sebagai berikut:
اَلتَفْسِيْرُ العِلْمِىُ هُوَ التَفْسِيرُ الذِى يَتَوَحَى اَصْحَابُهُ اِخْضَاعَ عِبَاراتِ القُرْاَنِ لِلنَظَرِيَاتِ وَالاِصْتِلاحَاتِ العُلُمْيةِ وَبَدَلا لاَقصَى الجُهْد فِى اِسْتِخْرَاجِ مُخْتَلِفِ مَسَائِلِ العُلُومِ وَالاَرَءِالفَلْسَفِيةِمِنْهَا
Artinya:
“Tafsir ilmi adalah tafsir yang mufasirnya mencoba menyingkap ibarat-ibarat dalam AL-Qur’an, yaitu mengenai beberapa pandangan ilmiah dan istilahnya serta mengerahkan segala kemampuan dalam mengali berbagai problema ilmu pengetahuan dan pandangan-pandangan yang bersifat falsafi.”
Fahmi Salim, MA memberi catatan berkaitan dengan dua definisi diatas, yaitu: yang pertama, kedua definisi tersebut mendiskreditkan model tafsir saintifik, sebab memberi kesan bagi orang awam yang membaca definisi itu bahwa corak tafsir itu agar dihindari karena dinilai telah "menundukkan redaksi Al-Qur'an" ke dalam teori-teori sains yang kerap berubah-ubah. Lagi pula sosok Amin Khuli dan Abdul Mujid ini dikenal berada di barisan ulama yang kontra dan tak merestui corak tafsir ini. Kedua, definisi tersebut tak mampu menggambarkan konsep yang sebenarnya diinginkan para pendukung tafsir ilmi. Para pendukungnya tak pernah berkeinginan untuk memaksakan istilah-istilah keilmuan modern kepada redaksi Al-Qur'an, atau menundukkan redaksi Al-Qur'an itu kepada teori-teori sains yang selalu berubah. Apa yang dimaksudkan para ulama pendukung corak tafsir ini adalah berupaya menjelaskan salah satu aspek kemukjizatan Al-Qur'an agar mudah difahami oleh manusia modern, terlebih di saat rasa dan cita kebahasaan Arab sudah sangat melemah, di kalangan orang Arab sekalipun. Apalagi kini, ilmu dan sains telah menyerbu seluruh sendi kehidupan umat manusia.
Oleh sebab itu kiranya, definisi yang lebih tepat menurut penulis untuk corak tafsir ilmi dan sesuai dengan realitas di lapangan adalah
Pertama, Husain Adz-Dzahabi yang mendefinisikan tafsir ini sebagai berikut:
اَلتَفْسِيرُ الذِى يَحْكُمُ الاِصْتِلاحَاتِ العُلُمِيةِ فِى عِبَارَاتِ القُرْاَنِ وَيَجْتَهِدُ فِى اِسْتِخْرَاجِ مُخْتَلِفِ العُلُومِ وَالاَرَاءِ الفَلْسَفِيَّةِ مِنْهَا
Artinya:
”tafsir yang menetapkan istilah-istilah ilmu pengetahuan dalam penuturan Al-Qur’an. Tafsir ilmi berusaha secara optimal dalam menggali dimensi ilmu yang dikandung dalam Al-Qur’an dan berusaha mengungkap berbagai pendapat keilmuan yang bersifat falsafi.”
Kedua, definisi lain yang boleh kita kemukakan di sini adalah: "Tafsir yang diupayakan oleh penafsirnya untuk: 1) Memahami redaksi-redaksi Al-Qur'an dalam sinaran kepastian yang dihasilkan oleh sains modern, dan 2) Menyingkap rahasia kemukjizatannya dari sisi bahwa Al-Qur'an telah memuat informasi-informasi sains yang amat dalam dan belum dikenal oleh manusia pada masa turunnya Al-Qur'an, sehingga ini menunjukkan bukti lain akan kebenaran fakta bahwa Al-Qur'an itu bukan karangan manusia, namun ia bersumber dari Allah swt, pencipta dan pemilik alam semesta ini."
Ketiga, Penulis kitab al-Ta'bir al-Fanni fi al-Qur'an mendefinisikan tafsir ilmi sebagai Tafsir yang berbicara tentang istilah-istilah sains yang terdapat dalam Al Qur'an dan berusaha sungguh-sungguh untuk menyimpulkan pelbagai ilmu dan pandangan filosofis dari istilah-istilah Al-Qur'an itu."
Drs.Khaeruman,M.Ag menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan digunakan sebagai upaya pendekatan dalam menafsirkan Al-Qur’an atau upaya untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Ini tidak berarti bahwa tafsir ilmi tujuannya untuk mendukung atau membenarkan teori sains. Dalam konteks ini harus dibedakan antara memahami ayat-ayat Al-Qur’an lewat ilmu pengetetahuan dengan membenarkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Problematika Maudu'I(Tematik)

Selama ini kritik tentang metode tematik juga ada tapi kelemahan-kelemahan tersebut tidak sampai mempengaruhi urgenitas tematik sebagai metode tafsir modern. Kritik tersebut seperti: Pertama timbulnya kesan tidak etis terhadap kitab suci Al-Qur'an sebab adannya pengkajian ayat- ayat Al-Qur'an secara sepotong-sepotong dan tidak berurutan sebagaimana mushaf Usmani. Kedua pembatasan bahasan sesuai dengan tema tertentu membuat pemahaman ayat terbatas. Ketiga membutuhkan kecermatan determinasi keterikatan tema yang diangkat.
Dalam penerapan metode ini juga harus menghindari kekeliruan-kekeliruan yang mungkin terjadi. Sebab kalau tidak hati-hati akan terjebak pada kesalahan-kesalahan yang menyesatkan. Untuk menghindari itu kita harus memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Haruslah mufasir ingat bahwa hasil penafsiran kita akan ayat Al-Qur'an tidaklah mutlaq kebenarannya dengan menafikan kebenaran tafsiran yang lain. Sebab hakikat kebenaran Al-Qur'an hanya Allah yang tahu, sedangkan kita hanya bisa berijtihad dalam memahaminya.
2. Kajian hanyalah terfokus pada topik yang kita bahas tidak diluar itu. Masalah yang diluar topic kita bukanlah menjadi tanggung jawab kita untuk menjelaskannya. Jika pembahasan kita melebar pada hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan topic kita, maka kita tidak akan melihat keindahan bahasa Al-Qur'an dan tidak bisa merasakan kemukjizatan Al-Qur'an. Oleh karena itu, jika seseorang tidak menentukan terlebih dahulu tujuan dalam meneliti Al-Qur'an dia tidak akan sampai pada hasil yang ditawarkan oleh metode tafsir Maudu'i.
3. Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur(tadarruf) dalam jangka 23 tahun, seiring dengan peristiwa yang melatar belakanginya baik untuk menjawab pertanyaan, menentukan hukum yang terjadi, ataupun menasah hukum terdahulu. Seseorang akan tergelincir pada kekeliruan jika tidak tahu mana ayat yang turun terlebih dahulu, tidak tahu asbabunnuzulnya, munasabah antar ayat serta tidak mengetahui hadist dan koul sahabat terkait ayat yang akan diteliti.
Sebagai gambaran, seorang mufasir mengunakan metode Maudu'i untuk menafsirkan ayat yang mutlaq berikut ini: Al-Baqarah[2]:275,

Artinya:
”padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
Dan ayat yang muqoyyat berikut ini: Ali Imran, [3]:130,

Artinya:
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”
Dari kedua ayat diatas kalau kita tidak tahu mana ayat yang turun terlebih dahulu dan tidak tahu tahapan penetapan hukum, maka kita akan terjebak pada pemahaman yang salah. Secara sekilas kita bisa memahami dari ayat diatas mengambil riba haram hanya jika berlipat ganda,dan riba yang sedikit tidak apa-apa. Sebab ayat yang pertama(bersifat mutlaq) seakan-akan menjelaskan ayat yang kedua(bersifat mukoyyat) sebagaimana umumnya ayat mukoyyat menjelaskan ayat yang mutlaq. Pemahaman seperti ini adalah salah, jika kita tinjau dari ayat mana yang turun terlebih dahulu. Kita harus ingat kaidah pengecualian bahwa tidak selamanya ayat muqoyyat menjelaskan ayat mutlaq sebagaimana juga ayat khusus tidak selamanya menjelaskan ayat yang umum. Yang lebih penting dalam memahami sebuah ayat adalah mana ayat yang turun dahulu dan mana ayat yang turun belakangan serta tahapan penetapan hukum.
Pada contoh diatas, sebenarnya yang turun dahulu adalah ayat yang tertulis nomer dua( bersifat muqoyyat) kemudian ayat yang kesatu(bersifat mutlaq), itu terjadi sebab pada masa dahulu riba telah menjamur dan menjadi kebiasaan orang Arab sehingga Al-Qur'an lebih halus untuk memberi peringatan larangan riba dengan memberi kelongaran yaitu larangan riba hanya jika berlipat ganda, kemudian setelah dirasa orang Arab sudah bisa menerima larangan, baru larangan riba dipertegas bahwa riba haram mutlaq. Isyarat terserbut di dapat dari ayat berikut:

Artinya:
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
4. Mengikuti prosedur metode Maudu'i dengan teliti, jika tidak maka pemahaman yang utuh tentang tema dalam Al-Qur'an tidak akan terpenuhi.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Keistimewaan Tafsir Maudu'I(Tematik)

Keistimewaan yang terdapat dalam metode tafsir Tematik adalah sebagai berikut:
1. Metode Tematik ini hampir sama dengan tafsir bilmaksur(yang digunakan oleh mufasir klasik) sebab dalam tafsir Tematik mengunakan prinsip ayat Al-Qur'an yang satu menafsirkan ayat Al-Qur'an yang lain. Prinsip ini sering dipakai oleh para sahabat dan tabi'in sehingga produk yang dihasilkan lebih mendekati kebenaran mengingat metode ini di pakai oleh generasi terbaik islam .
2. Metode ini dapat mengungkap munasabah antar ayat dari berbagi surat yang berbeda, metode ini dapat menangkap makna, petunjuk, keindahan, dan kefasihan Al-Qur'an.
3. Dengan metode ini kita bisa menangkap dan dapat penjelasan yang sempurna tentang ide yang kita angkat dari ayat-ayat Al-Qur'an.
4. Metode ini dapat menepis image kontradiksi antar ayat Al-Qur'an yang sering dilontarkan oleh Orentalis, dan juga sebagai bukti bahwa agama islam dan Ilmu pengetahuan dapat saling mendukung.
5. Metode ini sesuai dengan tuntutan zaman modern yang mengharuskan kita untuk merumuskan hukum-hukum universal yang bersumber dari Al-Qur'an bagi seluruh umat islam.
6. Dengan hadirnya metode ini lebih menghemat waktu dan mempermudah kita dalam mencari keterangan tentang tema yang kita cari tanpa membuang waktu dengan mencari refrensi dari kitab-kitab tafsir yang berjilid-jilid.
7. kesimpulan yang dihasilkan mudah dipahami. Hal ini disebabkan karena ia membawa pembaca kepada petunjuk Al-Quran tanpa mengemukakan berbagai pembahasan terperinci dalam satu disiplin ilmu. Juga dengan metode ini, dapat dibuktikan bahwa persoalan yang disentuh Al-Quran bukan bersifat teoretis semata-mata dan atau tidak dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Dengan begitu ia dapat membawa kita kepada pendapat Al-Quran tentang berbagai problem hidup disertai dengan jawaban jawabannya. Ia dapat memperjelas kembali fungsi Al-Quran sebagai Kitab Suci. Dan terakhir dapat membuktikan keistimewaan Al-Quran. Selain itu.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Tafsir Maudu'I (Tematik)

Tafsir maudhu'i (Tematik) dalam pandangan Nadriyah Hosen adalah metode yang dipakai mufasir dengan tidak memulai dari surat pertama sampai surat ke-114, melainkan memilih satu tema dalam Al-Qur'an untuk kemudian menghimpun seluruh ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema tersebut, baru kemudian ditafsirkan untuk menjelaskan makna tema tersebut. Ambil contoh, kita ingin tahu apa makna Islam dalam al-Qur'an. Maka kita himpun semua ayat yang berisikan kata Islam (dan segala derivasinya) lalu kita tafsirkan. Jadi, tafsir model ini bersifat tematis.
Definisi yang lain adalah satu metode penafsiran Al-Qur’an yang bertujuan mencari jawaban ayat-ayat Al-Qur’an tentang permasalahan tertentu. Ini adalah definisi yang difahami oleh Drs. Badri Khaeruman, M.Ag. kemudian beliau menambahkan,Ayat-ayat yang menunjuk pada permasalahan yang sama yang tersebar didalam surat-surat Al-Qur’an dihimpun, lalu difahami lewat ilmu-ilmu Bantu sesuai dengan konteksnya untuk menuju jawaban ayat-ayat tersebut(dilalah), yang berkenaan dengan masalah yang telah ditetapkan.
Definisi yang tebih simple diberikan oleh Prof.Dr.H.Abuddin Nata, M.A, dengan melihat bahwa metode maudu’I adalah metode tafsir dimana mufasirnya berupaya menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai surat yang berkaitan dengan persoalan atau topik yang ditetapkan sebelumnya. Sebelum penafsir membahas dan menganalisis kandungan ayat-ayat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
Quraish Shihab lebih memilih membagi dua dalam mendefinisikan metode tafsir tematik, yaitu: Pertama, penafsiran menyangkut satu surat dalam Al-Qur’an dengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara umum dan yang merupakan tema sentralnya, serta menghubungkan persoalan-persoalan yang beraneka ragam dalam surat tersebut antara satu dengan lainnya dan juga dengan tema tersebut,sehinga satu surat tersebut dengan berbagai masalahnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kedua, penafsiran yang bermula dari menghimpun ayat-ayat Al-Qu’an yang membahas satu masalah tertentu dari berbagai ayat dan surat Al-Qu’an dan sedapat mungkin diurut sesuai dengan urutan turunnya, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari ayat-ayat tersebut, guna menarik petunjuk AlQur’an secara utuh tentang masalah yang dibahas tersebut. Menafsirkan pesan dalam satu ayat saja sering tidak menyelesaikan masalah secarta tuntas. Sehingga tidak ada salahnya menghimpun ayat-ayat yang lain yang memuat permasalahan yang sama.
Dari berbagai definisi yang diberikan oleh para ulama’ diatas, ada benang pengikat yang mensatukan dan mengkrucutkan pemahaman diantara masing-masing definisi tersebut meskipun berbeda lafad dan kalimatnya tapi pada prinsipnya menuju pada satu makna, yaitu suatu metode yang digunakan dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan prinsip membahas dan menjelaskan suatu surat atau beberapa ayat (yang memuat satu topic yang sama) didalam kerangka tema tertentu dengan pembahasan koperhensif dari segala sudut pandang(asbabunnuzul, munasabah, nasah mansuh, amm khas, muhkam dan mutasabihnya) yang memungkinkan informasi yang berkaitan dengan tema dapat digali dengan maksimal.
Pada masa dahulu metode penafsiran seperti ini sudah ada meskipun tidak sama dengan sekarang. Metode maudu'i pada masa dahulu terkesan tidak sistematis sebab tidak ada prosedur yang jelas dan perumusannya juga masih semu.
Metode maudu'i dengan prosedur dan perumusan yang jelas dan sistematis sebenarnya belum lama lahir,yang pertama memperkenalkan metode ini adalah DR. Ahmad As-Sa'id Al-Kumi, ketua jurusan tafsir di Al-Azar Kairo. sedangkan di Indonesia dipeloporoi oleh DR.Qurais Sihab,MA.
Berbicara masalah ini ada beberapa ulama yang memberi pendapat penilain tentang metode maudu'I ini. Imam Suyuti dengan mengankat pendapat para ulama berkata: "siapa saja yang hendak mensfsirkan Al-Qur’an, carilah dulu tafsirnya dalam al-quran sendiri.sebab kandungan yang global dalam satu tempat akan di jelaskan pada tempat lain". Metode maudu'I memang mengunakan prosedur seperti metode tafsir bil maksur, yaitu menafsirkan satu ayat Al-Qur'an mengunakan ayat Al-Qur'an yang lain, sehingga tingkat kebenarannya lebih bisa dipertsngung jawabkan mengingat metode ini mirip dengan metode tafsir bil maksur yang dulu dipakai oleh para sahabat dan tabi'in.Mendukung pendapat ini Al-Hafidzh ibnu kasir dalam kitab tafsirnya berkata:"jika seseorang bertanya mana metode tafsir yang paling baig dalammenafsirkan alquran?mala jawabannya adalah menafsirkan al-quran dengan al-quran sendiri sebab suatu kandungan yang global dalam suatu ayat akan dijelaskan oleh ayat yang lain".

Posted by
Ahmad Efendi

More

Seputar Ayat Sajdah

Ada beberapa ahli yang telah menulis tentang permasalahan yang erat kaitannya dengan ayat sajdah baik dari segi penafsiran, adab bacaan sampai tinjauan hukum yang berkaitan di dalamnya. Walau demikian banyak khazanah kitab tafsir, ‘ulum al-Qur’an ataupun fiqh sekalipun tampaknya pembahasan ayat-ayat sajdah tidak menjadi suatu kajian yang banyak ditulis secara komprehensif. Oleh karena itu telaah pustaka sebagai telaah (kajian) awal penelitian masih banyak terfokus pada rujukan buku yang membahas tentang sujud tilawah yang berkaitan dengan adab membaca al-Qur’an.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa penelitian ini membahas penafsiran tentang ayat-ayat sajdah dalam al-Qur’an menurut pandangan al-Alusi dalam penafsiran Ruh al-Ma’ani. Sebagai gambaran awal, dalam menafsirkan Q.S. al-A’raf: 206 yang merupakan urutan pertama ayat sajdah dalam mushaf usmani, al-Alusi memberikan penjelasan tentang anjuran melakukan sujud tilawah dengan tidak lupa mengemukakan beberapa pendapat ulama sebelumnya dan juga permasalahan terkait lainnya. Dalam penafsirannya al-Alusi begitu runtut menerangkan apa saja yang terkait dengan ayat sajdah termasuk adanya anjuran untuk melakukan sujud tilawah pada saat membaca atau mendenggar ayat sajdah.
Mayoritas buku-buku yang menyinggung tentang permasalahan sujud tilawah untuk ayat sajdah merupakan buku-buku yang membahas tentang adab atau etika dalam membaca al-Qur’an. Imam al-Nawawy yang menulis buku al-Tibyan fi Adab Hamli al-Qur’an menghususkan bab kelima dan keenam tentang adab menjaga dan memuliakan membaca al-Qur’an. Dalam kitab ini hanya menekankan pada pelaksanaan sujud tilawah seperti halnya dibahas oleh ulama’ fiqh. Hujjatul Islam al-Ghazali yang merupakan pengarang kitab Ihya ‘Ulum al-Din membahas secara khusus adab membaca al-Qur’an dalam sub bahasannya yang berjudul Adab Tilawah al-Qur’an. Dalam kitab ini al-Ghazali menjelaskan bahwa melakukan sujud tilawah untuk ayat sajdah merupakan adab lahiriyah dalam membaca al-Qur’an dengan tujuan untuk memelihara dan memperhatikan hak al-Qur’an. Buku lain yang sedikitnya memberikan penjelasan tentang ayat sajdah berkenaan dengan adab membaca al-Qur’an adalah karya Miftah Faridl dan Syihabuddin. Buku ini memberikan keterangan yang diambil dari kitab Fiqh Sunnah dan al-Tibyan, sehingga ada kesan bahwa buku ini merupakan ringkasan dari kedua kitab tersebut.
Selain dari buku-buku tersebut yang berkaitan dengan adab pembacaan al-Qur’an, Sayyid Sabiq dalam karyanya Fiqh Sunnah telah membahas dengan rinci pelaksanaan sujud tilawah dikaitkan dengan ayat sajdah. Pembahsan ini tentu saja sangat kental dengan nuansa fiqhnya. Dalam memberikan penjelasan tentang keutamaan, hukum dan permasalahan lainnya. Sayyid Sabiq tidak lupa memberikan landasan yang berasal dari hadits-hadits Nabi SAW. Menurut pandangannya, ayat sajdah yang terdapat dalam al-Qur’an berjumlah 15 ayat dalam 14 surat yang berbeda. Tapi dalam hal ini tentu saja beliau tidak memberikan komentar ataupun pemaknaan terhadap ayat-ayat sajdah tersebut.
Adapun kitab tafsir yang memberikan batasan khusus dengan menyebutkan secara jelas ayat-ayat yang dimaksud sebagai ayat sajdah diantaranya adalah Ahkam al-Qur’an karya Ibn Arabi. Dalam menafsirkan Q.S. al-A’raf: 206, al-Arabi secara teks menyebutkan ayat-ayat mana saja yang termasuk dalam ayat sajdah dengan tidak lupa memberikan beberapa keterangan awal berbagai permasalahan yang terkait di dalamnya, walaupu demikian al-Arabi tidak membahas ataupun menafsirkan ayat-ayat sajdah secara sistematis.
Adapun kitab-kitab yang telah membahas langsung tentang kitab Ruh al-Ma’ani telah dilakukan al-Tantawi dalam kitabnya Manhaj al-Alusi fi Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al- ‘Azim wa al-Sab’u al-Masani. Beliau mengatakan, sebelum memasuki penafsiranya al-Alusi menyertakan keterangan-keterangan tentang asbab al-nuzul untuk kemudian mengambil makna yang terkandung di dalamnya melalui pendekatan sintesis antara zahir dan batin ayat dengan mengikutsertakan riwayat-riwayat baik dari hadits atau dari pendekatan sahabat dan tabi’in. Maka tidak mengherankan jika al-Alusi sangat selektif dalam memasukkan kisah-kisah Israiliyyat yang dipandang akan menyesatkan dalam penafsirannya. Kitab Manhaj karya al-Tahtawi ini secara panjang lebar mengupas tentang kitab Ruh al-Ma’ni karya al-Alusi. Dari beberapa tulisan dan penelitian yang telah dilakukan, penulis belum menemukan adanya penelitian yang secara khusus membahas tentang penafsiran ayat sajdah secara sistematis khususnya menurut penafsiran al-Alusi. Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh dalam penafsiran ayat sajdah tentu tidak hanya diperoleh dari kitab Ruh al-Ma’ani yang menjadi data primer dalam penelitian ini, namun tentu saja masih banyak diperlukan literatur lain yang dapat membantu pengkajian seperti kitab tafsir dan buku terikat lainnya.

Posted by
Ahmad Efendi

More

Do’a dalam Sujud Tilawah


Sempurnanya pelaksanaan sujud tilawah adalah membaca do’a pada saat pelaksanaan sujud yang sesuai dengan ayat yang dibacanya, pendapat ini diperkuat oleh al-Ghazali yang dikemukakannya dalam kitab Adab Tilawah al-Qur’an. Dalam hal ini beberapa ulama seperti al-Ghazali dan juga al-Alusi yang banyak mengutip dari ulama –ulama sebelumnya memberikan contoh do’a-do’a yang dibaca untuk sujud tilawah.
Pada saat ayat sajdah yang dibacakan Q.S. Sajdah: 15, maka do’a yang dibacakan adalah:
اللهم اجعلنى من الساجدين لوجهك المسبحين بحمدك وأعوذبك أن أكون من المتكبرين عن أمرك او على أولياءك
“Ya Allah jadikan aku termasuk golongan orang-orang yang bersujud kepada dzat-Mu yang mensucikan dengan memuji-Mu agar aku jauh dari golongan orang-orang yang sombong terhadap perintah-Mu atau terhadap para kekasih-Mu”.
Pada saat dibacakan Q.S. Maryam :58, maka do’a yang dibacakan:
اللهم اجعلنى من عبادك المنعم عليهم المهتدين لك الباكين
“Ya Allah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang diberi nikmat dan petunjuk yang bersujud dan menangis ketika membaca ayat-ayat-Mu”.
Dan apabila seseorang membaca Q.S. al-Isra’:109, maka do’a yang dibacakan:
اللهم اجعلنى من الباكين إليك الخاشعين لك
“Ya Allah jadikanlah saya dari golongan orang-orang yang menangis kepada-Mu seraya khusu’ kepada-Mu.”
Secara umum do’a-do’a yang biasa dibaca dalam pelaksanaan sujud tilawah menurut jumhur ulama’ adalah:
سبحانك ربى الأعلى
“Maha suci Tuhan-ku yang Maha Tinggi”
Do’a tersebut dibaca saat melaksanakan sujud tilawah yang dilakukan pada pelaksaan shalat, maka membaca tasbih tersebut sebanyak tiga kali seperti halnya tasbih yang dibacakan dalam pelaksanaan sujud dalam shalat fardlu.
Adapun do’a yang diakui berasal dari Rasl SAW yang diriwayatkan dari ‘Aisyah adalah:
اللهم لك سجدت وبك امنت سجد وجهى للذى خلقه وصوره وشق سمعه وبصره بحوله وقوته تبارك الله أحسن الخالقين
“Ya Allah kepada-Mu aku bersujud dan kepada-Mu aku beriman. Wajahku bersujud Zat yang menciptakan dan membentuknya, serta membela pendengaran dan pandangan dengan daya dan upaya-Nya Maha suci Allah Tuhan sebaik-baik pencipta”.
اللهم اكتب لى بها عندك أجرا واجعلها لى عندك دخرا وضع عنى بها وزرا واقبلها منى كما قبلها من عبادك داود صلى الله عليه وسلم
“Ya Allah tetapkanlah (tulislah) pahala sujud tilawah untukku di sisi-Mu. Jadikanlah dia simpanan di sisi-Mu, lepaskanlah beban dariku karenanya dan terimalah ia dariku sebagaimana Engkau menerimanya dari hamba-Mu Daud a.s.”
Menurut al-Nawawi do’a yang khusus untuk sujud tilawah dan sebaiknya diusahakan untuk menjaganya adalah:
سبوح قدوس رب العالمين رب الملائكة والروح
“Maha Suci dan Maha Murni Tuhan pencipta, pengatur Malaikat dan Jibril”.
Al-Alusi juga mengemukakan bahwa do’a yang umum dibaca dalam sujud tilawah adalah:
اللهم لك سجدى سوادي وبك فؤادى اللهم ارزقنى علما ينفعنى وعملا يرفعنى
“Ya Allah hanya untuk-Mu sujud yang aku lakukan sepenuh hati ini, dan hanya kepada-Mu hatiku beriman. Ya Allah berilah aku ilmu yang bermanfaat dan amal yang bias mengangkat derajatku”.




Posted by
Ahmad Efendi

More
English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic
Powered by Blogger.

Followers

OUR FACEBOOK

Sponsor Blog

Site Info

Copyright © 2012 Makalah Dunia ModernTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.