Ciri-ciri Kurikulum Berbasis Kompetensi

Ciri-ciri Kurikulum Berbasis Kompetensi menurut Siti Fatimah Sopenaryo sebagai berikut:
a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara individu maupun klasikal.
b. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman.
c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
d. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar yang lainnya yang memenuhi unsur eduktif.
e. Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. (Sopenaryo, 2004:3).

Pokok-pokok Materi Kurikulum Pendidikan Agama Islam

1) Pokok-pokok Materi kurikulum pendidikan agama Islam antara lain:

1. Hubungan manusia dengan Allah SWT.
Hubungan vertical antara insan dengan khaliknya mendapatkan prioritas pertama dalam penyusunan kurikulum ini, karena pokok ajaran inilah yang pertama-tama perlu ditanamkan anak didik. Tujuan kurikuler yang hendak dicapai dalam hubungan manusia dengan Allah ini mencakup segi keimanan, rukun Islam dan Ihsan. Termasuk ke dalamnya membaca Al-Qur’an dan menulis huruf Al-Qur’an.
2. Hubungan manusia dengan manusia.
Aspek hubungan dan pergaulan hidup manusia dengan sesamanya sebagai pokok ajaran agama Islam yang penting ditempatkan pada prioritas kedua dalam urutan kurikulum ini. Tujuan kurikuler yang hendak dicapai dengan kurikulum ini mencakup segi kewajiban dan larangan dalam hubungan dengan sesama manusia, segi hak dan kewajiban di dalam bidang pemilikan dan jasa, kebiasaan hidup bersih dan sehat jasmaniah dan rohaniah, dan sifat-sifat kepribadian yang baik.
3. Hubungan manusia dengan alam.
Agama Islam banyak mengajarkan tentang alam sekitar, dan manusia diberi amanat oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi. Manusia boleh menggunakan dan mengambil manfaat dari alam menurut garis-garis yang ditentukan Allah. (Amin, 1992:106).

2) Materi/Bidang-bidang yang Dikembangkan Dalam PKB (Program Kegiatan Belajar TK) dalam Program Pengembangan Khusus Agama.
1. Keimanan:
Dasar-dasar pengetahuan tentang rukun iman/pendidikan akidah.
a) Mengenal Allah Melalui Ciptaannya
1) Mengenal Allah melalui ciptaannya.
d. Ciptaan Allah dari jenis manusia.
d. Ciptaan Allah dari jenis binatang.
d. Ciptaan Allah dari jenis tumbuh-tumbuhan.
d. Ciptaan Allah dari jenis benda alam.
2) Mengenal Allah melalui adanya sifat-sifatnya.
a. Allah Maha Pandai.
b. Allah Maha Pengasih dan Penyayang.
c. Allah Maha Maha Melihat.
d. Allah Maha Maha Mendengar.
e. Allah Maha Maha Esa.
b) Mengenalkan Beberapa Malaikat Utusan Allah serta Tugas-tugasnya
1) Malaikat Jibril.
2) Mikail.
3) Rokib dan Atid.
4) Ridwan.
c) Mengenal Rosul Utusan Allah serta Sifat-sifatnya
1) Kota kelahiran Nabi Muhammad.
2) Keluarga dekat Nabi Muhammad.
3) Sifat-sifat Nabi Muhammad.
1. Jujur.
2. Pandai.
3. Berbudi luhur.
d) Mengenal Al-Qur’an Kitab Suci dan Cara Mengamalkannya
1) Membaca surat-surat pendek.
2) Isi ajaran Al-Qur’an.
3) Sejarah turunnya Al-Qur’an mengenalkan huruf Al-Qur’an (huruf Hijaiyah).
e) Mengenal Adanya Kehidupan Akhirat Gambaran Kehidupan di Surga
f) Mengenal Dasar Pengetahuan tentang Taqdir sebagai Ketetapan Allah
1) Hidup.
a. Kelahiran bayi.
b. Hidup kaya.
c. Hidup Miskin.
2) Meninggal.
a. Meninggal karena sakit.
a. Meninggal karena kecelakaan.
b. Meninggal karena usia.
2. Ibadah.
Dasar-dasar pengetahuan rukun Islam yang tercermin dalam sikap perbuatannya.
a) Mengenal Bacaan Dua Kalimat Syahadat dan artinya
1) Latihan mengucapkan bacaan.
2) Latihan mengucapkan artinya.
b) Mengenal Cara Mengerjakan Ibadah Sholat
1) Cara mengerjakan Ibadah Sholat.
a. Gerakan Sholat.
b. Bacaan Sholat.
c. Tempat Sholat.
d. Waktu Sholat.
e. Perlengkapan Sholat.
2) Macam-macam Sholat.
a. Sholat Jum’at.
b. Sholat Idul Fitri.
c. Sholat Idul Adha.
3) Mengenalkan cara Wudhu dan Bacaannya.
c) Mengenal Cara Ibadah Puasa
1) Cara sahur.
2) Menahan lapar disiang hari sesuai dengan kemampuannya.
3) Praktek berbuka Puasa.
d) Mengenal Cara Membayar Zakat
1) Zakat Fitrah.
a. Barang yang dizakatkan.
b. Yang berhak menerima zakat.
c. Waktu memberikan Zakat.
2) Zakat Mal (harta).
Dengan latihan memberikan sebagian yang dimilikinya atau disenanginya.
e) Mengenal Cara Ibadah Haji/Praktek Haji.
1) Pakaian Haji.
2) Cara Thawaf.
3) Cara Sa’i.
3. Akhlak.
Dasar-dasar pengetahuan tentang Ikhsan/Akhlak dan pengamalannya.
a) Mengenal Akhlak terhadap Allah.
1) Bersikap baik waktu sedang ibadah.
2) Sikap waktu sholat (tenang, khusuk, tuma’ninah).
3) Sikap waktu berdo’a.
4) Sikap waktu orang sholat dan berdo’a.
5) Sikap waktu mendengar Adzan.
b) Mengenal Akhlak terhadap orang tua.
1) Patuh dan hormat terhadap orang tua.
2) Membantu orang tua.
3) Mendo’akan orang tua.
4) Sopan santun terhadap orang yang lebih tua. (kakak, bibi, paman, dll).
4. Pembinaan Membaca Menulis Huruf Al-Qur’an.
1) Mengenal dan mengucapkan huruf hijaiyah dengan fasih.
2) Membaca huruf yang telah diberi syakal, yang terdiri dari huruf:
3) Membaca dan menulis huruf Al-Qur’an. (Halim, dkk,1995:20).

Faktor-faktor Kurikulum Pendidikan Agama

Faktor-faktor kurikulum pendidikan agama adalah”
1. Persesuaian dengan tujuan pendidikan agama (perumusan tujuan secara tegas).
2. Persesuaiannya dengan tingkat usia, tingkat perkembangan kejiwaan anak dan kemampuan anak didik”. (Amin, 1992:104).

Tujuan Kurikulum yang Terkandung di dalam Kurikulum suatu Sekolah

Tujuan kurikulum yang terkandung di dalam kurikulum suatu sekolah yaitu:
1. Tujuan yang ingin dicapai sekolah secara keseluruan. Selaku lembaga pendidikan, setiap sekolah mempunyai sejumlah tujuan yang ingin dicapainya (tujuan lembaga pendidikan atau tujuan institusional).
2. Tujuan yang ingin dicapai dalam setiap bidang studi. Setiap bidang studi dalam kurikulum suatu sekolah juga mempunyai sejumlah tujuan yang ingin dicapainya. Tujuan inipun digambarkan dalam bentuk pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang diharapkan dapat dimiliki murid/siswa setelah mempelajari suatu bidang studi pada suatu sekolah tertentu.
3. Tujuan-tujuan setiap bidang studi dalam kurikulum itu ada yang disebut tujuan kurikuler dan ada pula yang disebut tujuan instruksional, di mana tujuan instruksional merupakan penjabaran lebih lanjut dari tujuan kurikuler. (Daradjat, dkk, 1992:123).

Fungsi Kurikulum dilihat dari Tiga Sudut

1. Bagi sekolah yang bersangkutan.
2. Bagi sekolah pada tingkatan diatasnya dan.
3. Bagi masyarakat/pemakai lulusan sekolah tersebut”.
(Daradjat, dkk, 1992:122).
Untuk sekolah yang bersangkutan, kurikulum sekurang-kurangnya memiliki dua fungsi”
(1) Sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan.
(1) Sebagai pedoman dalam mengatur kegiatan pendidikan sehari-hari”. (Daradjat, 1992:122).
Fungsi Kurikulum menurut menurut Oemar Hamalik yaitu:
1. Memuat isi dan materi pelajaran maksudnya kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan.

2. Kemudian kurikulum sebagai rencana pembelajaran maksudnya kurikulum yang merupakan suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program itu para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran.
3. Selanjutnya kurikulum sebagai pengalaman belajar. Perumusan atau pengertian kurikulum lainnya yang agak berbeda dengan pengertian-pengertian sebelumnya lebih menekankan bahwa kurikulum merupakan serangkaian pengalaman belajar. (Hamalik, 1995:17).

Pengertian Kurikulum Taman Kanak-kanak

Pengertian kurikulum di Taman Kanak-kanak menurut Soemiarti Patmonodewo adalah: Seluruh usaha atau kegiatan sekolah untuk merangsang sang anak supaya belajar, baik di dalam maupun di luar kelas. Anak tidak terbatas belajar dari apa yang diberikan di sekolah saja. Seluruh perkembangan aspek seseorang dijangkau dalam kurikulum ini, baik aspek fisik, intelektual, sosial maupun emosional. Kemudian pengertian lain dari kurikulum yaitu segala pengalaman dan pengaruh yang bercorak pendidikan yang diperoleh anak disekolah, kurikulum ini meliputi segala sarana dan prasarana sekolah. (Patmonodewo, 2005:56).


Menurut Siti Fatimah Sopenaryo pada Anak Usia Dini kurikulum yang digunakan pada saat ini yaitu: Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dalam konsep Pendidikan Anak Usia Dini (PADU) menurut Puskur-Balitung Depdiknas adalah anak yang berada pada rentangan usia 0 sampai 8 tahun. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan: ‘Perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai Peserta Didik (PD), penilaian, kegiatan belajar mengajar dan pemerdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. (Sopenaryo, 2004:3).

Pengertian Kurikulum Pendidikan Agama Islam

Dari berbagai pengertian kurikulum secara umum, Dra. H. Zuhairini, dkk, memberikan definisi kurikulum pendidikan agama Islam sebagai berikut: Bahan-bahan pendidikan agama berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis, diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan agama. Atau dengan kalimat sederhana kurikulum pendidikan agama adalah: Semua pengetahuan, aktifitas (kegiatan-kegiatan) dan juga pengalaman-pengalaman yang dengan sengaja dan secara sistematis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan agama. (Amin, 1992:104).

Pengertian Kurikulum

Kurikulum pada dasarnya diartikan secara berbeda-beda oleh beberapa golongan orang atau masyarakat. Bagi kebanyakan orang, kurikulum adalah seperangkat mata pelajaran, yang harus dipelajari anak didik. Bagi siswa, kurikulum mungkin diartikan sebagai tugas-tugas pelajaran, latihan-latihan atau isi buku teks yang harus mereka baca, hafalkan atau pelajari. Bagi orang tua, kurikulum diartikan dengan latihan-latihan atau pekerjaan rumah. Bagi guru, kurikulum diasosiasikan dengan dokumen yang berisi keterangan atau pedoman tentang materi pelajaran yang harus diajarkan, metode serta teknik-teknik mengajar, atau buku teks yang harus mereka ajarkan.
Ditinjau dari segi asal katanya, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang mula-mula digunakan dalam bidang olah raga, yaitu kata currere yang berarti jarak tempuh lari. Dalam kegiatan berlari tentu saja ada jarak yang harus ditempuh mulai dari start sampai dengan finish. Jarak dari start sampai dengn finish ini disebut currere. Atas dasar tersebut pengertian kurikulum diterapkan dalam pendidikan (Marno, 2004:1).
Jadi pengertian kurikulum adalah serangkaian strategi pengajaran yang dipergunakan di sekolah untuk menyediakan kesempatan terwujudnya pengalaman belajar bagi anak didik untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan (Marno, 2004:3).
Menurut Soemiarti Patmonodewo (2000:54) yang dimaksud kurikulum adalah: Suatu perencanaan pengalaman belajar secara tertulis. Kurikulum itu akan menghasilkan suatu proses yang akan terjadi seluruhnya di sekolah. Rancangan tersebut akan merupakan silabus yang berupa daftar judul pelajaran dan urutannya akan tersusun secara sempurna dan teratur sehingga merupakan suatu program. Dalam merencanakan suatu kurikulum untuk anak, guru harus memilih tujuan, bagaimana mengorganisasi isi kurikulum, memilih bentuk pengalaman belajar bagi anak, bagaimana urutan pelajaran diberikan dan kemudian menentukan bagaimana urutan pelajaran diberikan dan kemudian menentukan bagaimana melakukan penilaian terhadap hasil belajar anak dan program itu sendiri.

Menurut Zakiyah Daradjat, dkk, pengertian kurikulum yaitu “kurikulum yang dipandang sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tersebut.” (Daradjat, dkk, 1992:122).

Evaluasi pendidikan agama Islam

Evaluasi merupakan suatu proses penafsiran terhadap kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan anak didik dalam rangka untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan yang dimaksud dalam penulisan ini adalah evaluasi pendidikan Islam yaitu suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan didalam pendidikan Islam.
Program evaluasi ini diterapkan dalam rangka untuk mengetahui tingkat keberhasilan seorang pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran.Menemukan kelemahan-kelemahan yang dilakukan baik yang berkaitan dengan materi, metode fasilitas dan lain sebagainya. Evalusi juga membantu anak didik agar dapat mengubah atau mengembangkan tingkah lakunya secara sadar, serta memberikan upaya cara meraih suatu kepuasan bisa berbuat sebagaimana mestinya.

Adapun evaluasi yang biasa dipergunakan dalam pendidikan agama bisa berupa:
a. Evaluasi formatif.
Yaitu suatu evaluasi yang dilakukan setelah selesai satu pokok bahasan. Evaluasi sering disebut dengan evaluasi jangka pendek. Dalam pelaksanaannya disekolah evaluasi ini merupakan ulangan harian. Evaluasi ini berfungsi untuk menilai kembali validitas, reliabilitas dan obyektifitas evalusi itu sendiri dalam sistem pendidikan dan pengajaran agama yang kita lakukan. Bagaimana pula nilai-nilai unsur pendidikan dan pengajaran (selain alat evalusi) dalam pencapaian tujuan pendidikan agama. Dengan kata lain, fungsi evaluasi formatif untuk memberikan umpan balik ( feed back) pada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan remedial (perbaikan) program murid.
b. Evalusi Sumatif.
Yaitu suatu evaluasi yang dilakukan sesudah diselesaikan beberapa pokok bahasan atau disebut evaluasi hasil belajar jangka panjang. Dalam pelaksanaanya disekolah evaluasi disamakan dengan ulangan umum yang biasanya dilakukan pada waktu akhir semester. Evaluasi ini berfungsi untuk menentukan angka kemajuan atau hasil belajar masing-masing murid yang antara lain untuk memeberikan laporan pada orang tua, penentuan kenaikan kelas dan penentuan lulus tidaknya seseorang pada ujian akhir nasional.
c. Evaluasi Placement (penempatan).
Jika cukup banyak calon siswa yang diterima disuatu sekolah, sehingga diperlukan lebih dari satu kelas maka untuk pembagian diperlukan pertimbangan khusus, apakah anak yang baik akan disatukan ataukah dicampur dengan anak yang kurang baik, sedang dan kurang maka diperlukan informasi tersebut dapat diperoleh dengan evaluasi placement. Jadi evaluasi ini adalah untuk menempatkan murid dalam situasi belajar mengajar yang sesuai dengan keadaanya secara tepat.
d. Evaluasi Diagnosis.
Yaitu suatu evaluasi yang berfungsi untuk mengenal latar belakang kehidupan (Psikolaogi, phisik, dan milieu) murid yang mengalami kesulitan belajar dan hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan-kesulitan tersebut.
Penilaian dalam pendidikan mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pengertian (feed back) dan sebagai peneguhan atau reinforcement.
Sebagai pengertian evaluasi memberikan pedoman bagi guru apakah berhasil atau tidak. Kalau berhasil ia meneruskan strategi yang digunakan, jika tidak maka ia harus merubah strateginya supaya mencapai keberhasilan dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik.
Sebagai peneguhan atau reforcement maka penilaian itu bertugas mengekalkan untuk tingkah laku yang tidak diinginkan. Jika yang diingikan itu adalah akhlaq baik sesuai dengan ajaran Islam, maka ia harus diteguhkan supaya kekal. Salah satu peneguhannya ialah melalui penilaian, dengan pengajaran atau pujian atau mungkin dengan angka. Sebab kalo tidak diteguhkan lama kelamaan akhlaq itu akan hilang dan pendidikan berarti tidak berhasil.
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa diadakannya program evaluasi atau penilaian adalah untuk mengetahui kadar pemahaman anak didik terhadap materi pelajaran, melatih keberanian dan mengajak anak didik untuk mengingat kembali pelajaran yang telah diberikan kepadanya. Selain itu juga untuk mengetahui siapa anak didik yang lemah, sehinga perlu perhatian secara khusus agar dapat mengejar kekurangannya, sehingga ia naik kelas dan tamat.

Metode Pendidikan Agama Islam

Dalam menyampaikan materi pelajaran kepada anak didik agar berhasil dengan baik, perlu diperhatikan dalam menentukan dan memiliki metode pengajaran yang sesuai. Karena metode mengajar merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan tercapainya suatu tujuan pengajaran.
Pada dasarnya metode pengajaran agama sama dengan mengajar ilmu-ilmu yang lain, disamping adanya ciri-ciri yang khas, metode mengajar sangat bermacam-macam. Karena banyak faktor yang mempengaruhinya yaitu:
1. Tujuan yang hendak dicapai.
2. Peserta didik.
3. Bahan atau materi yang diajarkan.
4. Fasilitas.
5. Guru.
6. Situasi.
7. Partisipasi.
8. Kebaikan dan kelemahan metode tertentu.
9. Filsafat.
Dengan kaitannya faktor-faktor diatas, maka tidak mustahil bagi seorang guru didalam menyampaikan materi pendidikan agama Islam dapat menggunakan metode yang tepat guna, sehingga dapat membawa hasil yang sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Adapun macam-macam metode yang dapat digunakan dalam pendidikan agama Islam pada umumnya meliputi:
Metode ceramah.
Metode tanya jawab.
Metode diskusi.
Metode latihan siap.
Metode demonstrasi dan eksperimen.
Metode pemberian tugas belajar.
Metode karya wisata.
Metode kerja kelompok.
Metode sosiodrama dan bermain kelompok.
Metode sistem regu.
Metode pemecahan masalah.
Metode proyek/unit.(Ramyulis, 1990; 115).
1). Metode Ceramah.
Yang dimaksud metode ceramah adalah suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dimana cara menyampaikan pengertian-pengertian materi pengajaran kepada anak didik dilaksanakan dengan lisan oleh guru terhadap kelas.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyiapkan bahan:
Tujuan yang hendak dicapai atau yang harus dipelajari oleh para siswa, harus dirumuskan dengan jelas.
Menetapkan istilah-istilah atau pengertian-pengertian yang akan dipergunakan dalam ceramahnya.
Menyusun bahan ceramah dengan cermat.
Perhatikan siswa pada pokok persoalan suatu syarat berhasilnya metode ini.
Menanamkan pengertian-pengertian dengan jelas.
Merencanakan evaluasi dengan wajar.(Ahmadi, 1986; 112).
Untuk bidang studi agama, metode ceramah masih tepat untuk dilaksanakan, misalnya: untuk memberikan pengertian tentang tauhid, maka satu-satunya metode yang dapat digunakan adalah metode ceramah. Karena tauhid tidak dapat diperagakan, sukar didiskusikan, maka seorang guru memberikan uraian menurut caranya masing-masing dengan tujuan murid dapat mengikuti jalan pikiran guru.

2). Metode Tanya Jawab.
Yaitu cara penyampaian pelajaran dengan jalan guru mengajukan pertanyaan dan murid memberikan jawaban atau sebaliknya murid bertanya guru memberikan jawaban. Dengan demikian metode ini diharapkan terjadi dialog antara guru dan murid. (Zuhairi, 2004; 62).
Metode tanya jawab dilakukan:
Untuk merangsang anak didik agar perhatiannya tercurah pada masalah yang sedang dibicarakan.
Untuk mengarahkan proses berfikir.
Sebagai selingan dalam pembicaraan.
Sebagai ulangan pelajaran yang telah diberikan.

3). Metode Diskusi.
Adalah suatu kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah untuk mengambil kesimpulan. Diskusi tidak sama dengan berdebat. Diskusi selalu diarahkan kepada pemecahan masalah yang menimbulkan berbagai macam pendapat, dan akhirnya diambil suatu kesimpulan yang dapat diterima oleh anggota dalam kelompoknya.
Metode diskusi dilakukan:
Bila ada soal-soal sebaiknya pemecahannya diserahkan kepada murid
Untuk mencari keputusan atau pendapat bersama menganai suatu masalah.
Untuk menimbulkan kesanggupan.(Ahmadi, 19986; 113).

4). Metode Latihan (Drill).
Yaitu suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang telah menjadi kenyataan. Selain itu metode ini juga dapat digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempurnaan, dan ketrampilan latihan sesuatu yang telah dipelajari.(Mansyur, 1981; 80).
5). Metode Demonstrasi dan Eksperimen.
Metode demonstrasi adalah metode mengajar dimana guru atau orang lain yang sengaja diminta atau murid sendiri memperlihatkan kepada seluruh kelas suatu proses (proses cara mengambil air wudlu, proses jalanya sholat dua rakaat dan sebagainya).
Metode eksperimen adalah metode pengajaran dimana guru dan murid bersama-sama mengajarkan sesuatu sebagai latihan praktis dari apa yang diketahui (murid mengadakan eksperimen menyelenggarakan sholat jum’at, merawat jenazah dan sebagainya).
Metode ini dilakukan:
a. Apabila akan memberikan ketrampilan tertentu.
b. Untuk mempermudah berbagai penjelasan.
c. Untuk menghindari verbalisme.
d. Untuk membantu anak memahami dengan jelas jalannya suatu proses dengan penuh perhatian sebab akan menarik.(Mansyur, 1981; 80)
6). Metode Pemberian Tugas Belajar.
Sering disebut juga metode pekerjaan rumah yaitu metode dimana murid diberi tugas khusus diluar jam pelajaran Dalam melaksanakan metode ini anak-anak dapat mengerjakan tugasnya tidak hanya dirumah, mungkin diperpustakaan, dilaboratorium, dikebun percobaan dan sebagainya untuk dipertanggung jawabkan kepada guru.
Pelaksanaan metode ini dapat dilaksanakan didalam berbagai kegiatan belajar, baik dilaksanakan secara perseorangan maupun dilaksanakan secara berkelompok.
Metode ini dapat dilakukan:
a. Apabila guru mengharapkan agar semua pengetahuan yang telah diterima lebih mantap.
b. Untuk mengaktifkan anak-anak mempelajari sendiri suatu masalah membaca sendiri, mengerjakan soal-soal sendiri, mencoba sendiri.
c. Agar anak-anak lebih rajin.
7). Metode Karya Wisata.
Yaitu cara penyampaian bahan pelajaran dengan mengadakan kunjungan kesuatu obyek untuk mempelajari sesuatu dalam penyampaian tujuan pengajaran. Metode ini juga sebagai metode pengajaran yang dilaksanakan dengan jalan bertamasya diluar kelas. Dalam perjalanan tamasya ada hal-hal tertentu yang jelas telah direncakanan oleh guru untuk didemonstrasikan oleh guru pada anak didik, disamping hal-hal yang secara kebetulan didalam perjalanan tamasya tersebut.
Metode ini dilakukan untuk:
1. Apabila akan memberikan pengertian yang lebih jelas dengan peraga langsung.
2. Apabila akan membangkitkan penghargaan dan cinta terhadap tanah air.
3. Apabila akan mendorong anak menghargai lingkungan dengan baik.
8). Metode Kerja Kelompok.
Metode kerja kelompok dalam rangka pendidikan dan pengajaran adalah kelompok dari kumpulan beberapa individu yang bersifat paedagogis yang didalamnya terdapat adanya hubungan timbal balik antara individu serta saling percaya mempercayai.
Metode ini dilakukan:
1. Untuk memberikan kesempatan berkembang bagi anak-anak yang setaraf
2. Untuk memberikan kesempatan pada anak-anak untuk memilih teman yang disenangi.
3. Untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab
9). Metode Sosiodrama dan Bermain Peranan.
Yaitu metode mengajar dengan mendemonstrasikan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial, sedangkan bermain peranan menekankan kenyataan dimana para murid diikut sertakan memainkan peranan didalam mendemonstrasikan masalah hubungan sosial.

10). Metode Sistem Regu.
Metode sistem regu (team teaching) metode mengajar dimana dua orang guru (lebih) bekerja sama mengajar sekelompok murid. Metode ini banyak dipergunakan diperguruan tinggi. (Zuhairi, 2004; 75).
11). Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving).
Metode pemecahan masalah adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dengan mengajak dan memotivasi murid untuk memecahkan masalah dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar.
12). Metode Proyek/Unit.
Metode proyek/unit adalah suatu metode mengajar dimana bahan pelajaran diorganisir sedemikian rupa, sehingga merupakan suatu keseluruhan atau kesatuan bulat yang bermakna dan mengandung suatu pokok masalah.
Metode ini dapat digunakan untuk memberikan pengertian kepada murid tentang perlunya menjalin kerja sama antara sekolah dan masyarakat.
Demikianlah apa yang penulis uraikan diatas mengenai beberapa metode yang digunakan dalam mengajarkan pendidikan agama Islam. Dengan demikian diharapkan seorang guru agama dapat memilih metode yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi disamping juga harus pandai menggunakan cara-cara yang bervariasi agar dapat menciptakan suasana yang tepat dalam penyampaian suatu materi pelajaran.

Materi Pendidikan Agama Islam

Yang dimaksud alat pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam usaha mencapai tujuan pendidikan. Sedang yang dimaksud alat pendidikan agama adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam mencapai tujuan pendidikan agama.
Sebelumnya hal-hal yang diperlu diperhatikan dalam menggunakan alat-alat pendidikan agama Islam antara lain:
1) Tujuan yang hendak dicapai dengan memilih alat tersebut. Suatu misal dalam menyampaikan materi bimbingan sholat, maka alat yang perlu dipergunakan adalah tikar, mukena ataupun sarung, air wudlu dan sebagainya.
2) Oleh siapa alat tersebut dipergunakan. Pribadi guru yang akan menggunakan harus menjiwai atau mengerti cara menggunakan alat tersebut. Guru agama yang menggunakan haruslah taat beribadah, sehingga dalam mempraktekkan alat pendidikan agama tidak canggung Terhadap anak bagaimana alat tersebut dipergunakan.
3) Dalam memilih alat pendidikan agama, haruslah disesuaikan dengan kondisi dari anak-anak yang di hadapi sehingga alat tersebut betul-betul membantu mempermudah peserta didik.
Selanjutnya macam-macam alat pendidikan agama yang dapat dipergunakan dalam pelaksanaan pendidikan agam itu cukup banyak, dalam uraian ini, akan di kelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu:
a. Alat pengajaran agama.
Alat pengajaran agama tersebut dapat dibedakan menjadi tiga macam:
a) Alat pengajaran klasik yaitu alat pengajaran yang dipergunakan oleh guru bersama-sama murid, sebagai contoh papan tulis, tempat sholat dan sebagainya.
b) Alat pengajaran individual yaitu alat-alat yang dimiliki oleh masing-masing murid dan guru. Misalnya alat tulis, buku pegangan, buku-buku untuk murid dan sebagainya.
c) Alat peraga yaitu alat pengajaran yang berfungsi untuk memperjelas atau memberi gambaran yang kongkrit tentang hal-hal yang diajarkan. Alat-alat peraga modern yang dipergunakan dalam pendidikan agama antara lain yaitu:
1. Visual Aids adalah alat pendidikan yang dapat diserap dengan penglihatan seperti gambar yang diproyeksi dan sebagainya.
2. Audio-Visual adalah alat pendidikan yang diserap melalui indera pendengaran. Seperti radio, tape recorder.
3. Audio-Visual Aids (AVA) adalah alat pendidikan yang dapat diserap dengan penglihatan dan pendengaran.
b. Alat pendidikan agama yang langsung.
Yaitu dengan menanamkan pengaruh positif kepada murid, dengan memberikan contoh tauladan, memberikan nasehat, perintah berbuat sholeh, melatih dan membiasakan amalan dan sebagainya. Termasuk didalam pendidikan langsung disini adalah menggunakan emosi dan dramatisasi, dalam menerapkan masalah agama. Karena agama adalah lebih menyangkut masalah perasaan.
c. Alat pendidikan agama yang tidak langsung.
Yaitu bersifat kuratif. Agar dengan demikian anak-anak menyadari perbuatannya yang salah dan berusaha untuk memperbaiki. Suatu contoh, tentang sholat. Bila anak sudah berumur 10 (sepuluh) tahun belum bersedia menjalankan sholat diberikan hukuman, agar dengan hukuman tersebut anak menjadi sadar. Jadi hukuman dapat dijadikan sebagai alat untuk mendidik anak dalam hal pendidikan agama.(Ahmai, 1986; 50)

Materi Pendidikan Agama

Ajaran pendidikan agama Islam sangat luas dan bersifat universal, sebab mencangkup seluruh aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan khaliqnya maupun yang berhubungan dengan mahluknya. Pada dasarnya materi pendidikan agama Islam tersebut terbagi menjadi tiga pokok masalah yaitu:
1) Aqidah (Keimanan).
Adalah bersifat I’tiqod batin, mengajarkan keesaan Allah, Esa sebagai Tuhan yang mencipta, mengatur dan meniadakan alam ini.
2) Syariah (Keislaman).
Peraturan-peraturan yang di ciptakan Allah atau yang diciptakan pokok-pokoknya supaya manusia berpegangan kepadanya didalam hubunganya dengan Tuhan, dengan saudaranya sesama muslim dengan saudaranya sesama manusia, beserta hubungan dengan alam sekitarnya dan hubungannya dengan kehidupan.(Nasir, Anshari, 1982; 88)
3) Akhlak ( Budi Pekerti ).
Akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Jadi pada hakikatnya akhlak (budi pekerti) adalah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan telah menjadi kepribadian sehingga timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran. Apabila dari kondisi timbul melakukan yang baik dan terpuji menurut pandangan syariat dan akal pikiran, maka ia dinamakan budi pekerti mulia dan sebaliknya apabila yang lahir melakukan yang buruk, maka disebutlah budi pekerti yang tercela.
Ruang lingkup pembahasan tergantung pada jenis lembaga yang bersangkutan, tingkatan kelas, tujuan dan tingkat kemampuan anak didik sebagai konsumennya. Untuk sekolah-sekolah agama atau madrasah tentu pembahasannya lebih luas, mendalam dan terperinci dari pada sekolah-sekolah umum, demikain pula perbedaan tingkat rendah dan tingkat tinggi kelasnya. (Zuhairi, 2004; 48)

Dasar dan Tujuan Pendidikan

Dasar dan tujuan pendidikan adalah merupakan masalah yang sangat fundamental dalam Pelaksanaan pendidikan. Sebab dari dasar pendidikan itu akan menentukan corak misi pendidikan, dan dari tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana peserta didik akan diarahkan atau dibawa.
Pendidikan adalah masalah yang sangat penting dalam kehidupan, karena pendidikan itu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Baik dalam kehidupan keluarga maupun dalam kehidupan bernegara. Sehingga pendidikan dijadikan suatu ukuran maju mundurnya suatu bangsa.
Pada umumnya tiap-tiap bangsa dan negara sependapat tentang pokok-pokok tujuan pendidikan yaitu mengusahakan supaya tiap-tiap orang sempurna pertumbuhan tubuhnya, sehat otaknya, baik budi pekerti dan sebagainya. Sehingga ia dapat mencapai kesempurnaan dan bahagia hidupnya lahir dan batin.
Jelaslah bahwa yang dimaksud dengan dasar pendidikan adalah suatu landasan yang dijadikan pegangan dalam menyelenggarakan pendidikan. Pada umumnya yang menjadi landasan dalam penyelenggaraan pendidikan suatu bangsa dan negara adalah pandangan hidup dan falsafah hidupnya.(Zuhairini, 2004: 4)
Dasar pendidikan agama di Indonesia erat kaitannya dengan dasar pendidikan Nasional yang menjadi landasan terlaksananya pendidikan bagi bangsa indonesia. Karena pendidikan agama Islam merupakan bagian yang ikut berperan dalam tercapainya tujuan pendidikan Nasional.
Dasar ideal pendidikan Islam sudah jelas dan tegas yaitu firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Kalau pendidikan di ibaratkan bangunan maka isi Al-Qur’an dan Haditslah yang menjadi fundamennya. Al-Qur’an adalah sumber kebenaran dalam Islam, kebenaran yang sudah tidak dapat di ragukan lagi. Sedangkan sunnah Rasulullah SAW yang dijadikan landasan pendidikan agama Islam adalah berupa perkataan, perbuatan atau pengakuan Rasullullah SAW dalam bentuk isyarat. Bentuk isyarat ini adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh sahabat atau orang lain dan Rasullullah membiarkan saja dan terus berlangsung.
Dari uraian diatas makin jelaslah bahwa yang menjadi sumber pendidikan adalah Al-Qur’an dan Sunnah yang didalamnya banyak disebutkan ayat atau hadits yang mewajibkan Pendidikan Agama Islam untuk dilaksanakan antara lain: Allah berfirman:
وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا (الاحزاب: ٧۱ )

Artinya: Dan barang siapa yang mentaati Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya ia akan bahagia sebenar-benar bahagia. (QS Al-Ah-zab 71) (DEPAG RI 1992: 680)
Ayat tersebut tegas sekali mengatakan bahwa apabila manusia telah mengatur seluruh aspek kehidupannya (Termasuk pendidikannya) dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, maka akan bahagialah hidupnya dengan sebenar-benarnya bahagia baik didunia maupun di akhirat nanti. Sabda nabi Muhammad SAW:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابُ اللهِ وَسُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلََّمَ (رواه الاٍمام مالك)
Artinya: Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian yang membuat kalian tidak akan sesat selagi kalian berpegang kepada keduanya, yaitu kitabullah,(Alquran) dan sunnah Rasul-Nya. (H.R.Imam Malik) (Mansyur Ali, 2002: 98).
1) Dasar Yuridis
Dasar-dasar pendidikan agama yang berasal dari peraturan perundang-undangan yang secara langsung dan tidak langsung dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama, disekolah-sekolah ataupun dilembag-lembaga pendidikan formal di Indonesia.
Adapun dasar dari segi yuridis formal tersebut ada tiga macam, yaitu sebagai berikut.

a. Dasar Ideal.
Dasar ideal adalah dasar dari falsafah negara pancasila dimana sila pertama dari pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini mengandung pengertian bahwa seluruh bangsa Indonesia harus percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang P4 (PRASETIA PANCAKARSA) disebutkan bahwa dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Untuk merealisasi hal tersebut, diperlukan adanya pendidikan agama, karena tanpa pendidikan agama akan sulit mewujudkan sila pertama dari pancasila tersebut.
b. Dasar Struktural atau Konstitusional
Yakni dasar dari UUD 1945, dalam Bab XI Pasal 29 ayat 1 dan 2 yang berbunyi:
1 Negara berdasarkan atas ketuhanan Yang Maha Esa.
2 Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.
Bunyi ayat diatas mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia harus beragama dan negara melindungi umat beragama untuk menunaikan ajaran agama dan beribadah sesuai agamanya masing-masing.
c. Dasar Operasional
Yang dimaksud dengan dasar operasional adalah dasar yang secara langsung mengatur pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah di Indonesia seperti yang disebutkan Tap MPR No.IV/MPR/1973 yang kemudian dikokohkan kembali pada Tap MPR No.IV/MPR/1978 Jo Ketetapan MPR No.II/MPR/1983, Ketetapan MPR No.II/MPR/1988, dan ketetapan MPR No. II/MPR/1993 tentang GBHN yang pada pokoknya menyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimasukkan kedalam kurikulum disekolah-sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai dengan universitas-universitas negeri. Dalam Tap MPR No.IV/MPR/1999 disebutkan bahwa meningkatkan kualitas pendidikan agama melalui penyempurnaan sitem pendidikan agama sehingga lebih terpadu dan integral dengan sitem pendidikan nasional dengan didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai.
Kemudian dikuatkan lagi dengan Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS Bab X Pasal 37 ayat 1 dan 2 yang berbunyi sebagai berikut. (1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: (a) pendidakan agama; (b) pendidikan kewarganegaraan; (c) bahasa; (d) matematika; (e) Ilmu pengetahuan alam; (f) ilmu pengetahuan sosial; (g) seni dan budaya; (h) pendidikan jasmani, dan (i) ketrampilan/kejujuran dan muatan lokal. (2) Pendidikan tinggi wajib memuat: (a) pendidikan agama; (b) pendidikan kewarganegaraan, dan (c) bahasa.
Pendidikan agama merupakan usaha untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

2) Dasar Religius.
Yang dimaksud dengan dasar religius adalah dasar-dasar yang bersumber dari agama Islam yang tertera dalam ayat Al-Quran maupun Hadits Nabi menurut ajaran Islam, bahwa melaksanakan pendidikan agama adalah merupakan perintah dari Tuhan yang merupakan ibadah kepadanya.(Zuhairini, 2004: 4)
Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menunjukkan adanya perintah tersebut, antara lain berikut ini:
a) Dalam Surat An-Nahl ayat 125, yang berbunyi:
اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالحِْكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَة
Artinya: Ajaklah kepada Agama Tuhanmu dengan cara yang bijaksana dan dengan nasihat yang baik.(DEPAG RI1992: 421)

b) Dalam Surat Ali-Imron ayat 104, yang berbunyi:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ اُمَّةٌ يَدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ (ال عمران: ۱۰٤)
Artinya: Hendaknya ada diantara kamu segolongan ummat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh berbuat baik dan mencegah dari perbuatan mungkar(DEPAG RI1992: 93).


c) Dalam Surat At-Tahrim ayat 6 yang berbunyi:
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا(التحريم: ٦)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (DEPAG RI1992: 160)

Selain ayat-ayat tersebut , juga disebutkan dalam hadits antara lain sebagai berikut:
بَلِّغُوْا عَنِّى وَلَوْ ايَةً (رواه البخارى)
Artinya: Sampaikanlah ajaranku kepada orang lain walaupun hanya sedikit. (HR.Bukhari)(Mansyur Ali, 2002: 160)

كُلُ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يَهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ وْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه مسلم)
Artinya: Setiap anak yang dilahirkan itu telah membawa fitrah beragama (perasaan percaya kepada Allah) maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR.Baihaki)

3) Dasar dari Sosial Psikologis
Semua manusia didunia ini membutuhkan adanya suatu pegangan hidup yang disebut agama. Mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya dzat yang maha kuasa, tempat mereka berlindung dan tempat mereka meminta pertolongan. Hal semacam itu terjadi pada masyarakat primitif maupun pada masyarakat yang modern, dan sesuai dengan firman Allah dalam surat Ar-Ra’ad ayat 28, yang berbunyi. (Zuhairi, 2004; 12)
اَلاَ بِذِكْرِاللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبِ
Artinya: Ketahuilah, bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenteram (DEPAG RI 1992; 12)

Oleh karena itu, manusia akan selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sesuai dengan agama yang dianutnya. Itulah sebabnya, bagi orang-orang muslim diperlukan adanya pendidikan agama Islam agar dapat mengarahkan fitrah mereka kearah yang benar sehingga mereka dapat mengabdi dan beribadah sesuai dengan ajaran Islam. tanpa adanya pendidikan agama dari satu generasi ke generasi berikutnya, manusia akan semakin jauh dari agama yang benar. (Zuhairi, 2004; 13)
Selanjutnya untuk mengenai tujuan pendidikan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.(UUSPN No 20, 2003).
Dalam merumuskan tujuan-tujuan diatas, kiranya perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1. Harus memenuhi situasi masyarakat indonesia sekarang dan yang akan datang.
2. Memenuhi hakiki masyarakat.
3. Bersesuaian dengan Pancasila dan Undang-Undang 1945.
4. Menunjang tujuan yang secara hirarki berada diatasnya.
Dari uraian di atas dapatlah dilihat bahwa tujuan pendidikan agama Islam harus mendukung tujuan instusional dan tujuan pendidikan nasional. Pendidikan agama harus mengarahkan tujuannya untuk memenuhi tuntutan dari lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tersebut, dan secara umum harus memenuhi tujuan pendidikan nasional.(Mansyur, 1981; 34)
Singkatnya tujuan pendidikan agama Islam adalah mendidik anak-anak, pemuda pemudi dan orang dewasa supaya menjadi orang muslim sejati, beriman teguh, beramal soleh dan berakhlak mulia, sehingga ia menjadi salah seorang masyarakat yang sanggup hidup diatas kaki sendiri, mengabdi kepada Allah dan berbakti kepada bangsa dan tanah airnya bahkan sesama umat manusia.(Mahmud, 1983; 13)

Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi dari aspek-aspek rohani dan jasmaniah juga harus berlangsung secara bertahap. Oleh karena suatu kematangan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan atau pertumbuhan, baru dapat tercapai bilamana berlangsung memulai proses demi proses kearah tujuan akhir perkembangan atau pertumbuhannya.
Tidak ada satupun makhluk ciptaan Tuhan yang dapat mencapai kesempurnaan atau kematangan hidup tanpa berlangsung melalui proses.
Akan tetapi suatu proses yang diinginkan dalam usaha pendidikan adalah proses terarah dan bertujuan yaitu mengarahkan anak didik (Manusia) kepada titik optimal kemampuannya. Sedangkan tujuan yang hendak dicapai adalah terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh sebagai manusia individual dan sosial serta hamba Tuhan yang mengabdikan diri kepadanya.(Arifin, 1993: 11)
Secara umum pendidikan dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian, bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, didalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Oleh karena itu sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya.
Pendidikan dapat pula diartikan bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Oleh karena itu, pendidikan dipandang sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan pokok dalam membentuk generasi muda agar memiliki kepribadian yang utama.(Zuhairini, 2004: 1)
Berdasarkan pemikiran diatas, maka banyak pakar pendidikan memberi arti pendidikan sebagai suatu proses dan berlangsung seumur hidup. Karenanya pula pendidikan tidak hanya berlangsung didalam kelas, tetapi juga diluar kelas. Pendidikan tidak hanya terbatas pada usaha mengembangkan intelektualitas manusia saja, melainkan juga mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia untuk mencapai kehidupan yang sempurna.
Untuk memperjelas pengertian pendidikan berikut ini penulis kutip sebuah definisi menurut Brubacher yang menyatakan bahwa pendidikan adalah sebagai proses timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam menyesuaikan dirinya dengan alam, dengan teman dan dengan alam semesta. Pendidikan merupakan pula perkembangan yang terorganisir dan kelengkapan dari semua potensi manusia, moral, intelektual dan jasmani (Panca Indra) oleh dan untuk kepribadian individunya dan kegunaan masyarakatnya, yang diarahkan demi menghimpun semua aktifitas tersebut bagi tujuan hidupnya.
Dalam hubungan ini, dapat dipastikan bahwa pendidikan itu tidak hanya menumbuhkan melainkan mengembangkan kearah akhir. Juga tidak hanya suatu proses yang sedang berlangsung kearah sasarannya. Dalam pengertian analisis, pendidikan pada hakekatnya adalah membentuk kemanusiaan dalam citra Tuhan.
Bilamana definisi-definisi yang telah disebutkan dikaitkan dengan pengertian pendidikan Islam, akan kita ketahui bahwa, pendidikan Islam lebih menekankan pada keseimbangan dan keserasian perkembangan hidup manusia yaitu sebagai berikut:
a) Pendidikan Islam menurut Prof. Dr. Oemar Muhammad Al-Toumi Al-Syaebani, diartikan sebagai tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan alam sekitarnya melalui proses pendidikan dan perubahan itu dilandasi dengan nilai-nilai Islami.
b) Hasil rumusan seminar pendidikan Islam se-Indonesia 1960, memberikan pengertian pendidikan Islam yaitu sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.
c) Hasil rumusan kongres sedunia ke II, tentang pendidikan Islam melalui seminar tentang konsepsi dan kurikulum pendidikan Islam 1980 dinyatakan bahwa, pendidikan Islam ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan dari pribadi manusia secara menyeluruh melalui latihan-latihan kejiwaan, akal pikiran, kecerdasan, perasaan dan panca indra. Oleh karena itu pendidikan Islam harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik spiritual, intelektual, imajinasi (fantasi), jasmaniah, keilmiahannya, bahasanya baik secara individual maupun kelompok, serta mendorong aspek-aspek itu kearah kebaikan dan kearah pencapaian kesempurnaan hidup.(Arifin, 1993: 15)
Untuk tujuan itulah, manusia harus dididik melalui proses pendidikan Islam. Berdasarkan pandangan diatas, maka pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita Islam, karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya.
Pendidikan Islam dengan sendirinya adalah suatu sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah. Oleh karena mempedomani seluruh aspek kehidupan manusia muslim baik duniawi maupun ukhrowi.(Arifin, 1993: 11)

Pentingnya Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antar keluarga, sekolah, dan masyarakat, bahkan menjadi tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia. Karena dengan adanya pendidikan maka seseorang itu akan mempunyai pengetahuan tentang suatu wawasan pendidikan.
Dan awal pendidikan itu di mulai sejak anak usia dini atau sejak lahir karena pendidikan usia dini pada dasarnya berpusat pada kebutuhan anak, yaitu pendidikan yang berdasarkan pada minat, kebutuhan, dan kemampuan sang anak. Oleh karena itu, peran pendidik sangatlah penting. Dan pendidik harus mampu memfasilitasi aktivitas anak dengan material yang beragam.
Berdasarkan UUSPN ( Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional ) pengertian pendidikan anak usia dini adalah “suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. ( UUSPN, 2003 : 4 ).
Memang dengan demikian bahwa pendidikan anak itu merupakan modal terbesar yang dimiliki bangsa untuk mewujudkan cita - cita bangsa kelak. Berhasil atau tidaknya langkah yang sudah kita rintis ini sangat bergantung pada generasi penerus kita nanti.
Oleh karena itu kita seharusnya sedapat mungkin mengupayakan agar si penerus ini tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin, sehingga mereka kelak akan mampu mewujudkan apa yang diinginkan bangsa dengan tepat bahkan lebih dari apa yang kita harapkan, dan karena itulah anak sejak kecil sudah harus diberikan pendidikan ( Iwan, 2001 : 1 ).
Pengertian pendidikan anak usia dini menurut Hj. Maryam Halim, adalah “suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. ( Halim, 2005 : 123 ).
Kemudian berdasarkan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya pendidikan di mulai sejak anak usia dini yang terbagi ke dalam 4 tahapan yaitu”
1) Masa bayi usia 0 - 12 bulan.
2) Masa toddler ( balita ) usia 1 - 3 tahun.
3) Masa Pra Sekolah usia 3 - 4 tahun.
4) Masa kelas awal SD usia 6 - 8 tahun”. ( Sopenaryo, 2004 : 6 ).
Dan di Taman Kanak-kanak ( TK ) Dharma Wanita Persatuan Dungus, Cerme, Gresik, seorang guru di TK tersebut telah memberikan pembelajaran pendidikan agama Islam pada anak usia dini. Karena pendidikan agama Islam merupakan segala usaha yang berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak setelah pendidikannya dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya serta menjadikannya sebagai way of life ( jalan kehidupan ) sehari - hari, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial kemasyarakatan.
Memang pada dasarnya pendidikan agama Islam ditanamkan bagi anak-anak sejak usia kecil atau usia dini sampai ketika besar nanti agar anak tersebut dapat mengetahui tentang ajaran - ajaran Islam.
Karena itulah di tengah zaman globalisasi ini di mana informasi - informasi negatif dari barat yang mempengaruhi anak - anak yang hendak menjauhkan kita dari Islam tiada henti-hentinya membanjiri anak - anak TK, karena itu untuk mengajak generasi Islami anak usia dini diarahkan anak - anak kita menjadi generasi yang sholeh yang akan mengembalikan kejayaan Islam dan yang akan menolong kedua orang tuanya ketika sudah meninggal dunia.
Sebagaimana disabdakan oleh Rasullulah SAW yang berbunyi:
وَعَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ (رواه مسلم)
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah s.aw. bersabda:“Apabila anak Adam (manusia) itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga perkara yaitu: Shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang sholeh yang mendo’akannya”. ( HR.Muslim ) dalam ( Shabir, 1992 : 281).

Atas dasar inilah Taman Kanak - Kanak Dharma Wanita Persatuan Dungus, Cerme, Gresik dikembangkan dengan maksud untuk merebut fitrah anak sebelum dikotori oleh informasi-informasi negatif dari barat yang hendak menjauhkannya dari Islam. Sebab informasi - informasi dari barat itu dapat sedikit demi sedikit mempengaruhi anak usia dini khususnya di TK, sebagai contoh film - film dari budaya barat yang tidak pantas dilihat anak kecil, memang pada kenyataannya memang banyaknya film - film dari barat yang terdapat di televisi di zaman sekarang ini. Karena itulah sebagai orang tua dapat memberikan bimbingan dan mendampinginnya bagi anak - anaknya ketika menonton televisi dan bagi guru dapat memberikan pembelajaran pendidikan agama Islam pada anak usia dini dengan ajaran - ajaran yang bernuansa Islami agar anak usia dini dapat mengetahui ajaran Islam secara baik dan benar.

Pengertian Motivasi

Setiap individu memiliki kondisi internal, dimana kondisi internal tersebut turut berperang dalam aktifitas dirinya sehari-hari. Salah satu dari kondisi internal tersebut adalah "Motivasi" terlebih dahulu penulis mengemukakan tentang pengertian motivasi.
a. Menurut Mc. Donald: Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "Feeling" dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. (Sardiman, 2010: 73)

b. Menurut Eysenck: Motivasi dirumuskan sebagai suatu proses yang menentukan tingkatan kegiatan, intensitas konsistensi, serta arah umum dari tingkah laku manusia. (Slameto, 2010: 170)
c. Menurut Gleitmen: Motivasi adalah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorong untuk berbuat sesuatu yakni pemasuk daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah. (Syah, 2005: 151)
d. Menurut Koeswara: Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan prilaku manusia, termasuk prilaku pelajar, yang mana terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan prilaku individu belajar ( Dimyati dan Mujiyono, 2006: 80)
e. Menurut Thomas: Motivasi adalah usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri murid yang menunjang kegiatan kearah tujuan-tujuan belajar. ( Daradjat, 2004: 140)
f. Menurut S. Nasution: Motivasi adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga seorang anak mau melakukan apa yang dapat dilakukan. ( Daradjat, 2004: 140)
g. Menurut Ivar K Davies: Motivasi adalah kekuatan tersembunyi didalam diri kita, yang mendorong kita berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas. (Davies, 2004: 142)
h. Menurut Woodwarth dan Margues: Motivasi adalah suatu tujuan jiwa yang mendorong individu untuk aktivitas-aktivitas tertentu, untuk tujuan-tujuan terhadap situasi sekitarnya. (Mustaqim, 2003: 72)
Dari beberapa pendapat diatas dapat diambil suatu pemahaman bahwa motivasi adalah kekuatan yang ada pada diri yang dapat mendorong individu-individu untuk bertindak guna mencapai tujuan-tujuan tertentu.


Makalah Manusia Sebagai Makhluk Pendidikan

A. PENDAHULUAN
Manusia sebagai makhluk Tuhan adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial, susila dan religi. Sifat kodrati manusia sebagai makhluk pribadi, sosial, susila dan religi harus dikembangkan secara seimbang, selaras dan serasi. Perlu disadari, bahwa manusia hanya mempunyai arti hidup secara layak jika ada diantara manusia lainnya. Tanpa ada manusia lain atau tanpa hidup bermasyarakat, seseorang tidak dapat menyelenggarakan hidupnya dengan baik.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn1

Untuk meningkatkan kualitas hidup, manusia memerlukan pendidikan, baik pendidikan yang formal, informal maupun nonformal. Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. "Hewan" juga belajar, tetapi lebih ditentukan oleh instinknya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga, mereka akan mendidik anak-anaknya. Begitu juga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan dosen.
Salah satu permasalahan yang tidak sepi dari perbincangan umat adalah masalah pendidikan. Dalam al-Qur'an sendiri telah memberi isyarat bahwa permasalahan pendidikan sangat penting. Jika Al-Qur'an dikaji lebih mendalam, maka kita akan menemukan beberapa prinsip dasar pendidikan, yang selanjutnya bisa kita jadikan inspirasi untuk dikembangkan dalam rangka membangun pendidikan yang bermutu.
Berdasarkan hal di atas, maka dalam makalah ini penulis akan mem-bahas konsepsi Al-Qur'an tentang "Manusia Sebagai Makhluk Pendidikan".
B. PEMBAHASAN
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur". (QS An-Nahl 16: 78)
Tafsir ayat ini menurut Salim Bahreisy dan Said Bahreisy adalah bahwa Allah SWT menyebut nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang telah mengeluarkan mereka dari perut ibu-ibu mereka dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu. Kemudian kepada mereka diberikan indera pendengaran untuk menagkap suara-suara, indera penglihatan untuk melihat benda-benda yang dapat dilihat dan hati (akal) dengan perantaraannya mereka dapat membedakan hal-hal yang baik dan buruk, yang bermanfaat atau yang bermudharat. Indera-indera ini diberikan kepada manusia secara bertahap, makin tumbuh jasmaninya makin kuatlah penangkapan indera-indera itu hingga mencapai puncaknya. Adapun tujuan Allah memberikan sarana penglihatan, pendengaran dan pemikiran kepada manusia itu adalah agar memudahkan manusia melakukan ibadah dan taat kepada-Nya.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn2
Adapun fungsi diberikannya pen-dengaran, penglihatan dan hati itu adalah sebagai alat untuk menghasilkan ilmu kema'rifatan kepada Allah SWT. Pendengaran berfungsi untuk men-dengarkan mauidhah (nasehat tentang agama), penglihatan berfungsi untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan hati berfungsi untuk memikirkan atau mengingat tentang keagungan Allah SWT.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn3
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa manusia di lahirkan ke dunia ini pertama kalinya tidak mengetahui apa-apa. Teori behaviorisme dalam psikologi beranggapan bahwa manusia bukan baik dan bukan juga jahat semenjak lahir. Dia adalah tabula rasa, putih seperti kertas. Lingkunganlah yang memegang peranan membentuk pribadinya.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn4
Islam mengakui pengaruh lingkungan atas perkem-bangan fithrah manusia, seperti dalam sebuah hadits Nabi yang berbunyi:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya: "Setiap anak yang dilahirkan ke dunia itu dalam keadaan suci. Hanya kedua orang tuanyalah yang membuat anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi". (HR. Muslim)http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn5
Walaupun Islam mengakui pengaruh lingkungan terhadap perkembangan fithrah manusia, akan tetapi ini tidak bermakna bahwa manusia itu menjadi hamba kepada lingkungan, seperti pendapat ahli-ahli behaviorisme. Lingkungan memang memegang peranan penting dalam pembentukan tingkah laku seseorang, tetapi Al-Qur'an tidak menganggap satu-satunya faktor. Isteri Fir'aun dahulu kala adalah seorang yang beriman kepada Allah, walaupun dia hidup dalam lingkungan yang penuh dengan korupsi dan penyelewengan.
Kemudian Allah SWT memberikan potensi kepada manusia berupa pendengaran, penglihatan dan hati (akal). Dengan potensi ini diharapkan manusia dapat mendengar, melihat dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
Taqiyuddin M. menyebut potensi manusia ini berupa seperangkat instrument dan content pendidikan yaitu akal pikiran (al-'aql), hati nurani (nur al-qalb) dan panca indera. Melalui seperangkat instrument dan content pendidikan itulah sehingga begitu manusia lahir di atas bumi ini ia telah siap menerima ajaran dari alam (macro cosmos) atau dari manusia lain (micro cosmos) yang telah lebih dulu ada.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn6
Berkaitan dengan hal di atas, Longevel seperti yang dikutip Taqiyuddin M. mengklasifikasikan manusia ke dalam tiga golongan, yaitu: Pertama, educable animal yaitu makhluk yang dapat dididik. Kedua, animal educandum yaitu makhluk yang harus dididik. Ketiga homo education yaitu makhluk Allah yang dapat menerima dan sekaligus memberikan materi pendidikan.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn7
Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa dalam dunia pendidikan, manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan kelebihannya manusia ada yang bisa diajar, dibimbing, dibina dan dilatih sehingga perilaku sosialnya menjadi baik. Inilah yang dimaksud bahwa fungsi pendidikan adalah mengarahkan perkembangan manusia ke arah yang lebih baik. Dan dengan kelemahannya manusia tidak henti-hentinya berfikir, bertindak, belajar dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya demi tercapainya tujuan yang dikehendakinya.
2. QS Al-Mu'minun 23: 78
"Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur".
Menurut Sayyid Quthb bahwa apabila manusia merenungkan penciptaannya dan bentuk tubuhnya, panca indera dan anggota-anggota tubuhnya, dan kekuatan serta pengetahuannya, maka dia pasti mengakui bahwa Allah adalah Maha Pencipta. Karena tidak ada seorang pun selain Allah yang mampu menciptakan alam semesta yang sangat mengagumkan ini, baik yang kecil maupun yang besar.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn8
Yang dimaksud dengan bersyukur di ayat ini ialah menggunakan alat-alat tersebut untuk memperhatikan bukti-bukti kebesaran dan keesaan Tuhan, yang dapat membawa mereka beriman kepada Allah s.w.t. serta taat dan patuh kepada-Nya. Kaum musyrikin memang tidak berbuat demikian.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn9
Ayat ini juga menjelaskan tentang potensi yang diberikan Allah SWT kepada manusia berupa pendengaran, penglihatan dan hati (akal) supaya dijadikan alat untuk memperhatikan bukti-bukti kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.
Untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki, maka manusia perlu pendidikan. Pendidikan mutlak harus ada pada manusia, karena pendidikan merupakan hakikat hidup dan kehidupan. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk Allah yang dibekali dengan berbagai kelebihan, di antaranya kemampuan berfikir, kemampuan berperasaan kemampuan mencari kebenaran dan kemampuan lainnya. Kemampuan-kemampuan tersebut tidak akan berkembang apabila manusia tidak mendapatkan pendidikan.
Allah SWT dengan jelas memerintahkan kita untuk "Iqra'" dalam surat Al-Alaq yang merupakan kalamullah pertama pada Rasulullah SAW. Iqra' di sini tidak bisa diartikan secara sempit sebagai bacalah, tetapi dalam arti luas agar manusia menggunakan dan mengembangkan kemampuan-kemampuan yang telah Allah SWT berikan sebagai khalifah fil ardl. Sehingga pendidikan merupakan sarana untuk melaksanakan dan perwujudan tugas manusia sebagai utusan Allah di muka bumi ini.
3. QS An-Nahl 16: 43
"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui".
Diriwayatkan oleh Adh-Dhahhak bahwa Ibnu Abbas bercerita mengenai ayat ini, bahwa tatkala Allah mengutus Muhammad sebagai Rasul, banyak diantara orang-orang Arab yang tidak mau menerima kenyataan itu dan beranggapan bahwa lebih agung untuk mengutus seorang manusia sebagai Rasul-Nya.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn10
Dalam terjemah singkat tafsir Ibnu Katsir lafadz ditafsirkan orang-orang yang mengetahui, yaitu ahli-ahli kitab.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn11 Sementara dalam tafsir Jalalain lafadz ditafsirkan orang yang mempunyai pengetahuan, yakni para ulama yang ahli dalam kitab Taurat dan kitab Injil.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn12
Ayat ini menjelaskan kepada kita tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan kewajiban kita selaku umat Muslim, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang artinya: "Mencari ilmu itu wajib bagi muslim dan muslimat dari kandungan sampai liang lahat" (HR. Baihaqi)http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn13
4. QS Al-Kahfi 18: 66
"Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
Dalam Tafsir Al-Misbah kata "attabi'uka" ( ) asalnya adalah "atba'uka" dari kata "tabi'a", yakni mengikuti. Penambahan huruf "ta'" pada kata "attabi'uka" mengadung makna kesungguhan dalam upaya mengikuti itu. Ucapan Nabi Musa as, berikutnya sungguh sangat halus. Beliau tidak menuntut untuk diajar tetapi permintaannya diajukan dalam bentuk pertanyaan, "Bolehkan aku mengikutimu?" kemudian beliau menamai pengajaran yang diharapkannya itu sebagai ikutan, yakni beliau menjadikan diri beliau sebagai pengikut dan pelajar. Di sisi lain, beliau mengisyaratkan keluasan ilmu hamba yang shaleh itu (al-khidhr) sehingga Nabi Musa as. Hanya mengharap kiranya dia mengajarkan sebagian dari apa yang telah diajarkan kepadanya. Dalam konteks itu, Nabi Musa as. tidak menyatakan "apa yang engkau ketahui wahai hamba Allah", Karena beliau sepenuhnya sadar bahwa ilmu pastilah bersumber dari satu sumber, yakni dari Alla Yang Maha Mengetahui.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn14
Pelajaran yang dapat kita ambil dari ayat ini adalah bahwa kita dalam menuntut ilmu itu harus bertekad untuk bersungguh-sungguh mencurahkan perhatian bahkan tenaganya terhadap apa yang akan kita pelajari. Pepatah mengatakan: "Man jadda wajadda" (barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu, maka pasti akan berhasil).
5. QS At-Tahrim 66: 6
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan".
Menurut Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilal Qur'an menafsirkan ayat ini bahwa: "Manusia di dalam neraka itu sama persis dengan batu dalam nilai batu yang murah dan rendah, dan dalam kondisi batu yang terabaikan tanpa penghargaan dan perhatian sama sekali. Alangkah sadis dan panasnya api neraka yang dinyalakan bersama batu-batu. Setiap yang ada di dalamnya dan setiap yang berhubungan dengannya sangat seram dan menakutkan. Tabiat para malaikat itu sesuai dengan tabiat azab yang diperintahkan dan diserahkan kepada mereka untuk menimpakannya. Diantara karakter malaikat itu adalah ketaatan mutlak terhadap perintah Allah atas mereka dan mampu melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka oleh Allah".http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn15
Ayat ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa kita harus menjaga diri kita dan keluarga dari siksa api neraka. Ayat ini juga mengisyaratkan tentang pentingnya pendidikan dalam keluarga. Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama.
Adapun bidang pendidikan yang diperankan oleh keluarga menurut Hasan Langgulung ada tujuh bidang pendidikan, yaitu: pendidikan jasmani, kesehatan, akal (intelektual), keindahan, emosi dan psikologi, agama dan spiritual, akhlak, sosial dan politik.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn16
Orang tua dalam keluarga harus sejak dini memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya. Rasulullah saw bersabda:
مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلاَ ةِ اِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ وَاِذَا بَلَغَ عَشْرَ
سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا
Artinya: "Perintahkanlah anak melakukan shalat, apabila telah mencapai usia tujuh tahun. Kalau sudah berumur sepuluh tahun, sedang anak itu tidak melaksanakan perintah, maka pukullah dia".(HR. Muslim)
Mengapa orang tua dituntut untuk memerintahkan anak yang masih kecil untuk melakukan shalat? Maksudnya, agar anak itu terbiasa, sehingga kelak sudah baligh, shalat itu menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.
6. QS At-Taubat 9: 122
"Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya".
Dalam terjemah singkat tafsir Ibnu Katsirhttp://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn17 ada tiga sahabat yang menafsirkan ayat ini, yaitu:
Pertama, Berkata Ibnu Abbas: "Tidak sepatutnya orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang dan meninggalkan Rasulullah SAW seorang diri".
Kedua, Berkata Qatadah: "Jika Rasulullah Saw mengirim pasukan, maka hendaklah sebagian pergi ke medan perang, sedang sebagian lain tinggal bersama Rasulullah saw. untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, kemudian dengan pengetahuan yang mereka peroleh itu, hendaklah mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan kepada mereka".
Ketiga, Berkata Adh-Dhahhak: "Jika Rasulullah saw. mengajak berjihad (perang total) maka tidak boleh tinggal dibelakang kecuali mereka yang beruzur. Akan tetapi jika Rasulullah saw. menyerukan sebuah "sariyyah" (perang terbatas), maka hendaklah segolongan pergi ke medan perang dan segolongan tinggal bersama Rasulullah saw memperdalam pengetahuannya tentang agama, untuk diajarkan kepada kaumnya bila kembali".
Ayat ini mengingatkan orang tua dalam keluarga agar mementingkan pendidikan agama bagi anak-anaknya. Orang tua boleh kemana saja menyekolahkan anak-anaknya (mencari ilmu umum) tapi jangan lupa dibekali ilmu dan pengalaman agama. Orang tua hendaknya menjadikan anak-anaknya sebagai orang intelek yang ulama atau ulama yang intelek. Hal ini akan tercapai apabila mempunyai kedua ilmu tersebut, yakni ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama. Nabi pernah bersabda:
مَنْ اَرََادَ الدَّ نْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ اَرََادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ
اَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Artinya: "Barangsiapa menghendaki hidup (kebaikan) di dunia maka kepadanya dengan ilmu dan barangsiapa menghendaki kehidupan (baik) di akherat maka dengan ilmu dan barangsiap menghendaki keduanya maka juga dengan ilmu" (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Miftahurrobbani, bahwa salah satu pokok kelemahan umat Islam adalah kebodohan putra-putri umat Islam akan agamanya.http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftn18
Hal ini dapat kita pahami, karena orang tua kadang-kadang kurang menyadari keseimbangan pendidikan terhadap anak-anaknya. Orang tua mendidik anak agar dapat membaca Koran, tetapi lupa untuk mendidik anak membaca Al-Qur'an. Orang tua mengajar anak agar dapat menghormati sesama teman, tetapi lupa mengajar anak agar dapat menghormati Tuhan. Pendek kata, orang tua menyekolahkan anaknya agar pandai dalam pengetahuan umum, tetapi lupa menyekolahkan anaknya agar pandai dalam pengetahuan agama.
C. PENUTUP
Manusia dilahirkan ke dunia ini tidak mengetahui apa-apa (QS. An-Nahl 16: 78). Kemudian Allah SWT memberikan potensi berupa pendengaran, penglihatan dan hati (akal). (QS. An-Nahl 16: 78 dan QS. Al-Mu'minun 23: 78). Dengan potensi ini diharapkan manusia dapat menggunakannya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Menuntut ilmu merupakan kewajiban manusia sejak lahir sampai masuk ke liang lahat. Dalam menuntut ilmu diharapkan dilakukan dengan sungguh-sungguh mencurahkan segala perhatian dan tenaganya terhadap apa yang akan dipelajarinya, supaya apa yang diinginkannya tercapai. (QS. Al-Kahfi 18: 66).
Pendidikan mutlak harus ada pada manusia, karena pendidikan merupakan hakikat hidup dan kehidupan. Pendidikan berguna untuk membina kepribadian manusia. Dengan pendidikan, maka terbentuklah pribadi yang baik sehingga di dalam pergaulan dengan manusia lain, individu dapat hidup dengan tenang. Pendidikan membantu agar tiap individu mampu menjadi anggota kesatuan sosial mansuia tanpa kehilangan pribadinya masing-masing.
Pada hakikatnya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama, yakni keluarga, masyarakat dan sekolah/lembaga pendidikan. Keluarga sebagai lembaga pertama dan utama pendidikan, masyarakat sebagai tempat berkembangnya pendidikan dan sekolah sebagai lembaga formal dalam pendidikan. Pendidikan keluarga sebagai peletak dasar pembentukan kepribadian anak. (QS. At-Tahrim 66: 6)
Antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum itu harus seimbang, karena pengetahuan agama tanpa pengetahuan umum bagaikan orang sehat yang pincang. Begitupun sebaliknya pengetahuan umum tanpa pengetahuan agama bagaikan orang sehat yang buta. Namun pengetahuan yang harus diutamakan adalah pengetahuan agama, karena fungsi pengetahuan agama itu untuk kehidupan dunia dan akherat. (QS. At-Taubat 9: 122)
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama, Al-Qur'an dan Terjemahnya (Jakarta: Pustaka Agung Harapan, 2006)
_____, Tafsir Al-Qur'an (Jakarta: 2005)
Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan (Jakarta: Al-Husna Zikra, 1986)
Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain Jilid 1 dan 2 (Bandung: Sinara Baru Algensindo, 2008)
Miftahurrobbani, Himpunan Khutbah Setahun (Jakarta: Rineka Cipta, 1994)
Muhammad Faiz Al Math, 1100 Hadits Terpilih (Jakarta: Gema Insani, 1999)
M. Quraish Shihab, Tafsir Al- Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati, 2002)
Muhtadim, BA., Mutiara Hadits Shahih Muslim (Surabaya: Putra Pelajar, 2004)
Muslich Shabir, Tarjamah Riyadlus Shalihin (Semarang: Toha Putra, 1989)
Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid IV (Surabaya: Bina Ilmu, 1988)
Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilal Qur'an (Jakarta: Gema Insani, 2004)
Taqiyuddin M., Pendidikan Untuk Semua: Dasar dan Falsafah Pendidikan Luar Sekolah (Cirebon: Dimensi Production, 2005)
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref1Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, 1986, Al-Husna Zikra, Jakarta.
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref2H. Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy, Termejah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid IV, Bina Ilmu, Surabaya.
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref3M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an, 2002, Lentera Hati, Jakarta.
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref4Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, 1986, Al-Husna Zikra, Jakarta
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref5Muhammad Faiz Al Math, 1100 Hadits Terpilih, 1999, Gema Insani Press, Jakarta.
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref6Taqiyudin M., Pendidikan Untuk Semua (Dasar dan Falsafah Pendidikan Luar Sekolah), 2005, Dimensi Production, Cirebon. hal .3
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref7Ibid
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref8Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilal Qur'an, 2004, Gema Insani, Jakarta.
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref9Lihat Departemen Agama, Tafsir Al-Qur'an, 2005, Jakarta.
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref10H. Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy, Termejah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid IV, Bina Ilmu, Surabaya
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref11Ibid.
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref12Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain, 2009, Sinar Baru Algensindo, Bandung.
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref13Muslich Shabir, Tarjamah Riyadlus Shalihin, 1989, Toha Putra, Semarang.
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref14M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an, 2002, Lentera Hati, Jakarta.
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref15Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilal Qur'an, 2004, Gema Insani, Jakarta.
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref16Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, 1986, Al-Husna Zikra, Jakarta
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref17H. Salim Bahreisy dan H. Said Bahreisy, Termejah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid IV, Bina Ilmu, Surabaya.
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1136505814897588860 - _ftnref18Miftahurrobbani, Himpunan Khutbah Setahun, 1994, Rineka Cipta, Jakarta.

Klasifikasi dan Jenis-Jenis Kemiskinan

Adapun kemiskinan, berdasarkan kategorinya bias dibedakan menurut dan penyebabnya.
1.Menurut jenisnya.
Dalam hal ini kemiskinan dibedakan menjadi:
a.Kemiskinan absolut/mutlak
Adalah keadaan yang mana pendapatan kasar bulanan tidak mencukupi untuk membeli keperluan minimum sebuah isi rumah yang diukur berdasarkan tahap perbelanjaan minimum.1

b.Kemiskinan relative
Adalah kemiskinan yang dilihat berdasarkan perbandingan antara sesuatu tingkat pendapatan lainnya. Contohnya, seseorang yang tergolong kaya (mampu) pada masyarakat desa tertentu bias jadi termiskin pada masyarakat desa yang lain.2
2.Menurut penyebabnya
Dilihat dari segi penyebabnya kemiskinan dapat dibagi menjadi
a.Kemiskinan structural
Kemiskinan struktural ini adalah suatu kondisi di mana sekelompok orang berada di dalam wilayah kemiskinan, dan tidak ada peluang bagi mereka untuk keluar dari kemiskinan, bahkan juga anak-anaknya. Mereka terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan, dan bisa dikatakan mengalami “kemiskinan abadi“. Jika seorang pemulung punya anak, dan dia tidak memiliki biaya untuk memberikan gizi yang cukup, maka akan berdampak kepada kecerdasan sang anak, lalu juga tidak punya biaya menyekolahkan anaknya, maka seakan-akan keluar dari wilayah kemiskinan hanyalah sebuah angan-angan. 3
Apa yang bisa membawa orang keluar dari kemiskinan struktural ? Paling tidak secara teoritis ada 2 (dua) hal, yaitu (1) gizi yang baik semasa balita, serta (2) pendidikan yang memadai. Dengan dua hal tersebut, kemiskinan struktural bisa diatasi perlahan-lahan. Dengan demikian, program nasional atau gerakan masyarakat pemberian gizi tambahan untuk balita miskin juga salah satu upaya penting dalam menanggulangi kemiskinan struktural ini. Demikian juga dengan penyediaan sekolah yang gratis untuk masyarakat miskin. Program anak asuh yang menjadi inisiatif masyarakat beberapa tahun yang lalu juga merupakan upaya untuk mengatasi kemiskinan struktural. 4
b.Kemiskinan kultural
Disebut kemiskinan kultural, adalah budaya yang membuat orang miskin, yang dalam antropologi disebut Koentjaraningrat dengan mentalitas atau kebudayan kemiskinan sebagai adanya budaya miskin. Seperti, masyarakat yang pasrah dengan keadaannya dan menganggap bahwa mereka miskin karena turunan, atau karena dulu orang tuanya atau nenek moyangnya juga miskin, sehingga usahanya untuk maju menjadi kurang.5

Devinisi Kemiskinan

Kemiskinan bukanlah, sebuah kata yang asing bagi telinga kita, yang banyak dijadikan objek pembahasan dalam dialog dalam tingkat nasional maupun internasional, bahkan kemiskinan itu masih banyak dirasakan oleh masyarakat kelas bawah di Negara kita, Indonesia.
Kemiskinan terus menjadi fenomena dalam sepanjang sejarah Indonesia sebagai nation state, sejarah sebuah Negara yang salah memandang dan mengurus kemiskinan. Dalam Negara yang salah urus, tidak ada permasalahan yang lebih besar selain persoalan kemiskinan.

Kemiskinan telah membuat jutaan anak-anak tidak bias mengenyam pendidikan yang berkualitas, kesulitan membiayai kesehatan, kurangnya tabungan, dan tidak adanya investasi, kurangnya akses kepelayanan public, kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya jaminan social dan perlindungan terhadap keluarga, menguatnya arus urbanisasi ke kota, dan yang lebih parah, kemiskinan menyebabkan jutaan rakyatmemenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan secara terbatas. Kemiskinan menyebabkan masyarakat desa rela mengorbankan apa saja demi keselamatan hidup, safety life.1
Dalam penelitian ini bahasan dan batasan mengenai kemiskinan tidak menyangkut segi immaterial, tetapi lebih pada batasan kemiskinan dalam harta benda material dan kekayaan lahiriyah lainnya yang bias dihitung dengan kasat mata.
Pembatasan dimaksudkan untuk lebih memudahkan kita dalam membahas dan menyikapi berbagai definisi dan permasalahan kemiskinan yang ada.
Dalam pnelitian ini, juga tidak bermaksud untuk menafikan kekayaan ataupun kemiskinan dalam arti yang lain, semisal, miskin agama, miskin moral, dan miskin hati dan lain-lain. Tetapi hanya bertujuan untuk lebih focus dalam pembahasan.
Pada dasarnya seseorang akan dikatan miskin atau menjadi miskin apabila orang tersbut tidak memiliki daya beli untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.2
Tokoh pembaharu Islam, Imam Al-Ghozali juga mengatakan bahwa yang dikatakan miskin adalah orang yang bekerja namun penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya.3
BAPPENAS mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau kelompok orang, baik laki-laki maupun perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermasyarakat.4
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan , pakaian , tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup . Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif.5
Menurut John Friedman kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial, meliputi modal yang produjtif, sumber keuangan, organisasi sosial dan politik (Kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan aspek sosial saja, tapi juga aspek natural material).6
Menurut Wolf Scott Kemiskinan pada umumnya didefinisikan dari segi pendapatan (Dalam jumlah uang) ditambah dengan keuntungan non-material yang diterima seseorang, cukup tidaknya memiliki aset seperti tanah, rumah, uang,emas dan lain-lain dimana kemiskinan non-material yang meliputi kekebebasan hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak.7
Menurut Bank Dunia bahwa aspek kemiskinan yaitu pendapatan yang rendah, kekurangan gizi atau keadaan kesehatan yang buruk serta pendidikan yang rendah.8
Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekumpulan orang dalam keadaan yang selalu kurangan dalam hal ekonomi, yang berarti defisit atau pendapatan yang ada tidak mencukupi untuk mmenuhi kebutuhan pokok9
Ekonom Amartya Sen juga mengenalkan makna kemiskinan secara lebih luas, yakni ketidakmampuan manusia, yang ditandai pendidikan rendah, tak berpengetahuan, tak berketerampilan, tak berdayaan. Bahkan, Sen menyentuh dimensi politik: ketiadaan kebebasan dan keterbatasan ruang partisipasi, yang menghalangi warga untuk terlibat proses pengambilan kebijakan publik. Dalam situasi demikian, masyarakat ada dalam posisi tidak setara untuk mendapatkan akses ke sumber-sumber ekonomi produktif sehingga terhalang untuk memperoleh sesuatu yang menjadi hak mereka10
Dengan definisi-definisi di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kemiskinan adalahketidak mampuan sesdorang untuk memenuhi standar minimum kebutuhan pokok untuk dapat hidup dengan layak.

Pendidikan VS Pengangguran

Pendidikan adalah media mencerdaskan kehidupan bangsa dan membawa bangsa ini pada era aufklaring (pencerahan). Pendidikan bertujuan untuk membangun tatanan bangsa yang berbalut dengan nilai-nilai kepintaran, kepekaan dan kepedulian terhadap hudup berbangsa dan bernegara. Pendidikan merupakan tonggak kuat untuk mengentaskan kemiskinan pengetahuan, menyelesaikan persoalan kebodohan dan menuntaskan segala permasalahan bangsa yang selama ini terjadi. Peran pendidikan jelas merupakan hal yang signifikan dan sentral karena pendidikan memberikan pembukaan dan perluasan sehingga bangsa ini benar-benar melek terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendidikan dihadirkan untuk mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang beradab dan berbudaya. Pendidikan dilahirkan untuk memperbaiki segala kebobrokan yang sudah menggumpal di segala sendi kehidupan bangsa ini.1
Menurut Romo Mangun Wijaya, pendidikan adalah proses awal usaha untuk menumbuhkan kesadaran sosial pada setiap manusia sebagai pelaku sejarah. Kesadaran sosial hanya akan bisa tercapai apabila seseorang telah berhasil membaca realitas perantaraan dunia di sekitar mereka. Maka perlu adanya perangkat analisis yang bersumber dari kebebasan berfikir dari masing-masing individu, yang pada akhirnya memberi nalar yang kritis terhadap perkembangan sosial yang ada. 2
Sementara itu, menurut Mukhtar dan Iskandar, pendidikan harus bertujuan membentuk kepribadian seimbang di kalangan peserta didik melalui latihan rohani (spiritual), intelektual, emosional dan jasmani dengan menunjukkan peserta didik itu kepada berbagai pengalaman pada aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan.3 Demikian juga yang dijelaskan oleh Tim Prima Pena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahwa pendidikan adalah proses perubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. 4
Pendidikan harus benar-benar bisa menjadi agent of change yang lebih mengarah pada pencapaian aspek afektif dan psikomotorik, jadi fungsi pendidikan bukan hanya bersifat menjadi transfer of knowledge yang lebih bersifat pada pencapaian ranah kognitif belaka. Demikian juga pendidikan juga pendidikan mempunyai peranan penting untuk menjadi mesin penggerak paradigma berfikir masyarakat kearah yang lebih maju dan progresif. Hal ini senada dengan apa yang telah dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara dalam moh yamin:
"Konsep pendidikan harus berdasar pada kemerdekaan manusia. Manusia merdeka adalah manusia kolektif. Manusia yang selalu sadar bahwa dirinya adalah anggota masyarakat yang harus melakukan kewajiban-kewajiban yang diletakkan masyarakat kepadanya. 5

Sementara menurut Ary H. Gunawan, pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi, yaitu sosialisasi nilai, pengetahuan, sikap dan keterampilan.6 Oleh karenanya, pendidikan senyatanya harus mampu menjawab persoalan-persoalan yang ada di tengah masyarakat. Melakukan analisis kritis dalam pendidikan merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakoni dengan masyarakat serupa. Pendidikan bukan hanya mencetak masyarakat yang cerdas secara intelektual, namun juga mampu melaksanakan segala keluh kesah yang berada disekitarnya. Termasuk di dalamnya tentang persoalan pengangguran dan kemiskinan.
Berbicara masalah pengangguran, dalam suaramerdeka.com tertulis:

"Angka pengangguran terdidik, terutama sarjana makin meningkat tajam. Para sarjana merupakan pengangguran potensial, namun perlu investasi besar untuk menciptakan lapangan kerja bagi mereka. Nyaris tak ada lowongan kerja level menengah yang tak dibanjiri sarjana. Kondisi ini memprihatinkan. Sementara krisis keuangan global makin membuat para sarjana kesulitan kesempatan kerja.Data Departemen Tenaga Kerja dan Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan, perguruan tinggi (PT) di Indonesia tahun ini menciptakan 900.000 sarjana menganggur. Tiap tahun rata-rata 20% lulusan perguruan tinggi menjadi pengangguran".7


Tentu sangat memperihatinkan jika kondisi tersebut terus berlanjut untuk masa yang akan dating, mengingat ada ribuan bahkan jutaan orang yang merupakan out put pendidikan dari seluruh jenjang pendidikan yang ada di Indonesia saat ini sedangkan daya serap lapangan kerja di Indonesia sendiri masih terbatas.

Pengangguran yang mempunyai makna seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya.8 Bukan lagi menjadi pe-er pemerintah belaka, akan tetapi merupakan masalah bersama (terutama individu tersebut) yang perlu di carikan jalan keluar yang efektif untuk menanggulanginya. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah SWT:
إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُمَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُمَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaumsehingga (kaum)itu merubah dengan sendiri. Arra'd11
Di dalam situs www.unisosdem.org Erman Suparno menulis bahwa penyebab munculnya pengangguran antara lain karena jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja. Juga kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan pasar yang ada. Selain itu, kurang efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja ikut mendukung meningkatnya jumlah pengangguran.
Erman juga menambahkan, fenomena pengangguran juga berkaitan erat dengan dengan terjadinya pemutusan hubungan kerja, yang disebabkan antara lain: perusahaan yang menutup/mengurangi bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan yang kurang kondusif, peraturan yang menghambat investasi; hambatan dalam proses ekspor-impor, dan sebagainya. 9
Dalam suatu Negara, untuk mensejahterakan serta memakmurkan rakyat, tentu ada beberapa aspek yang harus diberi perhatian lebih, yaitu tentang pendidikan dan ekonomi kerakyatan. Terlebih lagi tentang pendidikan, seiring bertambahnya populasi manusia, semakin banyak pula out put pendidikan. Dengan demikian, tingkat kebutuhan yang menyangkut hajat hidup orang banyak semakin banyak pula yang harus tersedia dan terpenuhi, semisal sandang, pangan, papan dan pendidikan.
Hidup dalam zaman yang serba modern ini, umumnya tidak ada cara lain untuk memnuhi kebutuhan tersebut kecuali dengan bekerja dan memperoleh uang yang selanjutnya digunakan untuk mendapatkan kebutuhan tersebut. Namun akar permasalahannya terletak pada kemampuan daya serap lapangan kerja terhadap seluruh out put pendidikan. Sebagaimana yang ditulis dalam situs www.franchise-gsc.com:
1.Minat PNS tinggi sekali, tetapi peluangnya sedikit. Dari ratusan ribu jumlah pelamar paling tinggi hanya 20% yang diterima. 80%-nya kemana?
2.Satu lowongan kerja diperebutkan 200 pelamar.
3.Sebuah Televisi Swasta Nasional membuka lowongan pekerjaan disebuah media surat kabar paling besar di Indonesia, lebih dari 110.000 pelamar kerja bersaing mendapatkan 500 kesempatan kerja.10



Selanjutnya, para out put pendidikan yang tidak terserap pada lapangan pekerjaan tentu dengan sendirinya akan memanggur. Dan jumlah pengangguran terdidik akan terus meningkat jika pada hari-hari mendatang tidak juga kunjung ada lowongan pekerjaan yang bisa menyerap mereka.
Tentu bukan gambaran yang bagus jika hal tersebut benar-benar terjadi. Dengan terus meningkatnya angka pengangguran di Indonesia maka dengan sendirinya hal tersebut memicu pada kenaikan populasi kemiskinan dan kesengsaraan pada sejumlah besar rakyat Indonesia.

بِِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dalam blog "Makalah Dunia Modern" ini dapat anda temukan berbagai macam potongan-potongan mozaik yang pernah aku lewati, yang aku pelajari baik itu berupa materi ataupun yang lainnya. Ya... anggap sajalah ini semacam Diary Book terbuka yang khusus aku tulis buat anda semua. dalam hidup tentu hal yang akan lewati, banyak pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari perjalan hidup kita begitu juga dengan orang lain dengan perjalanan hidupnya.




Allah perintahkan untuk membaca lewat wahyu pertama-Nya yang diturunkan kapada Nabi kita Muhammad SAW. Perlu direnungkan dalam firman tersebut Allah tidak mencantumkan maf'ul (Objek) tentang apa yang harus kita baca, dengan demikian kita sendiri bebas menentukan lahan apa yang hendak kita baca. Tidak hanya buku yang bisa kita baca, ada alam, bebatuan, air yang mengalir, api yang berkobar, angin yang membelai, dedaungan yang berguguran, bahkan perjalanan hidup seseorang pun dapat kita jadikan objek bacaan. Dengan membaca dan meniru jejak perjalanan hidup orang yang sukses dapatlah kita berharap untuk membangun kesuksesan kita, demikian juga dengan membaca dan mengetahui kisah perjalan orang yang gagal, dapatlah kita mengantisipasi kegagalan yang serupa dengan orang tersebut.

Pembaca yang budiman, saya belumlah menjadi orang sukses, namun semoga kisah hidup ini menjadi secuil contoh dan memberi kemanfaatan kepada kita semua. amin

Hukum dan Rukun ISTINJA'

By:Ali musyafak

Istinja' itu hakikatnya ialah membersihkan atau menghilangkan sesuatu yang keluar dari farji dengan air atau batu.Namun hukum asal adalah menggunakan air.Adapun menggunakan batu adalah keringanan bagi orang-orang tertentu.Apabila seseorang ingin menggunakan salah satunya maka air adalah lebih utama.Dan yang paling utama yaitu menggunakan kedua-duanya dengan mendahulukan batu kemudian baru di ulangi dengan air.



A. Hukum istinja':
1) Wajib apabila sesuatu yang keluar itu najis dan membekas apabila terkena pakaian (jibrat :jawa).
2) Sunat apabila yang keluar berupa cacing tambang (set) dan kotoran yang kering.
3) Makruh apabila yang keluar berupa angina.
4) Haram apabila menggunakan dengan barang haram.
B. Rukun-rukun istinja':
1) Mustanji (orang yang beristinja')
2) Mustanji minhu (sesuatu yang keluar)
3) Mustanji bihi (alat untuk istinja')
4) Mustanji fihi (farji)
C. Syarat-syarat istinja':
1) Selesai buang air kecil /besar
2) Menghilangkan najis
3) Menghilangkan keraguan dan yakin bahwa najisnya sudah hilang
D. Sunat-sunat istinja':
1) Menggunakan tangan kiri
2) Mendahulukan qubul dari pada dubur ketika istinja' memakai air dan sebaliknya ketika memakai batu
3) Menggosok tangannya dengan tanah kemudian dibasuh dengan air
4) Memerciki farjinya dengan air setelah istinja'
5) Berdo'a

E. Adab qodlo'il hajat:
1) Mendahulukan kaki kiri ketika masuk wc dan mendahulukan kaki kanan ketika keluar wc
2) Berpegang kaki kiri ketika buang hajat
3) Menjauhkan dari manusia
4) Tidak kencing di air yang tenang



Perjalanan Hidup

Dalam menjalani hidup, selalu ada pilihan dan rasa. Hakikat hidup adalah memilih seperti yang dikatakan seorang filsuf. Hingga apa yang telah menjadi pilihan kita pastinya akan menunjuk tentang apa yang akan kita peroleh di kemudian hari.
Allah dengan kuasa-Nya telah menganugerahi kita kekuatan untuk meilih dan menjalani pilihan kita.

Terkadang dalam menjalani hidup selalu ada rasa yang datang, entah itu rasa senang, sedih, cinta, jengkel dan lainnya.
Ada orang.....


Powered by Blogger.

Followers

OUR FACEBOOK

Sponsor Blog

Site Info

Copyright © 2012 Makalah Dunia ModernTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.