Alasan Para Tokoh Pro/menyukai Tafsir Ilmi

1. Al-Ghazali
Dalam dunia Islam, Imam Al-Ghazali diyakini sebagai pelopor atau peletak dasar tafsir ilmiah secara teoritis. Al-Ghazali berpendapat bahwa setiap kata dalam al-Qur’an mempunyai makna zhahir dan batin, serta makna yang tersurat dan tersirat. Abu Hamid al-Ghazali al-Thusi seorang ahli falsafah dan juga tasawwuf yang meninggal pada 1111 Masihi bersamaan 505 Hijrah. Al Ghazali menulis sebuah kitab dengan judul Jawahirul Quran, di dalamnya terdapat bab khusus yang menerangkan bagaimana ilmu yang berasal dari Al Quran sudah bercabang-cabang, yaitu ilmu-ilmu keagamaan, berbagai macam ilmu dunia, ilmu bahasa, ilmu-ilmu yang telah ada dan yang masih terus dipelajari, ilmu yang sebenarnya sudah ada tetapi belum dikenal manusia, dan ilmu-ilmu yang akan muncul kemudian hari. Menurut Al Ghazali, semua cabang ilmu pengetahuan terdapat dalam al-Qur’an, baik yang telah berhasil diungkap maupun yang belum terungkap. Imam Ghazali menyatakan bahwa seluruh ilmu tercakup dalam Af’al Allah, dan sifat-sifat Allah. Sedangkan Al-Qur’an adalah penjelas (syarah) dzat, sifat, dan afal Allah. Dengan demikian memahami Al-Qur’an lewat pendekatan sains secara tidak langsung bisa mengungkap keesaan, zat, sifat dan af’al Allah sehingga semakin mempertebal iman seorang yang mempelajarinnya. Bukankah salah satu tujuan utama Al-Quran adalah sebagai Hudan li nas. Di antara contoh ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Af’al Allah ialah firmans Allah ta’ala yang berkaitan dengan kisah nabi Ibrahim: Asy-Syu’araa’[26]: 80,

Artinya:
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku”
Kalimah al-Syifa’ dan al-Mardh dalam ayat ini ialah di antara af’al Allah yang tidak diketahui oleh sesiapa pun kecuali orang yang benar-benar tahu mengenai ilmu kedoktoran dan selok-belok penyakit dan juga tanda-tanda penyakit itu dengan lebih luas dan terperinci.
Dalam karya Masterpeace-nya, Ihya’ Ulumuddin, dengan mengutip pendapat Ibn Mas’ud, Al-Ghazali menyatakan,
مَنْ اَرَادَ عِلْمَ الاَوَّلِينَ وَالاَخِرِيْنَ فَلْيَتَدَ بَّرَالقُرْاَنَ
Artinya:
“siapa saja yang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern, ia harus merenungkan ayat al-Qur’an”.
Hal ini menegaskan bahwa Al-Ghazali menafsirkan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan releven untuk diterapkan.
Melalui keterangan dan penjelasan di atas, dapat di fahami bahawa al-Ghazali berusaha menunjukkan kepada kita bahawa al-Quran merupakan sumber ilmu pengetahuan yang tidak terbatas kerana di dalamnya telah diungkapkan af’al dan sifat-sifat-Nya yang hanya dapat ditemukan oleh orang-orang yang memahaminya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh al-Ghazali sebagai pembuktian akan kebenaran sains yang banyak dijelaskan oleh al-Quran.
2. Jalaluddin Assuyuti
Menurut Muhammad Husain Al-Dhahabi (1976), Jalaluddin Assuyuti adalah salah seorang yang menyokong dan menerima penggunaan tafsir Ilmi ini. Adapun alasan beliau sama halnya dengan Al-Ghazali dan beliau telah jelaskan secara panjang lebar dalam kitabnya ‘Itqan’, yang mana antara intipatinya ialah: “Bahawa hakikat seluruh ilmu itu bersumber dari Al Qur’an”. Hal ini berdasarkan pada firmanAllah Al-An’am[6]: 38,

Artinya:
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab,Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”.
Dalam ayat diatas tampak jelas bahwa tidak ada sesuatu pun yang tidak dibahas dalam Al-Qur’an, dengan demikian pembahasan ilmu pengetahuan juga pasti mendapat tempat tersendiri dalam Al-Qur’an. Itu sebabnya, menafsirkan Al-Quran dengan pendekatan sains sangat mungkin untuk dilakukan. Para peneliti menemukan 800 ayat Al-Quran yang membahas ilmu pengetahuan.
3. Abu Al-fadl Al-Mursi
Abu Al-fadl Al-Mursi pula mengatakan bahawa segala macam ilmu baik yang terdahulu maupun yang kemudian adalah bersumber dari Al Quran. Seperti: ilmu kedoktoran, Fisika, Industri, dan sebagainya. Dalam ilmu kedoktoran, Al Quran mencakupi cara dan langkah-langkah yang perlu ditempuh seseorang menuju hidup sehat serta menjadikan tubuh kuat. Berikut ini adalah ayat yang berhubungan dengan kedokteran: . Nahl[16]:69,

Artinya:
“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang Telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan .”
Selain ayat di atas, masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal-hal ilmiah. Di akhir tafsirnnya, Abu Al Fadl berkata bahawa dalam Al- Quran terkandung segala ilmu baik ilmu pengetahuan, baik yang sudah ada namanya atau belum. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh al-Quran: Al An’am ayat 38 dan An Nahl ayat 89, serta beberapa buah hadis.
4. Tanthawi Jauhari
Menurut Tanthawi, beliau telah meneliti ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan hasil bahwa tidak kurang dari 750 ayat Al-Qur’an yang bercerita tentang ilmu pengetahuan dan mendorong manusia ke arah kemajuan ilmu pengetahuan. Ini jauh lebih banyak dari pada ayat-ayat yang menekankan ilmu fiqih yang berjumlah tidak lebih dari 500 ayat sareh (jelas) sehingga beliau heran mengapa mufassir klasik hanya mengkaji dan menekankan banyak hal tentang ilmu fiqih dan lengah terhadap arahan Al-Qur’an tentang ilmu tumbuh-tumbuhan, Biologi, ilmu hitung, fisika, sosial dan seterusnya. Inilah salah satu hujjah mengapa Tanthawi kemudian memunculkan satu corak tafsir dengan pendekatan ilmiah,
Tanthawi selalu mengatakan Islam adalah agama akal. Maksudnya, ilmu pengetahuan sesuai dengan tuntunan Al Quran, Dalam bukunya Nidzam Al-'Alam wa Al-Umam (Keteraturan Alam Semesta dan Bangsa-bangsa), beliau menegaskan bahwa agama Islam merupakan agama fitrah, relevan dengan rasio manusia dan penciptaan jasmani manusia (al-Jhiba' al-Basyariyah), dan bahwa agama Islam kompatibel dengan hukum alam dan ilmu- ilmu modern.
Disamping itu, Al-Qur’an juga merupakan mukjizat ilmiah, oleh kerana ia mencakup segala macam-macam penemuan dan teori-teori ilmiah modern. Al-Qur’an itu menghimpun ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak kesemuanya dapat dijangkau oleh manusia, bahkan lebih dari itu ia mengemukakan hal-hal jauh sebelum ia turun dan yang akan terjadi. Di dalamnya terdapat pula kaedah-kaedah yang menyeluruh dan prinsip-prinsip umum tentang hukum alam yang boleh kita saksikan, fenomena-fenomena alam yang boleh kita lihat dari waktu ke waktu dan hal-hal lain yang boleh diungkap oleh ilmu pengetahuan modern dan kita menduga itu semua sebagai suatu yang baru. Itu semua sebenarnya bukan suatu yang baru menurut Al-Qur’an, sebab kesemuanya telah diungkap dan diisyaratkan oleh ayat-ayat muhkamat dalam Al Quran. Contohnya adalah: Al-A’raf[7]: 58,

Artinya:
“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamanya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur .
Adapun ayat diatas menunjukan bahawa walaupun dengan kehendak dan keizinan-Nya supaya segala tumbuhan menjadi dan subur, tetapi kesesuaian tanah dan kesuburan tanah juga merupakan syarat tumbuhnya tanaman tersebut, kerana tidak semua tanaman dapat tumbuh pada tanah yang sama. Tafsiran ini menunjukkan bahawa Tanthawi berusaha untuk memberikan pengertian atau situasi baru, bahwa Al Quran sudah memberikan petunjuk tentang keilmiahannya, dan keilmiahan itu sesuai dan berlaku dengan ilmu pengetahuan yang ada.
Usaha Tanthawi Jauhari dalam menafsirkan ayat al-Quran dengan pendekatan tafsir ilmi ini mendapat sambutan yang baik dari berbagai kalangan ulama tafsir ilmi, sehingga sekarang banyak kemunculan kitab yang mengulas secara ilmiyah, seperti yang dilakukan oleh Hanafi Ahmad dengan kitabnya at-Tafsir al-Ilmi li al-Ayah al-Kawniyah, dan juga kitab-kitab lain yang terus berkembang sehingga ke hari ini.
5. Fakhruddin al-Razi
Abu Abullah Fakhruddin al-Razi adalah seorang mufassir yang berasal dari Tabrustan Iran, sebuah tempat yang dibuka oleh orang-orang Islam pada zaman khalifah Usman bin Affan. Beliau mentafsirkan ayat kauniyah dan teori ilmiah bagi memudahkan orang lain untuk memahami kitab Allah. Di antaranya contoh ayat yang ditafsirkan oleh beliau ialah ayat 16 dari surah al-Nahl yang berkaitan dengan lebah dan keajaiban-keajaiban yang ada pada lebah, bagaimana lebah membina rumah dan bagaimana Allah mengilhamkan kepada lebah untuk menghasilkan madu dari bunga. an-Nahl[16]: 16,

Artinya:
“Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). dan dengan bintang-bintang Itulah mereka mendapat petunjuk”.
6. Harun Yahya
Perkembangan ilmu pengetahuan modern ketika ini telah memperbanyakkan lagi kemunculan hasil-hasil pentafsiran yang bercorak ilmi. Pentafsiran seperti ini biasanya menekankan pada pembahasan tentang ayat-ayat kauniyah yang ditafsirkan dengan menggunakan penemuan-penemuan ilmiah sebagai penjelasan dari ayat-ayat kauniyah tersebut. Model pentafsiran yang seperti ini dilakukan oleh Harun Yahya untuk mentafsirkan ayat-ayat tentang keruntuhan teori evolusi Darwin terutamanya mengenai asal-usul manusia yang disesuaikan dengan penemuan-penemuan ahli bidang antropologi dan biologi moden seperti Roy Britten dan tokoh-tokoh lainya. Ini adalah berdasarkan kepada firman Allah: As-Sajdah[32]: 7,

Artinya:
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”
Pentafsiran ayat-ayat yang berkaitan dengan teori evolusi Darwin oleh Harun Yahya ini difokuskan pada beberapa ayat yang mengetengahkan asal-usul manusia. Perbedaan tentang penciptaan manusia menurut Darwin dan al-Quran inilah yang mendorong Harun Yahya mengkaji dan meneliti dengan menggunakan teori sains. Hasil yang diperolehi dalam penelitian tersebut adalah bahawasanya Harun Yahya dengan tegas menolak apa yang dikatakan oleh Darwin dalam slogannya bahawa asal-usul manusia tercipta dari bangsa kera. Kerana dalam pandangan Harun Yahya teori evolusi ini runtuh dengan beberapa sebab diantaranya:
1. Jenis-jenis makhluk hidup tidak boleh berubah dan tidak mungkin terjadi perubahan dari satu bentuk ke satu bentuk yang lain. Conyohnya: seekor ikan tidak akan menjadi seekor burung atau seekor mamalia seperti ikan paus duduk didarat.
2. Setiap jenis makhluk yang hidup lahir dari leluhur yang sama.
3. Tiada catatan fosil yang menunjukkan atau merekod bentuk transisi yang mungkin berlaku.
4. Kerumitan dan kesempurnaan pada tubuh dari DNA makhluk hidup tidak berlaku kerana kebetulan, tetapi merupakan bukti bahawa ada yang merancang kerumitan tersebut.
7. Zaghlul al-Najjar
Pendukung tafsir ilmi zaman modern, Zaghlul al-Najjar yang seorang pakar geologi asal Mesir, dan sejak tahun 2001 menjadi Ketua Komisi Kemukjizatan Sains Al-Qur'an dan Al-Sunnah di "Supreme Council of Islamic Affairs" Mesir. Zaghlul berkeyakinan penuh bahwa Al-Qur'an adalah kitab mukjizat dari aspek bahasa dan sastranya, akidah-ibadah-akhlaq (tasyri'), informasi kesejarahannya, dan tak kalah pentingnya adalah dari sudut aspek isyarat ilmiahnya. Dimensi kemukjizatan yang disebut terakhir ini maksudnya adalah keunggulan kitab ini yang memberikan informasi yang menakjubkan dan akurat tentang hakikat alam semesta dan fenomenanya yang mana ilmu terapan belum sampai ke hakikat itu kecuali setelah berabad-abad turunnya Al-Qur'an. Sehingga tidak mungkin bagi orang yang berakal menetapkan sumber hakikat ilmiah itu selain dari pada Allah swt. Hal ini adalah bukti penguat bagi ahli ilmu pengetahuan di zaman ini bahwa Al-Qur'an itu benar-benar firman Allah yang telah menurunkannya kepada Rasul terakhir atas dasar ilmu-Nya dan berfungsi untuk membenarkan Nabi Muhammad saw.
Al-Qur'an menyuruh umat manusia untuk merenungi proses penciptaan yang tak pernah disaksikan oleh manusia, Zaghlul menilai dalam rangka mengkompromikan konteks dan tujuan ayat-ayat Al-Qur’an, penciptaan langit dan bumi, kehidupan, juga manusia yang memang terjadi di luar kesadaran manusia yang mutlak. Namun Allah swt menyisakan beberapa bukti di lempengan bumi dan lapisan langit yang dapat membantu manusia untuk menyatakan asumsi proses penciptaan. Akan tetapi asumsi yang bisa diraih ilmuan di bidang ini baru sebatas hipotesa dan teori belaka, dan belum sampai pada tingkatan hakikat/fakta keilmuan. Zaghlul menilai bahwa ilmu terapan di bidang hakikat penciptaan tak dapat melampaui teorisasi belaka. Varian teori penciptaan ini pun tergantung asumsi dan keyakinan para pencetusnya. Kesimpulan ilmuan yang beriman akan berbeda dengan ilmuan atheis atau yang netral agama.
Pada posisi inilah, bagi ilmuan muslim tersedia cahaya Allah swt yang terdapat dalam ayat Al-Qur'an atau hadis Nabi. Cahaya yang diberikan "gratis" oleh Allah dan Rasul-Nya itu dapat membantu ilmuan muslim untuk mengangkat salah satu teori dan asumsi sains ke tingkat hakikat ilmiah, bukan karena ilmu terapan itu yang menetapkannya, akan tetapi lebih karena terdapat isyarat hakikat ilmiah itu dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Artinya kita telah memenangkan ilmu dengan informasi Al-Qur'an atau Sunnah dan bukan sebaliknya, memenangkan Al-Qur'an dengan bantuan ilmu. Di sinilah letak keunikan dan keistimewaan teori i'jaz yang diajukan Zaghlul.
Dengan kepiawaiannya di bidang tafsir Al-Qur'an berbasis sains, ia rutin menulis artikel tetap di rubrik "Min Asrar al-Qur'an", (Rahasia Kemukjizatan Al-Qur'an) setiap hari senin di Harian Al-Ahram Mesir yang bertiras 3 juta eksemplar setiap harinya. Hingga kini telah dimuat lebih dari 250 artikel tentang kemukjizatan sains dalam Al-Qur'an.

0 komentar:

Powered by Blogger.
Loading...

Followers

OUR FACEBOOK

Sponsor Blog

Site Info

Copyright © 2012 Makalah Dunia ModernTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.