Tafsir Ilmi( Saintifik )

Tafsir ilmi terdiri dari dua akar kata, yaitu at-tafsir dan al-‘ilm. Kata tafsir dalam al-Qur’an bermakna penjelasan atau perincian. Sedangkan kata ‘ilm dan berbagai derivasinya kerap digunakan dalam al-Qur’an dalam arti umum pengetahuan (knowledge), termasuk untuk sains dan ilmu-ilmu kemanusiaan (sciences of nature and humanities). Selain itu, kata ‘ilm dalam al-Qur’an juga digunakan untuk pengetahuan yang diwahyukan (revealed) sekaligus digunakan untuk pengetahuan yang diperoleh di luar wahyu (acquired).
Menurut said agil husni al-munawar, Tafsir Ilmi merupakan Penafsiran ayat-ayat kauniyah yang terdapat dalam Al-Qur’an dengan mengkaitkannya dengan ilmu-ilmu pengetahuan modern yang timbul pada masa sekarang. Diantaranya ulama’ yang mengunakan tafsir ini adalah Al-alamah Wahid aldin khan dalam karyannya Al-Islam ya ta’adda.
Definisi yang diajukan oleh Prof. Amin al-Khuli adalah: "Tafsir yang memaksakan istilah-istilah keilmuan kontemporer atas redaksi Al-Qur'an, dan berusaha menyimpulkan berbagai ilmu dan pandangan-pandangan filosofis dari redaksi Al-Qur'an itu."
Abdul Al-Majid Abdul Salam Al-Mahrasi juga memberikan definisi tafsir ilmi sebagai berikut:
اَلتَفْسِيْرُ العِلْمِىُ هُوَ التَفْسِيرُ الذِى يَتَوَحَى اَصْحَابُهُ اِخْضَاعَ عِبَاراتِ القُرْاَنِ لِلنَظَرِيَاتِ وَالاِصْتِلاحَاتِ العُلُمْيةِ وَبَدَلا لاَقصَى الجُهْد فِى اِسْتِخْرَاجِ مُخْتَلِفِ مَسَائِلِ العُلُومِ وَالاَرَءِالفَلْسَفِيةِمِنْهَا
Artinya:
“Tafsir ilmi adalah tafsir yang mufasirnya mencoba menyingkap ibarat-ibarat dalam AL-Qur’an, yaitu mengenai beberapa pandangan ilmiah dan istilahnya serta mengerahkan segala kemampuan dalam mengali berbagai problema ilmu pengetahuan dan pandangan-pandangan yang bersifat falsafi.”
Fahmi Salim, MA memberi catatan berkaitan dengan dua definisi diatas, yaitu: yang pertama, kedua definisi tersebut mendiskreditkan model tafsir saintifik, sebab memberi kesan bagi orang awam yang membaca definisi itu bahwa corak tafsir itu agar dihindari karena dinilai telah "menundukkan redaksi Al-Qur'an" ke dalam teori-teori sains yang kerap berubah-ubah. Lagi pula sosok Amin Khuli dan Abdul Mujid ini dikenal berada di barisan ulama yang kontra dan tak merestui corak tafsir ini. Kedua, definisi tersebut tak mampu menggambarkan konsep yang sebenarnya diinginkan para pendukung tafsir ilmi. Para pendukungnya tak pernah berkeinginan untuk memaksakan istilah-istilah keilmuan modern kepada redaksi Al-Qur'an, atau menundukkan redaksi Al-Qur'an itu kepada teori-teori sains yang selalu berubah. Apa yang dimaksudkan para ulama pendukung corak tafsir ini adalah berupaya menjelaskan salah satu aspek kemukjizatan Al-Qur'an agar mudah difahami oleh manusia modern, terlebih di saat rasa dan cita kebahasaan Arab sudah sangat melemah, di kalangan orang Arab sekalipun. Apalagi kini, ilmu dan sains telah menyerbu seluruh sendi kehidupan umat manusia.
Oleh sebab itu kiranya, definisi yang lebih tepat menurut penulis untuk corak tafsir ilmi dan sesuai dengan realitas di lapangan adalah
Pertama, Husain Adz-Dzahabi yang mendefinisikan tafsir ini sebagai berikut:
اَلتَفْسِيرُ الذِى يَحْكُمُ الاِصْتِلاحَاتِ العُلُمِيةِ فِى عِبَارَاتِ القُرْاَنِ وَيَجْتَهِدُ فِى اِسْتِخْرَاجِ مُخْتَلِفِ العُلُومِ وَالاَرَاءِ الفَلْسَفِيَّةِ مِنْهَا
Artinya:
”tafsir yang menetapkan istilah-istilah ilmu pengetahuan dalam penuturan Al-Qur’an. Tafsir ilmi berusaha secara optimal dalam menggali dimensi ilmu yang dikandung dalam Al-Qur’an dan berusaha mengungkap berbagai pendapat keilmuan yang bersifat falsafi.”
Kedua, definisi lain yang boleh kita kemukakan di sini adalah: "Tafsir yang diupayakan oleh penafsirnya untuk: 1) Memahami redaksi-redaksi Al-Qur'an dalam sinaran kepastian yang dihasilkan oleh sains modern, dan 2) Menyingkap rahasia kemukjizatannya dari sisi bahwa Al-Qur'an telah memuat informasi-informasi sains yang amat dalam dan belum dikenal oleh manusia pada masa turunnya Al-Qur'an, sehingga ini menunjukkan bukti lain akan kebenaran fakta bahwa Al-Qur'an itu bukan karangan manusia, namun ia bersumber dari Allah swt, pencipta dan pemilik alam semesta ini."
Ketiga, Penulis kitab al-Ta'bir al-Fanni fi al-Qur'an mendefinisikan tafsir ilmi sebagai Tafsir yang berbicara tentang istilah-istilah sains yang terdapat dalam Al Qur'an dan berusaha sungguh-sungguh untuk menyimpulkan pelbagai ilmu dan pandangan filosofis dari istilah-istilah Al-Qur'an itu."
Drs.Khaeruman,M.Ag menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan digunakan sebagai upaya pendekatan dalam menafsirkan Al-Qur’an atau upaya untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Ini tidak berarti bahwa tafsir ilmi tujuannya untuk mendukung atau membenarkan teori sains. Dalam konteks ini harus dibedakan antara memahami ayat-ayat Al-Qur’an lewat ilmu pengetetahuan dengan membenarkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan.

0 komentar:

Powered by Blogger.
Loading...

Followers

OUR FACEBOOK

Sponsor Blog

Site Info

Copyright © 2012 Makalah Dunia ModernTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.