Tipe-tipe hasil belajar

Tipe hasil belajar diharapkan dapat dicapai siswa, penting diketahui oleh kepala sekolah dapat merancang pengajaran secara tepat dan penuh arti. Setiap proses belajar mengajar, keberhasilannya selalu diukur seberapa jauh hasil belahar yang dicapai siswa, disamping diukur dari segi proses. Tipe hasil belajar harus nampak pada tujuan pengajaran (Tujuan instruksional) sebab tujuan itulah yang akan dicapai dalam proses belajar mengajar.
Tujuan pendidikan yang akan dicapai dapat dikategorikan menjadi tiga bidang, yaitu bidang kognitif (penguasaan intelektual), serta bidang psikomotorik (kemampuan), keterampilan (berprilaku). Ketiganya tidak bisa berdiri sendiri tapi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sesuai denagn tujuan yang hendak dicapai, maka ketiganya harus nampak sebagai hasil belajar siswa di sekolah. Oleh karena itu, ketiga aspek tersebut harus dipandang sebagai hasil belajar siswa dari proses pengajaran.
Menurut Gegne dalam bukunya nana Sujana (2005 :22) ada lima kategori tipe hasil belajar yaitu verbal information, intelektual skill, cognivitive strategi, attitude dan motoskill sedangkan menurut Benyamin Bloom secara garis besar mengklasifikasikan hasil belajar menjadi tiga ranah, yakni ranah kopgnitif, ranah efektif, ranah psikomotorik. Karena dalam sistim pendidikan nasional rumus tujuan pendidikan, baik tujuan kulikuler maupun tujuan tujuan instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom, maka pembahasan ini menurut yang umum adalah:
1. Ranah Kognitif
a. Tipe hasil belajar: pengetahuan
Istilah pengetahuan dimaksudkan sebagai terjemah dari pada knowledge dalam taksonomi. Sekalipun demikian, maknanya tidak sepenuhnya tetap sebab dalam istilah tersebut termasuk pula pengetahuan faktual disamping pengetahuan hapalan atau untuk diingat seperti rumus, batasan, difenisi, istilah, pasal dan undang-undang, nama-nama tokoh, nama-nama kota. Dilihat dari segi belajar, istilah-istilah tersebut memang perlu dihafal dan diingat agar dapat dikuasainya sebagai dasar bagi pengetahaun atau pemahaman konsep-konsep lainnya.
b. Tipe hasil belajar: aplikasi
Aplikasi adalah pengguanaan abstraksi pada situasi konkret atau situasi khusus. Abstrkasi tersebut mungkin berupa ide, teori, atau petunjuk teknis. Menerapkan abstraksi ke dalam situasi baru disebut aplikasi. Mengulang-ulang merapkannya pada situasi lama akan beralih menjadi pengetahuan hafalan atau keterampilan. Suatu situasi akan tetap dilihat sebagai situasibaru bila tetap terjadi proses pemecahan masalah. Ada suatu unsur lagi yang perlu masuk, yaitu abstraksi tersebut berupa prinsip atau generalisasi, yakni suatu yang umum sifatnya untuk diterapkan pada situasi khusus.
c. Tipe hasil belajar: Analisis
Analisis adalah usaha memilih suatu intergritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas susunannya. Analisis merupakan kecakapan yang kompleks, yang memanfaatkan kecakapan dari ketiga tipe sebelumnya. Dengan analisis diharapkan seseorang mempunyai pemahaman komprehensif dan dapat memilihkan integritas menjadi bagian-bagian yang tetap terpandu untuk beberapa hal memahami prosesnya, untuk hal lain lagi memahami sistematikannya.
d. Tipe hasil belajar: Sintesis
Penyatuan unsur atau bagian-bagian ke dalam bentuk berfikir sintesis adalah berfikir divergen. Dalam berfikir divergen pemecahan dan pemahaman belum tentu bias dipecahkan. Berfikir sintesis merupakan salah satu terminal untuk menjadikan orang lebih kreatif berfikir kreatif merupakan salah satu hasil yang hendak dalam pendidikan. Seseorang yang kreatif sering enemukan atau menciptakan sesuatu. Kreatifitas juga beroperasi dengan cara berfikir divergen. Dengan kemampuan sintesis, orang mungkin menemukan hubungan kausal atau urutan tertentu, dan menemukan abstraksinya atau operasionalnya.
e. Tipe hasil belajar: Operasional
Operasional adalah pemerian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode material.
f. Tipe hasil belajar : Pemahaman
Tipe hasil belajar yang lebih tinggi dari pada pengetahuan adalah pemahaman. Misalnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri sesuatu yang dmibaca atau didengarnya, memberi contoh lain dari yang telah dicontohkan, atau menggunakan petunjuk penerapan pada kasus lain. (Sudjana,2005: 22-28)


2. Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap dan nilai. Sekalipun bahan pelajaran berisikan ranah kognitif, ranah afektif harus menjadi bagian integral dari bahan tersebut dan harus tampak dalam proses dan hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. Oleh sebab itu penting dinilai hasilnya.
Ada beberapa tingkat ranah afektif sebagai tujuan dan tipe hasil belajar. Tingkat tersebut dimulai dari tingkat dasar atau sederhana sampai tingkat yang kompleks.
a. Reciving, yakni semacam kepekaan dalam menerima stimulus dalam menerima stimulus dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dan lain-lain. Dalam hal ini, termasuk kesadaran keingnan untuk menerima stimulus, control dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar.
b. Responding (jawaban), yakni reaksi yang diberikan kepada seseorangterhadap stimulus yang datang dari luar hal ini menyangkup ketetapan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang pada dirinya.
c. Valueing (Penilaian), berkenaan dengan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi. Dalam evaluasi ini termasuk didalamnya kesediaan menerima nilai, latar belakang atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai tersebut.
d. Organisasi, yakni pengembangan dari nilai pengembangan satu sistem, termasuk hubungan satu nilai kenilai yang sama, pemantapan, dan prioritas nilai yang telah dimilikinya
e. Karakteristik nilai (interalisasi nilai),yakni keterpaduan dari semua sistem ayng telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Kedalamnya termasuk keseluruahn nilai dan karakteristiknya (Sujana, 2005:29)
3. Ranah Psikomotorik
Hasil belajar psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak. Ada 6 tingkatan keterampilan, yaitu:
a. Gerakan Refleks (keterampilan pada gerak yang tidak sadar)
b. Keterampilan pada gerakan-gerakan
c. Kemampuan perseptual, termasuk didalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motorik, dan lain-lain
d. Kemampuan dibidang fisik, mesalnya kekuatan, keharmonisan dan ketetapan.
e. Gerakan-gerakan skill, muali dari keterampilan sederhana pada keterampilan yang kompleks
f. Kemampuan yang berkenaan denagn komunilasi seperti gerakan ekspresif dan interpretatif (Sujana,2005:53)
Tipe hasil belajar di atas tidak dapat berdiri sendiri, tetapi tetap berhubungan antara satu dengan yang lainnya bahkan ada dalam kebersamaan seseorang yang berubah tingkat kognisinya sebenarnya dalam kadar tertentu telah berubah pula sikap dan perilakunya. Dalam proses belajar mengajar di sekolah, biasanya tipe hasil belajar kognitif lebh dominan jika dibandingkan dengan tipe hasil belajar bidang afektif dan bidang psikomotorik sehingga tidak perlu diadakan penilaian. Demikian beberapa hasil belajar, yang sangat penting diketahui oleh seorang guru, sebagai dasar dalam membuat tujuan pelajaran dan penyusunan alat-alat penilaian, baik melalui tes maupun non tes.

0 komentar:

Powered by Blogger.

Followers

OUR FACEBOOK

Sponsor Blog

Site Info

Copyright © 2012 Makalah Dunia ModernTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.