Mengintip Pohon Karet dan Cara Memproduksinya

Oleh: Ahmad Efendi

Di Indonesia, perkebunan karet banyak dijumpai di kawasan Sumatera dan Kalimantan. Indonesia patut berbangga hati menjadi negara dengan kebun karet terluas di dunia, mengungguli Thailand dan Malaysia. Tahun 2003 lalu, luas areal perkebunan karet Indonesia sekitar 3,29 juta hektar, sementara Thailand 1,96 juta hektar dan Malaysia 1,54 juta hektar (www.perum-sarana.com/modules.php?name=News&file=article&sid=89).
Getah karet lebih banyak diproduksi menjadi ban pada kendaraan baik yang miliki sipil maupun militer, juga untuk tekstil, sepatu dan lain-lainnya. Pokoknya yang molor-molor kabanyakan terbuat dari getah pohon karet

Di pulau Sumatera, perkebunan karet yang menjadi sumber pokok mata pencaharian (selain kelapa sawit, kopi dan lainnya) penduduk setempat. Tanamam perkebunan yang mempunyai nama latin Hevea Brasilienis ini bearasal dari Negara Brazil mempunyai ciri-ciri tinggi pohon 12 sampai 18 meter pada usia dewasa atau siap produksi. Batangnya keras seperti pada umumnya pohon yang berakar tunggang, berdaun oval dengan garis tengah antara 3 sampai 5 cm.
Sebagai tumubahan yang memproduksi getah, tumbuhan ini mempunyai kandungan getah yang banyak di dalam serat-serat kulitnya. Jika dalam masa yang produktif, getah pohon ini dan sehari bisa mencapai lebih dari 500 ml bahkan lebih. Pohon karet akan terus berproduksi hingga usia 25 tahun. Pada usia ini pohon karet sudah tidak mampu berproduksi secara maksimal lagi dan butuh diremajakan kembali.
Karena penulis pernah menjalani hidup di Jambi dan Palembang, maka penulisan karet ini hanya berkisar pada dua daerah tersebut, terutama di Jambi.
Untuk memporoleh hasil yang baik, biasanya pembiakan pohon karet dilakukan dengan cara stek, yaitu dengan mengambil mata tunas dari batang pohon induk yang unggul kemudian menempelkan pada batang karet muda yang berusia sekitar setengah sampai satu tahunan yang masih berada dalam pot plastic atau bisa disebut kalibet oleh warga jawa yang berdomisili di Jambi. Setelah prose pen-stek-an berhasil barulah pohon karet muda tersebut di pindahkan ke tanah lahan perkebunan.
Jika proses penanaman dan perawatan telah dilakukan dengan benar (dalam artian sesuai yang telah dirumuskan oleh Dinas Pertanian) maka pohon karet tersebut akan siap berproduksi atau di sadap pada kisaran umur 6 sampai 8 tahun.
Penyadapan yang dilakukan terhadap pohon karet tidak sama dengan proses penyadapan yang dilakukan KPK terhadap Anggodo Widjoyo lho…
Penyadapan yang dilakukan terhadap pohon karet yaitu dengan cara menyayat kulit pohon karet setengah putaran. Maksudnya kulit yang disadap adalah kulit di bagian sisi pohon. Jika temen-temen sulit memahaminya, coba anda bayangkan (atau kalu perlu langsung praktekkan) lihatlah kearah sebuah batang pohon dari arah mana yang anda suka, pasti akan terlihat sisi batang pohon sebelah depan. Sedangkan sisi lainnya tidak kelihatan karena berada di balik sisi depan batang pohon yang anda lihat. Nah hanya sisi pohon karet yang terlihat itu saja yang disadap, sedang sisi sebelahnya dibiarkan saja dan baru di sadap jika sisi sebelahnya telah habis disadap. Menurut Dinas pertanian di daerah Jambi sana, jika penyadapan terhadap pohon karet dilakukan pada keseluruhan sisi batang pohon tersebut dalam waktu yang sama, maka produktifitas pohon karet tersebut akan menurun hingga cuma menghasilkan getah yang sedikit.
Menurut pengalaman para petani karet dan penulis sendiri telah membuktikannya, pohon karet yang akan banyak menghasilkan getah adalah pohon karet yang mempunyai daun rindang dan subur. Sedangkan kondisi terlalu subur pada pohon karet hanya akan menebalkan kulit pohon akan tetapi getahnya tidak mau keluar setelah disadap. Para petani karet menyebutnya mati kulit sedangkan jika menurut dinas pertanian penulis belum tahu.
Penyadapan kulit batang pohon karet dilakukan dengan menggunakan pisau sadap khusus. Yang dilakukan 1 (satu) kali dalam 24 jam untuk 1 (satu) batang pohon karet. Getah karet yang berwarna putih kental akan keluar seiring dengan sayatan yang kita lakukan dan akan terus mengalir pada terpurung atau tempat yang digunakan untuk menampung tetesan-tetesan getah karet melalui talang yang di tancapkan di ujung aliran getah tersebut. Talang karet pada umumnya terbuat dari logam dan dari bekas kaleng-kaleng kemasan susu ataupun kaleng kemasan ikan sardencis. Namun seiring waktu dan kebutuhan, sekarang banyak warga yang menggunakan daun pohon karet yang telah kering untuk dijadikan talang. Lebih praktis alasannya.
Proses penyayatan pada kulit pohon karet jangan sampai mengenai kayunya. Dikarenakan hal tersebut bisa mengakibatkan cacat dan memperlambat proses pemulihan kulit pohon karet tentunya juga akan berpengaruh pada produktifitas getah pada pohon karet tersebut di waktu mendatang.
Untuk prosesi pemanenan, setiap daerah (lingkungan) yang berbeda bisanya punya cara dan sebutan sendiri. Namun sekali lagi, penulis hanya akan menuliskan apa yang penulis ketahui dan pernah penulis lakukan.
1. Kepingan
Penaman dan penyebutan macam-macam bentuk dan proses pemanenan karet ini belum diketahui dan belum ada penelitian lebih lanjut ke arah itu. Proses ini dilakukan setelah hasil sadapan yang dilakukan dalam beberapa hari telah dianggap cukup oleh penyadap. Yaitu mengumpulkan dan memisahkan antara getah yang sudah membeku dengan yang masih cair. Proses isi memakan waktu yang cukup lama. Karena sambil penyadap mengambil dan mengumpulkan getah yang sudah membeku dia juga melakukan penyadapan lagi untuk memperoleh getah cair.
Setelah getah yang telah membeku dan yang masih cair terkumpul, selanjutnya getah yang masih cair di tambahkan air secukupnya. Bisanya perbandingan penambahan air dengan getah cair adalah 2:1 dalam artian 2 (dua) ember air bisa di tambahkan ke dalam 1 (satu) ember getah cair.
Selanjutnya tuangkan campuaran dua benda cair tersebut ke dalam cetakan yang berbentuk kubus persegi panjang yang terbuat dari papan atau bisa juga dari galian di tanah (jika temen-temen sukar untuk membayangkannya, coba saja bayangkan lemari tanpa pintu yang dibaringkan dengan bagian yang terbuta di sebelah atas. Itu semisal gambaran tentang cetakan yang terbuat dari papan. Dan juga bayangkan galian persegi panjang pada tempat pembuangan sampah yang digali dari tanah, atau bisa juga temen-temen banyangkan galian liang lahat untuk para jenazah yang akan dikebumikan. Itu adalah semisal gambaran cetakan yang terbuat dari galian tanah.
Cairan yang dituangkan pertama ke dasar cetakan berfungsi sebagai penguat dan perekat untuk hasil cetakan yang bagus agar mudah membawanya ke tempat penampung getah karet. Selanjutnya cairan tersebut diberi cuka (chokak=istilah jawa. Chuke=istilah yang diucapkan oleh penduduk asli Sumatera/Jambi). Bentuk cairan ini tentunya tidak sama dengan bentuk ujud Chokak (nama laqob Slamet Riadi keamanan di Pondok Putri) hehehehe… Cuka ini berbentuk cair dan merupakan cairan yang berbahaya lebih bahaya dari cuka yang bisa dipake untuk pembuatan tahu. Sekali cuka karet yang murni mengenai angota tubuh anda maka selamanya tidak akan dapat pulih seperti semula. Karena cuka karet sifatnya sama dengan air keras.
Setengah penuangan cuka selesai selanjutnya barulah getah-getah karet yang telah membeku dimasukkan dan dibuat sepadat mungkin. Proses terakhir yaitu penuangan kembali sisa getah cair kedalam cetakan dan diberi cuka secara merata. Tunggu beberapa lama hingga proses pembekuan benar-benar sempurna. Bisanya sih 3 sampai 5 jam baru getah tersebut diangkat dari cetakan dan menjadi seperti potongan tahu raksasa dan siap dijual. Bentuk dan proses seperti ini yang orang jawa yang berdomisili di jambi menyebut kepingan

2. Cor
Untuk cara ini lebih mudah dan singkat dari pada kepingan. Agak mirip dengan kepingan. Akan tetapi tidak menggunakan cetakan yakni langsung dimasukkan ke dalam karung. Caranya, getah yang masih cair di taruh di dalam ember-ember lalu diberi cuka dan aduk hingga membeku. Sambil menunggu proses pembekuan, getah yang sebelumnya telah beku dimasukkan dan ditata sepadat-padatnya di dalam karung, lalu jika getah yang di ember-ember telah membeku, diambil dan dimasukkan kedalam karung kemudian ditutupi lagi dengan sisa getah yang sebelumnya telah membeku. Jika sudah selesai ikat yang kencang ujung mulut karung lalu jual.
Atau bisa juga setelah semua getah yang telah membeku dimasukkan karung lalu disiram dengan seluruh getah cair yang telah diberi sedikit cuka.
Dinamakan cor, mungkin karena prosesnya agak mirip dengan proses pengecoran pada tiang-tiang bangunan. Wa Allahu a'lamu…

3. Buyar
Menurut penulis, cara ini yang paling efisien dan praktis terlebih lagi jika sedang dikejar kesibukan atau lagi dalam keadaan tidak mood/malas/tidak semangat.
Caranya, tidak perlu membutuhkan getah cair, akan tetapi hanya getah yang telah membeku saja yang diambil. Setelah terkumpul langsung dimasukkan ke dalam karung dan jual. Praktis kan? Dan tidak membutuhkan waktu lama. Cara ini yang dulu penulis sering lakukan.

4. Dan lain-lain
Dan lain-lain. Tentunya masih banyak lagi cara dan bentuk pemanenanya, ada yang tiap hari dipanen, jadi hanya getah cairnya saja yang diambil. Dan sebagainya.

Setelah crisis monetary berlalu, harga per-kilo gram getah karet terus membaik. Sekarang harga perkilogramnya berada pada kisaran Rp.11.000,- sampai 13.000,-/kg. Sedangkan pada kebun pohon karet yang masih sangat produktif, dalam 4-7 hari 1 kaplingnya (kapling adalah penamaan satu lahan kebun karet. 1 kapling bisanya terdiri dari 2 hektar luas tanah dan normalnya berisi 1.500 s/d 2.000 lebih pohon karet) bisa menghasilkan 60 s/d 100 kg.
Bisanya tinggi rendahnya harga getah karet dipengaruhi oleh kualitas getah tersebut. Adapun getah karet dapat dibagi menjadi empat kategori.



1. Getah basah
Getah basah adalah getah yang terlalu banyak mengandung air. Getah semacam ini akan kelihatan dari banyaknya air yang merembes keluar dari getah yang telah di panen. Getah semacam ini dibeli dengan harga rendah oleh orang (tengkulak) atau lembaga (KUD dan sejenisnya) yang beroperasi membeli getah petani karet. Dikarenakan terjadi banyaknya penyusutan berat getah tersebut. Selain harga rendah bisanya juga akan dikenakan potongan antara 1 s/d 10% dari seluruh berat getah. Sama seperti diskon yang diberikan mall-mall besar disetiap event atau waktu cuci gudang pada akhir tahunnya. Hehehe…
Getah yang sangat berpotensi masuk dalam kategori getah ini yaitu kepingan, cor dan sejenisnya.

2. Getah kering
Kebalikan dari getah basah, getah kering yaitu getah yang sedikit mengandung air, selain potongan berat yang kecil getah model ini memiliki harga jual yang tinggi. Akan tetapi getah kering juga mempunyai kelemahan, selain pada beratnya, karena kadar airnya sedikit, maka berat getah kering akan memiliki berat yang lebih ringan jika dibandingkan dengan getah basah. Juga pada baunya, semua getah kering baunya lebih busuk daripada getah basah.
Yang berpotensi masuk pada kategori ini adalah yang system buyar, atau juga kepingan dan cor yang di biarkan selama berhari-hari hingga kadar airnya menjadi sedikit.

3. Getah bersih
Getah yang bersih mempunyai daya jual yang tinggi jika dibandingkan dengan getah kotor. Getah bersih adalah getah yang tidak tercampuri oleh tatal (tatal adalah nama atau sebutan untuk kulit pohon karet yang terkelupas akibat disadap). Oleh sebagian petani karet, tatal ini difungsikan untuk mempercepat proses pembekuan getah karet cair. Caranya, tatal tersebut dimasukan ke dalam tempurung atau makuk tempat penadah tetesan getah seiring dengan tetesan getah ke dalam mangkuk tersebut. Selain dengan menggucanakan cuka, cara ini cukup efektif, karena membutuhkan waktu singkat dan berbarengan dengan kecepatan kita dalam menyadap pohon karet. Apalagi di saat musim hujan (masa tersulit bagi petani karet) karena jika hujan turun pada saat getah-getah dalam mangkuk penadah belum membeku, maka sia-sialah kerja keras kita dalam seharian menyadap ribuan pohon karet dalam lahan kebun kita.

4. Getah kotor
Kebalikan dari getah bersih, harga getah kotor sangat rendah, malah jika kotornya keterlaluan, para pembeli getah tidak akan mau membeli produk getah kita. Getah kotor adalah getah yang di dalamnya banyak terdapat tatal dan kotoran yang lain, seperti pasir, kayu, dll. (Adanya pasir, kayu dan yang lainnya di dalam getah bisa berasal dari rasa curang si pemilik getah agar getahnya memiliki berat yang lebih dari yang seharusnya, atau bisa jua karena kejadian alam, semisal hujan dan sebagainya).



Jadi, untuk memperoleh harga getah yang tertinggi, getah kita selain kering juga harus bersih. Sedang untuk produktifitas dan berat, bisa diatasi dengan penangan dan perawatan yang baik, semisal pemupukan, selalu berusaha agar pohon karet tidak cacat dan sebagainya. Penyadapan yang dilakukan setiap hari sekali juga tidak bagus untuk produksi getah, karena lama-kelamaan getah cair yang dihasilkan akan lebih banyak memiliki kandungan air daripada kandungan getahnya. Idealnya penyadapan dilakukan 5x dalam 1 (satu minggu).
Bagaimana teman-teman? Ada yang berminat melihat atau langsung praktek menyadap? Jika ada silahkan ikut punulis pulang ke Palembang di waktu liburan pondok. Asal seluruh ongkos transportasinya (pulang pergi) ditanggung sendiri-sendiri.. hehehehe.. yang jelas penulis sudah rindu dengan bau busuknya getah karet yang jika sudah terbiasa baunya menjadi terasa segar itu…

Sekian.




2 komentar:

Anonymous said... | April 10, 2011 at 8:11 PM

artikelnya bagus, tp di sini tadi ada kalimat "biasanya pembiakan pohon karet dilakukan dengan cara stek, yaitu dengan mengambil mata tunas dari batang pohon induk yang unggul kemudian menempelkan pada batang karet muda yang berusia sekitar setengah sampai satu tahunan"
itu seharusnya bukan stek, tp okulasi, kl di dusun ak nybut ny nempel...

hehehhehe...

Ahmad Efendi ~<( made sfc_gresik )>~ said... | April 17, 2011 at 3:26 PM

hehehehhe... makasih banget sobat atas masukannya. jujur, waktu aq nulis artikel ini, aq lupa ma bahasa latin dari kata stek... makasih..... barakallah...

Powered by Blogger.
Loading...

Blog Archive

Followers

OUR FACEBOOK

Sponsor Blog

Site Info

Copyright © 2012 Makalah Dunia ModernTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.