Seputar Ayat Sajdah

Ada beberapa ahli yang telah menulis tentang permasalahan yang erat kaitannya dengan ayat sajdah baik dari segi penafsiran, adab bacaan sampai tinjauan hukum yang berkaitan di dalamnya. Walau demikian banyak khazanah kitab tafsir, ‘ulum al-Qur’an ataupun fiqh sekalipun tampaknya pembahasan ayat-ayat sajdah tidak menjadi suatu kajian yang banyak ditulis secara komprehensif. Oleh karena itu telaah pustaka sebagai telaah (kajian) awal penelitian masih banyak terfokus pada rujukan buku yang membahas tentang sujud tilawah yang berkaitan dengan adab membaca al-Qur’an.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa penelitian ini membahas penafsiran tentang ayat-ayat sajdah dalam al-Qur’an menurut pandangan al-Alusi dalam penafsiran Ruh al-Ma’ani. Sebagai gambaran awal, dalam menafsirkan Q.S. al-A’raf: 206 yang merupakan urutan pertama ayat sajdah dalam mushaf usmani, al-Alusi memberikan penjelasan tentang anjuran melakukan sujud tilawah dengan tidak lupa mengemukakan beberapa pendapat ulama sebelumnya dan juga permasalahan terkait lainnya. Dalam penafsirannya al-Alusi begitu runtut menerangkan apa saja yang terkait dengan ayat sajdah termasuk adanya anjuran untuk melakukan sujud tilawah pada saat membaca atau mendenggar ayat sajdah.
Mayoritas buku-buku yang menyinggung tentang permasalahan sujud tilawah untuk ayat sajdah merupakan buku-buku yang membahas tentang adab atau etika dalam membaca al-Qur’an. Imam al-Nawawy yang menulis buku al-Tibyan fi Adab Hamli al-Qur’an menghususkan bab kelima dan keenam tentang adab menjaga dan memuliakan membaca al-Qur’an. Dalam kitab ini hanya menekankan pada pelaksanaan sujud tilawah seperti halnya dibahas oleh ulama’ fiqh. Hujjatul Islam al-Ghazali yang merupakan pengarang kitab Ihya ‘Ulum al-Din membahas secara khusus adab membaca al-Qur’an dalam sub bahasannya yang berjudul Adab Tilawah al-Qur’an. Dalam kitab ini al-Ghazali menjelaskan bahwa melakukan sujud tilawah untuk ayat sajdah merupakan adab lahiriyah dalam membaca al-Qur’an dengan tujuan untuk memelihara dan memperhatikan hak al-Qur’an. Buku lain yang sedikitnya memberikan penjelasan tentang ayat sajdah berkenaan dengan adab membaca al-Qur’an adalah karya Miftah Faridl dan Syihabuddin. Buku ini memberikan keterangan yang diambil dari kitab Fiqh Sunnah dan al-Tibyan, sehingga ada kesan bahwa buku ini merupakan ringkasan dari kedua kitab tersebut.
Selain dari buku-buku tersebut yang berkaitan dengan adab pembacaan al-Qur’an, Sayyid Sabiq dalam karyanya Fiqh Sunnah telah membahas dengan rinci pelaksanaan sujud tilawah dikaitkan dengan ayat sajdah. Pembahsan ini tentu saja sangat kental dengan nuansa fiqhnya. Dalam memberikan penjelasan tentang keutamaan, hukum dan permasalahan lainnya. Sayyid Sabiq tidak lupa memberikan landasan yang berasal dari hadits-hadits Nabi SAW. Menurut pandangannya, ayat sajdah yang terdapat dalam al-Qur’an berjumlah 15 ayat dalam 14 surat yang berbeda. Tapi dalam hal ini tentu saja beliau tidak memberikan komentar ataupun pemaknaan terhadap ayat-ayat sajdah tersebut.
Adapun kitab tafsir yang memberikan batasan khusus dengan menyebutkan secara jelas ayat-ayat yang dimaksud sebagai ayat sajdah diantaranya adalah Ahkam al-Qur’an karya Ibn Arabi. Dalam menafsirkan Q.S. al-A’raf: 206, al-Arabi secara teks menyebutkan ayat-ayat mana saja yang termasuk dalam ayat sajdah dengan tidak lupa memberikan beberapa keterangan awal berbagai permasalahan yang terkait di dalamnya, walaupu demikian al-Arabi tidak membahas ataupun menafsirkan ayat-ayat sajdah secara sistematis.
Adapun kitab-kitab yang telah membahas langsung tentang kitab Ruh al-Ma’ani telah dilakukan al-Tantawi dalam kitabnya Manhaj al-Alusi fi Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al- ‘Azim wa al-Sab’u al-Masani. Beliau mengatakan, sebelum memasuki penafsiranya al-Alusi menyertakan keterangan-keterangan tentang asbab al-nuzul untuk kemudian mengambil makna yang terkandung di dalamnya melalui pendekatan sintesis antara zahir dan batin ayat dengan mengikutsertakan riwayat-riwayat baik dari hadits atau dari pendekatan sahabat dan tabi’in. Maka tidak mengherankan jika al-Alusi sangat selektif dalam memasukkan kisah-kisah Israiliyyat yang dipandang akan menyesatkan dalam penafsirannya. Kitab Manhaj karya al-Tahtawi ini secara panjang lebar mengupas tentang kitab Ruh al-Ma’ni karya al-Alusi. Dari beberapa tulisan dan penelitian yang telah dilakukan, penulis belum menemukan adanya penelitian yang secara khusus membahas tentang penafsiran ayat sajdah secara sistematis khususnya menurut penafsiran al-Alusi. Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh dalam penafsiran ayat sajdah tentu tidak hanya diperoleh dari kitab Ruh al-Ma’ani yang menjadi data primer dalam penelitian ini, namun tentu saja masih banyak diperlukan literatur lain yang dapat membantu pengkajian seperti kitab tafsir dan buku terikat lainnya.

0 komentar:

Powered by Blogger.

Blog Archive

Followers

OUR FACEBOOK

Sponsor Blog

Site Info

Copyright © 2012 Makalah Dunia ModernTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.