Grundrisse: sebuah pengantar singkat


Grundrisse: sebuah pengantar singkat

 (Hu)man fight for meaning and memory,
as often times,
power is where that desire go…
(anonymus)


Grundrisse ditulis Marx dalam kurun waktu 1857-1858. Tulisan ini begitu panjang, dan sempat ‘menghilang’, sampai akhirnya ditemukan kembali. Tulisan ini kemudian diberi judul Grundrisse oleh Marx-Engels-Lenin Institute otoritas politik Marxisme-Komunisme dengan judul Grundrisse, atau rough-draft. Diberi judul demikian karena tulisan ini sebetulnya terdiri dari 7 tulisan, yang membahas secara luas tema-tema ekonomi-politik. Karya ini dipandang oleh para ahli sebagai core-thinking yang ditemukan luas dalam karya penting Marx di tahun 1867, Das Kapital.
      Sebagai sebuah karya, Grundrisse adalah tulisan yang sifatnya melakukan analisis, tanpa harus dihadirkan kepada publik. Marx melakukannya untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan. Salah satu sebab karya ini diberi nama Grundrisse adalah karena tulisan yang lebih bercorak draft kasar, dimana diakui bahwa untuk membacanyapun melelahkan. Berbeda dari karyanya, yang lain seperti Das Kapital dimana pembaca diberi alur untuk membacanya.
      Yang dapat dibahas dalam tulisan ini tentunya adalah tema-tema ekonomi politik yang kemudian dikenal secara luas dalam Das Kapital (1867); A Contribution to the Critique of Political Economy (1859); Theories of Surplus Value (1861-1863); Wages, Prices, and Profit (1865). Tema-tema itu dapat dibahas dengan beberapa pilihan berikut[1]


1. Mengejar kredibilitas ilmiah konsep-konsep pokok “kritik atas kapitalisme”

Karl Marx was many things -- democratic and socialist revolutionary agitator and leader, journalist, philosopher -- and in his role as an economic theorist, he set out to answer that question.

Marx dikenal sebagai “prolific writer”. Kita dapat menemukan kebenaran ini ketika kita membaca Grundrisse. Mengapa demikian? Marx menggunakan semua konsep filsafat dan ilmu yang ada waktu itu persis untuk melawannya. Ia membahas secara luas konsep dan pemikiran Hegel, David Ricardo, termasuk Proudhon, justru untuk memunculkan gagasannya sendiri[2], dan kemudian melawan gagasan mereka.

David Ricardo
Ketika membahas David Ricardo, Marx memulai proses reasoning-nya dengan menanggalkan sifat agitasi-nya. Dia mulai justru dengan bersikap fair terhadap David Ricardo yang secara ilmiah telah memunculkan gagasan konsep awal kapitalisme.
      Untuk David Ricardo sendiri, perlulah ditegaskan, bahwa ia (bersama Adam Smith) sebenarnya melakukan kritik habis-habisan atas ekonomi merkantilis dan ekstraktif yang waktu itu amat lekat dengan sifat kekuasaan absolut. Maka perlulah untuk secara hati-hati melihat konteks karya David Ricardo (dan Adam Smith), dimana karya mereka justru bermakna pemajuan peran kelas menengah dan perlawanan terhadap ekonomi rente.
      Marx melihat rangkaian pemikiran David Ricardo bukan hanya sebagai suatu kritik, melainkan suatu ‘perjalanan sejarah’. Dengan ini, ia mulai meletakkan kritiknya terhadap kapitalisme. Karena merupakan ‘perjalanan sejarah’, maka ia mencermati bahwa yang terjadi adalah sebuah ‘hubungan komoditi’. Hubungan komoditi ini bercorak individualistis dan eksploitatif. Dalam rangkaian kritik ini, ada suatu hubungan dengan gagasan Marx mengenai ‘alienasi’ yang menjadi corak argumen Marx yang terkait dengan kritik terhadap Hegel.
      Marx membahas bagaimana industrialisasi dan perdagagan dunia dibiayai oleh apa yang disebut dengan “labour-money”. Ini juga berhubungan dengan gagasannya soal value. Keduanya dapat diringkaskan sebagai berikut.
     

      Dalam kritik ini, ke’ilmiah’an Marx nampak dalam model analisis di atas (yang banyak berulang dalam karya lain). Dalam Grundrisse, kemudian, yang diamati oleh banyak pihak, kekuatan analisis ini adalah pada analisis mengenai kapitalisme itu sendiri –artinya, kita tidak akan dapat menemukan jawaban mengenai soal keadilan, tidak juga kita akan menemukan jawaban mengenai bagaimana kapitalisme itu kemudian berevolusi, tetapi kita akan menemukan bagaimana komoditi itu menjadi inti dari perputaran kapitalisme. Komoditi mengubah segala sesuatu yang memunculkan nilai menjadi ‘sekedar’ proses tukar-menukar. 


Hegel
Bisa dikatakan kritik terhadap kapitalisme ini juga tidak lepas dari kegigihan Marx melawan Hegel –amat gigihnya hingga Marx secara tidak sadar justru mengulang-ulang metode Hegel, diantaranya dialektika (yang kemudian penting dalam gagasan Materialisme Historis). Kita menemukan proses “Stravinsky atas Pergolesi”.
       Karena rentang kaitan Marx-Hegel ini amat luas dan kompleks, saya ambil beberapa yang menonjol –dan agak simplistik. Hegel memaparkan (dalam Logic), misalnya, mengenai abstraksi dalam filsafat, yang murni, indeterminate being, yang menjadi realitas paling dasar. Bagi Marx, hal ini menjelaskan filsafat kelas borjuis. Di dalam realitas itu, sebenarnya, ada dialektika (lagi-lagi Hegel) antara ‘produksi dan konsumsi’, kunci dari gagasan komoditi.[3] Realitas Hegel sebenarnya memunculkan produksi material yang menjadi bentuk eksistensi manusia. Konsumsi tidak mungkin tanpa produksi.
       Selanjutnya, Marx tidak berhenti ‘memakai’ Hegel, tetapi memunculkan gagasannya. Produksi yang dimaksud adalah pertukaran dalam nilai, yang menjadi proses (akumulasi) modal. Disinilah terjadi proses eksploitasi. Eksploitasi ini dijelaskan dengan model paparan dalam tanggapannya terhadap David Ricardo.
      Di lain sisi, ia menjelaskan bagaimana penjelasan Hegel soal roh adalah bagian dari proses kelas borjuis, dimana dalam sejarah menjadi pembenaran atas bentuk eksploitasi di atas. Apa yang absolut sebenarnya adalah kondisional. “For Marx, the absolute is itself conditional. Only when the bariers to human productivity imposed by capitalist relations are broken and cast off do the condition exist, he says, when one may speak of humanity entering ‘the absolute movement of becoming’. (Martin Nicolaus, 1973).[4]
      Selanjutnya, dari Hegel, Marx berusaha mati-matian membuktikan bahwa filsafat Hegel adalah bagian dari “suprastruktur” dan “borjuasi”, dan kemudian ia menjelaskan hakekat dialektika yang merupakan hakekat penindasan. Begitulah seterusnya argumen itu berjalan.


Proudhon
Proudhon dikenal sebagai seorang sosialis klasik (“belum ilmiah”, menurut Marx), yang sempat juga menjadi mentor Marx. Proudhon hidup amat tidak makmur, sekaligus menjadi seorang pemikir. Ia mempunyai pandangan yang ikonoklastik mengenai, salah satunya, hak milik. Ia juga bertindak sebagai penggerak dengan gagasannya itu.
      Marx melakukan kritiknya terhadap Proudhon dalam The Poverty of Philosophy (1847) karena gagasan “sosialis”-nya tidaklah ilmiah, dan sekedarnya saja dinalar.  Lebih lanjut, Dalam Grundisse, ia menjelaskan bagaimana gagasan emansipasi Proudhon jatuh dalam jebakan “idola gua”. Proudhon tidak membayangkan bahwa bentuk kehidupan lain adalah mungkin. Proudhon menggagas bahwa suatu saat kaum proletar akan masuk ke dalam kehidupan makmur seperti yang dinikmati oleh kelompok borjuis.
      Marx memandang bahwa “realita eksploitasi” yang terwujud dalam “relasi komoditi” akan menghentikan usaha emansipasi itu. Proudhon tidak berusaha melawan “relasi komooditi” itu. Dengan ini, Proudhon tidaklah se-radikal yang ia proklamirkan sendiri. Proudhon “diam-diam menyetujui kerangka berpikir David Ricardo”.
      “Ilmiah” itu, misalnya, ia cetuskan dengan usahanya untuk membubarkan sistem keuangan yang amat eksploitatif itu dengan menetapkan sistem mata uang yang didasarkan pada “waktu kerja” (labour time). Hal ini hendak menolak pasar. Pasar adalah kehidupan borjuis itu sendiri, “…[n]ot knowing that this very market-place is the real foundation of the bourgeois liberty and equality they wish to perfect. The opponents of the bourgeois radicals among the bourgeoisie, namely the political economist, have a sounder understanding of this particular question to the extent that they understand what are the real relations between bourgeois freedom and the market-place.”  (Martin Nicolaus, 1973).


2. paparan ekonomi politik: ringaksan
Boleh dibilang Grundrisse ini adalah sebuah bahasan menyeluruh yang tidak otomotis komprehensif, tetapi memang bermaksud menyeluruh. Ini bisa dibandingkan misalnya dengan karya-karya John Maynard Keynes di luar “The General Theory of Employment, Interest, and Money” namun tetap mendukung karya The General Theory itu. Grundrisse adalah karya di luar Das Kapital, tetapi tetaplah mendukung pokok-pokok bahasan dalam Das Kapital.
      Grundrisse bermaksud membahas tema-tema capital, landed property, wage labour, the state, international trade, dan world market. Pada kenyataannya, ketika menulis Grundrisse, Marx sadar sepenuhnya bahwa bahan yang sama inilah yang ditulisnya secara berbeda (yang kemudian) untuk menjadi Das Kapital.
      Sebagaimana dipaparkan secara singkat di atas, paparan dalam Grundrisse ini amat dipengaruhi oleh Logic-nya Hegel. Dengan kerangka itu, Marx kemudian ‘melayang-layang’ dengan paparan mengenai “konsumsi dan produksi” sebagai suatu dialektika. Paparan ini sebenarnya hendak menjelaskan “uang” sebagai suatu wujud nilai dalam dialektika itu. Uang kemudian menjadi penilain komoditi, dan dengan ini menjadi modus gradasi nilai manusia.
      Penjelasan ini didukung oleh Marx dengan bacaannya yang amat tekun atas media yang ada saat itu. The Economist[5], misalnya, menjadi salah satu rujukan bacaan Marx. Sayang, atau untung, waktu itu corak perdagangan memang masih amat sangat merkantilis dan ekstraktif, yang hal ini dipraktekkan kerajaan-kerajaan besar seperti Prussia dan Perancis. Ketika David Ricardo dan Adam Smith memunculkan gagasan yang sifatnya mendorong private enterprise, hal ini dimengerti sebagai bentuk sofistikasi dari ekonomi yang merkantilis dan ekstraktif. Melihat ekonomi dan kelompok borjuasi dan penguasa waktu itu, menjadi amat kuat analisis Marx terhadap prospek industri dan perdagangan waktu itu.
      Hal ini kemudian jelas dalam bagian tulisannya mengenai modal (capital). Modal ini adalah proses akumulasi modal dan sofistikasi dari kekuasaan borjuasi dan penguasa. Modal ini menjadi suatu indikator bagaimana borjuasi dan penguasa memanfaatkan teori surplus untuk kepentingan profit.
      Dalam soal surplus, tenaga kerja menjadi satu indikator utama. Pekerjaan yang dilakukan yang dilihat bisa diselesaikan dalam waktu tertentu, oleh jumlah orang tertentu, kemudian dipaksa untuk melebihi oleh waktu yang sebenarnya diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan, dan juga dengan jumlah yang ditentukan. Akibatnya, tenaga untuk kerja dihargai lebih murah. (“Every Individual who has arrived at maturity… may, with perfect propriety, be viewed as a machine which it has cost 20 years of assidous attention, and the expenditure of a considerable capital to construct  p.615)  
      End-point dari proses pemurahan buruh itu adalah peningkatan modal. Modal menjadi ukuran perjalanan sejarah. Dalam perdagangan internasional, dinamika modal adalah dinamika kekuasaan.


3. catatan
Marx mempunyai energi yang amat besar yang ia dedikasikan benar-benar untuk meruntuhkan Hegel. Marx seolah melihat bahwa gagasan Hegel itu seperti house of cards, yang begitu konsisten dari atas sampai bawah, tetapi jika diambil satu kartu saja, habislah pondasinya. Inilah yang Marx lakukan dengan mengedepankan konsep “superstruktur” yang ia dapati sebagai realitas yang dimunculkan oleh Hegel –sedangkan sebenarnya yang menjadi kenyataan adalah dialektika yang sifatnya material (‘materialisme dialektis’).
      Dalam perjalan gagasan itu, Marx justru melakukan sebuah proses yang mirip Hegel. Ia menyusun suatu gagasan yang amat mengejar “totalitas”. Dalam pada ini, “totalitas” Marx menjadi sebuah historisisme, dan deterministik. Mengapa demikian? Ini justru karena Marx menimbang bahwa “ilmiah” itu berarti totalitas. Untuk membongkar David Ricardo dan Adam Smith secara “ilmiah”, gagasan Marx harus mempunyai end-point –karena David Ricardo dan Adam Smith bergerak dalam kerangka indikator, bukan totalitas.
      Marx menggunakan semua bahan yang ada untuk membuktikan pernyataan “ilmiah”-nya, termasuk data-data ekonomi dari media. Yang sebenarnya Marx sadari, namun tidak menjadi paparan pokok, adalah kapitalisme mempunyai proses yang tidak monolitik (pen. dengan  itu mempunyai potensi memperbaharui diri.) Ia menyebut, misalnya Amerika Serikat, dengan model ekonomi yeoman dan commonwealth yang coraknya berbeda tajam dari yang terjadi di Prussia dan Jerman, serta berbeda dari urbanisasi kota-kota di Inggris.
      Perbedaan ini, dalam kenyataannya (:tidak dalam tulisan Marx), ada pada, misalnya, model credit economy yang dikembangkan oleh Menteri Keuangan AS pertama, Alexander Hamilton. Hamilton tidak ragu-ragu ketika ia menyusun suatu ‘sindikasi’ antara kredit nasional dengan industrialis. Sindikasi ini mulanya ditolak oleh Kongres negara AS yang waktu itu masih muda (yang juga menjadi kritik David Hume). Dengan kegigihan Hamilton, model kredit nasional dengan industri (dan perdagangan) membuat AS dengan cepat membayar hutang-hutan perangnya, dan dengan cepat menyamai ekonomi Inggris. Model kredit nasional ini adalah cikal bakal dari model Treasury dan Bank Sentral.
      Hal ini persis dengan model kredit yang dikembangkan di Perancis, yang sifatnya akumulatif dan ekstraktif. Kredit di Perancis ini tidak bisa dikontrol oleh otoritas, dan lebih jauh menjadi pencekik ekonomi masyarakat. Pajak, pungutan, hak milik tanah, perdagangan dunia, semuanya diperlakukan sebagai fiefdom. Sekali lagi, ini menguatkan analisis (dan prejudice) Marx atas apa yang disebut dengan kapitalisme.

Reference:
1.      Marx, Karl, Grundrisse, Translation and Foreword Martin Nicolaus 1973
2.      Uchida, Hiroshi (1988) , Marx’s Grundrisse and Hegel’s Logic, (excerpt) Routledge
           


[1] Dalam presentasi ini, saya menyertakan ringkasan yang saya buat dari diktat “Filsafat Sosial Jerman” karya Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ.
[2] Dalam kehidupan nyata, praktek ini termasuk yang paling menarik untuk diamati. Pemikir Neocon AS, misalnya, sebagian besar justru berasal dari “pemikir kiri”. Irving Kristol dan Jeanne Kirkpatrick, menyebut diantaranya, adalah pemikir kiri yang mempunyai appetite atas corak ‘totalitas’ dari suatu pemikiran dan praktek politik. Ketika menjadi ‘kanan’, corak ‘totalitas’ itu menjadi pertalian yang amat tepat berpadu dengan corak neoconservatisme. Corak ‘totalitas’ ini tampak dalam cirinya yang purism, simplistik, tidak toleran, dan ‘berbau’ historisis.

Contoh lain, yang tidak peyoratif, misalnya dapat ditemukan dalam karya musik. Stravinsky, komposer romantik, membuat gubahan yang sebenarnya menggunakan karya Pergolesi, dan menghasilkan ‘karya baru’ yang tidak kalah otentik, yaitu balet Pulcinella (tahun 1919-1920). Pemusik rap dan hip-hop AS sekarang ini banyak menggunakan pola yang sama, misalnya Jay-Z yang menggunakan karya Linkin’ Park dalam lagunya.
[3] Gagasan dialektika ini penting dalam menjelaskan bahwa telah terjadi kontradiksi inheren dalam kapitalisme. Dalam proses gagasan “sosialisme ilmiah”, Marx beargumen bahwa kontradiksi inilah yang akan membawa pada terciptanya masyarakat sosialis, suatu gagasan dengan sifat historisis yang amat kental. Karl Popper, misalnya, habis-habisan menyerang gaya berargumen historisis, yang dijaman Popper amat lekat dengan praktek tiran, waktu itu, Hitler dan kemudian Stalin.
[4] Gagasan ini konsisten dengan karya Marx sebelumnya, yaitu Theses on Feuerbach (1845), di antaranya “Feuerbach resolves the essence of religion into the essence of man. But, the essence of man is not an abstraction inherent in each particular individual. The real nature of man is the totality of social relations.
[5] The Economist sekarang ini tetap menjadi majalah ekonomi-politik yang penting

0 komentar:

Powered by Blogger.

Blog Archive

Followers

OUR FACEBOOK

Sponsor Blog

Site Info

Copyright © 2012 Makalah Dunia ModernTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.